Selasa, 05 April 2011

CERPEN dul abdul rahman: M A N D U L

MANDUL


Cerpen: dul abdul rahman

“Lelaki tidak pernah mandul.” Selalu begitu ucapan Basir setiap kali ia ketemu denganku. Nadanya begitu provokatif seolah memecahkan gendang kelaki-lakianku. Entah, ia bermaksud menyemangati atau menyudutkan aku. Tetapi tetap saja wajahku bersemu merah.
“Jangan tersinggung dulu Bur, kalimat itu hanya kukutip dari kakekku.”
“Lalu?”
“Ya, aku setuju saja. Lihat sendiri kan, aku berumah tangga dengan Dinny selama tujuh tahun tapi tak punya anak. Dinny selalu menuduhku mandul. Tapi setelah aku menikah lagi dengan Hesty akhirnya aku bisa punya anak.”
“Maksudmu, kau menyuruhku menceraikan isteriku lalu menikah lagi?”
“Tak perlu Bur, bisa kok poligami.” Nada Basir semakin provokatif seakan ingin memproklamirkan bahwa dirinya benar-benar pejantan tangguh.
Meski pernyataan-pernyataan Basir hanya kuanggap angin lalu. Tetapi tetap saja berarak di langit-langit akalku. Lalu menjelma hujan, membasahi hatiku, membasahi hati isteriku, membasahi kerinduan kami akan hadirnya buah hati perekat tali kasih.
“Bagaimana Bur? Lelaki boleh kok punya lebih dari satu isteri.” Basir meruntuhkan lamunanku.
“Kata siapa?”
“Kata laki-laki.”
“Kalau kata perempuan?” Sergahku.
Basir hanya tergeragap. Walau kami sesama lelaki dan bersahabat sejak masih kuliah dulu, tetapi banyak pendapatnya tentang perempuan yang aku kurang setuju. Ia memang begitu mudah meluluhkan hati perempuan. Perempuan manasih yang tidak tertarik pada Basir. Selain wajah cakep, pun harta warisannya tidak akan habis dimakan sampai tujuh turunan.
Aku memang tidak pernah setuju dengan omongan Basir. Buaya darat yang selalu lupa daratan. Yang menganggap perempuan hanyalah tempat persinggahan yang bisa didatangi kalau rindu menggoda, dan ditinggalkan pergi begitu saja kalau rasa bosan datang menyergap. Tidak. Aku tidak akan pergi meninggalkan isteriku walau sementara, apalagi harus menceraikannya. “Bedebah Basir, buaya darat.” Umpatku dalam hati.
Tak mungkin aku menyakiti isteriku. Aku mencintainya. Teramat mencintainya. Tak sia-sia rasanya aku mengejar-ngejarnya selama dua tahun demi mendapatkan sekerat cintanya yang menurutku tidak akan basi dihembus waktu yang beraroma perselingkuhan yang saat ini makin trend.
Safitri. Isteriku tercinta. Memang cantik luar dalam. Blasteran Arab-Ambon. Meski sedikit berkulit gelap tapi manisnya melebihi madu Arab. Soal kesetiaan jangan ditanya lagi. Selama sepuluh tahun kami berumah tangga, tak pernah aku melihat mendung di wajahnya. Tak pernah aku menatap bola api di matanya. Tak pernah ada resah, apalagi keluh kesah yang menghiasi bibirnya yang selalu basah. Isteriku memang bukan sembarang perempuan. Senyumnya kembang segala bunga. Ia tetesan dari taman surga, taman dari segala harum bunga.
“Bang! Kita harus selalu bersabar ya, boleh jadi Allah belum menitipkan buah hati kepada kita berdua karena Dia masih ingin menguji kesabaran dan kesetiaan kita.” Isteriku selalu meredakan kegelisahanku dengan nadanya serupa cericit burung di pagi hari.
“Terima kasih sayang, betapa kau begitu berarti buatku.” Aku terus membelai-belai rambutnya yang semerbak. Sesekali aku menutup bibirnya dengan bibirku. Protes cecak di dinding yang ber-ck..ck..ck tak aku hiraukan. Peduli amat. Kami sudah menikah kok. Sejak menikah, memang aku tak pernah membiarkan malam berlalu tanpa bait-bait kemesraan. Aku tak pernah membiarkan pagi menyapa tanpa lakon-lakon asmaradana. Tetapi tetap saja cecak bertingkah di dinding seolah-olah bersekutu dengan Basir menertawaiku. “Payah Bur, menanam terus tiap hari, tapi tak pernah ada yang tumbuh. Dasar petani mandul.”
…
Yang aku kurang sependapat dengan Basir hanyalah soal perempuan saja. Meski aku sering mengutuknya karena komentar-komentarnya tentang perempuan yang terlalu menyudutkan, apalagi aku yang sangat mencintai dan menghormati sosok ibuku dan isteriku. Terkadang aku melihat komentar-komentar tersebut ada pula sisi realnya, cuma aku tetap mengedepankan sisi kesetiaan. Aku memang alumni Fakultas Sastra, sedangkan Basir alumni Fakultas Ekonomi. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa Fakultas Sastra itu lebih “setia” daripada Fakultas Ekonomi.
Sebenarnya aku cukup mengagumi sosok Basir. Meski masih muda, tetapi jiwa entrepreneur-nya sungguh luar biasa. Usaha yang dikelolanya berkembang pesat. Ia juga sangat memperhatikan kesejahteraan para karyawannya. Ia pun sosok yang sangat merakyat di mata karyawan. Dan karyawannya yang teristimewa tentu saja adalah aku. Aku adalah tangan kanan di perusahaannya. Pertemanan kami sejak kuliah tak pernah berubah. Kami tetap saja menyapa dengan nama masing-masing tanpa embel-embel kata pak, kecuali dalam pertemuan-pertemuan formal. Dan gelarnya sebagai buaya darat cap kampus yang pernah kusematkan padanya sewaktu kuliah dulu sepertinya tetap lestari. Tetapi yang kukagumi ia tak pernah macam-macam pada karyawannya. Padahal aku tahu, ia punya sekertaris yang masih muda dan cantik sekaligus primadona di kantor tersebut, namanya Indri. Aku juga mengaguminya, hanya sebatas itu.
“Begitulah aku Bur. Sejak dulu memang prinsipku begitu, ya lelaki tak pernah mandul.” Basir mulai lagi memprovokasi. Aku hanya terdiam.
“Begini Bur, supaya kau tak berpikiran macam-macam tentang kakekku, akan kujelaskan makna kalimat tersebut. Kakekku selalu mengucapkan kalimat ‘lelaki tidak pernah mandul’ hanya untuk menyemangatiku. Maksudnya kita sebagai lelaki harus terus dan terus berusaha, pantang menyerah. Laki-laki adalah tumpuan keluarga. Dan aku pikir berkat semangat dari kakekku itu pulalah aku bisa seperti sekarang ini.” Kali ini kata-kata Basir begitu bijak dan menyemangati.
“Tetapi kau selalu mengaitkan filosofi itu kepada perempuan.” Ujarku seperti tidak percaya seratus persen omongan Basir.
“Apa salahnya Bur? Bukankah salah satu alasan utama menikah untuk mendapatkan keturunan? Coba bayangkan Bur, kalau nanti kau jadi kakek-kakek, siapa yang akan mengurusimu. Ponakan? Saudara? Paling-paling mereka hanya menginginkan hartamu.”
Basir beranjak pergi setelah menghunjamkan kata-katanya di dadaku. Dalam kesendirian aku hanya termangu. Terpekur. Sejurus kemudian pandanganku gelap, tetapi sekilas ada seberkas cahaya yang diam-diam memantul di dinding-dinding kalbuku. Adapula desiran angin perlahan-lahan menyejukkan batinku lalu menjelma jadi tangisan bayi yang teramat aku rindukan.
Karena aku tak mau lagi Basir terus mengaduk-aduk perasaanku dan menggerogoti kesetiaanku pada isteriku. Akhirnya aku bermufakat dengan isteriku untuk mengadopsi anak.
“Aku terserah Abang saja, aku sangat percaya dan sayang sama Abang.” Ujarnya sambil memamerkan senyum simpulnya yang selalu membuat perasaanku berdesir-desir.
“Demi kau yang teramat kucinta, apapun bisa kulakukan yang penting halal.” Aku menarik dan memeluk tubuh isteriku. Cecak yang selalu bertingkah setiap aku bermesraan dengan isteriku entah kemana. Mungkin ia telah bersepakat dengan Basir untuk tidak menertawaiku lagi. Atau mungkin ia mengira aku sudah masuk dalam perangkapnya. Bah!
“Tapi Bang, aku ingin kita punya anak sepasang ya, laki dan perempuan.” Isteriku nampak bahagia sekali, seolah bayi sudah ada dalam gendongannya. Akh!
Basir begitu bersemangat ketika kuceritakan bahwa aku dan isteriku bersepakat untuk mengadopsi anak. Setiap ada permasalahan memang selalu aku terbuka padanya. Ia pun selalu terbuka padaku.
“Ok Bur, aku mengagumi kesetiaanmu pada isteri, sungguh beruntung isterimu bersuamikan denganmu.” Basir mengangguk-angguk seolah-olah apa yang kuungkapkan padanya adalah sebuah proyek besar.
“Aku sangat mencintai Safitri, Basir. Aku tak akan pernah meninggalkannya.”
Basir terus mengangguk-angguk seolah-olah ia pemenang tender dalam sebuah proyek.
“Baik…baik…Bur. Tapi ingat, tak boleh asal mengadopsi anak. Anak yang diadopsi harus ada pertalian darah denganmu.”
“Tolong aku ya Basir, yang penting aku dan isteriku bisa punya anak, walau hanya anak adopsi.”
“Baik! Jangan khawatir Bur, serahkan padaku. Aku akan mencarikan jalan terbaik.” Basir melipat map-nya seperti dana proyek sudah cair. Selanjutnya kami berdua hanya bersitatap. Lalu tersenyum. Hanya kami berdua yang bisa memaknai senyuman itu.
…
Bayi perempuan itu berhidung mancung. Berkulit putih. Bermata tajam. Berambut lurus. Dalam tangisnya ia tersenyum teramat ikhlas padaku.
“Bang! Anak kita cantik ya, pintar sekali abang mencari anak adopsi ya, akh aku tak akan pernah bilang lagi anak adopsi, anak kandung ya.” Isteriku terus menggendong bayi mungil itu. Laiknya seorang ibu, ia terus berkicau dan berkicau. Tak pernah kulihat sebelumnya isteriku sebahagia ini.
“Mmm…lihat Bang! Hidung dan matanya mirip sekali hidung dan mata Abang.” Isteriku mengecup kening bayi itu sambil melirikku mesra sekali.
Aku tergeragap. Namun cepat aku menguasai keadaan. Aku tersenyum. Lalu mendekat dan mencium kening isteriku. Mataku basah. Mata isteriku juga basah.
Isteriku tidak mengetahui asal-usul bayi tersebut. Menurut Basir, sebaiknya seorang ibu tidak usah mengetahui asal-usul bayi yang diadopsi, karena bisa saja rasa sayang ibu berkurang apabila mengetahui siapa sebenarnya bayi tersebut.
Anak yang ada dalam gendongan isteriku sebenarnya adalah anak dari teman sekantorku. Indri memang sudah menikah dengan seorang pria beristeri. Ia rela dijadikan isteri kedua. Sayang, takdir berkata lain. Sesaat setelah melahirkan anaknya, ia meninggal dunia. Seluruh teman-teman sekantor Indri sangat berduka cita. Dan entah, akulah yang merasa paling bersedih atas kepergiannya.
Bayi itu tumbuh sehat dan lucu. Isteriku sangat mencintainya. Terang saja aku teramat bahagia. “Abang! Sejak dulu kan aku pingin sekali punya sepasang anak.”
“Isteriku sayang, kalau aku sejak dulu ingin punya sebelas anak, satu kesebelasanlah.” Ujarku setengah menggodanya.
“Kalau begitu Abang boleh menikah lagi.” Ujar isteriku cemberut sambil membelakangiku.
“Sayangku! Aku hanya menginginkan anak dari rahimmu.”
Isteriku berbalik kearahku. Matanya berkaca-kaca. Rupanya ia terluka dengan kata-kataku yang seolah-olah menagih anak dari rahimnya. “Aku ikhlas Abang berpoligami.” Hujan semakin membadai di matanya.
Aku memeluk isteriku. “Sayangku, untuk apa aku berpoligami? Aku sudah punya isteri yang cantik dan setia, pun punya seorang anak perempuan yang cantik nan jelita.”
“Tapi bukan darah daging sendiri?”
“Sayangku, yang namanya anak tetap anak, tak perduli anak apa namanya. Hakekatnya sama, pertanggungjawaban dihadapan Allah tetap sama.”
Isteriku terus terisak di pangkuanku.”Abang adalah sosok yang sempurna buatku, aku sebenarnya tak pernah rela kalau Abang berpoligami, aku cuma ingin mengetes kesetiaan Abang.”
Sekali lagi aku tergeragap. Cepat aku menguasai keadaan. Aku terus memeluk isteriku. Aku teramat bahagia. Aku mengecup keningnya berkali-kali. Mataku basah. Lalu mataku semakin basah saja ketika aku mengecup kening putriku, aku terkenang akan ibu kandungnya yang telah meninggal dunia, isteriku sendiri.

Kendari-Makassar, 2006

1. Cerpen ”MANDUL” dimuat Harian FAJAR, Ahad 18 FEBRUARI 2007

POHON-POHON RINDU dul abdul rahman (BAB 8. CINTA DI BUKIT GOJENG)

8. CINTA DI BUKIT GOJENG
Salah satu tempat bersejarah yang akan dikunjungi anggota Kompita adalah Taman Purbakala Batu Pakke Gojeng. Taman Purbakala itu terletak di sebelah barat Kota Balanipa, ibukota Kabupaten Sinjai. Tepatnya di Bukit Gojeng dengan ketinggian 85 meter dari permukaan laut. Untuk mencapai puncak, pengunjung harus menyusuri kurang lebih 182 anak tangga. Dari puncak Gojeng itulah, para pengunjung bisa menyaksikan deretan sembilan pulau yang menyembul dari dasar laut, seperti sembilan jelmaan bidadari yang siap menuju alam kahyangan setelah menikmati indahnya panorama Kota Sinjai dan sekitarnya, Sungai Tangka, dan Teluk Bone. Para pelancong tak sah rasanya bila berkunjung ke Sinjai tanpa mampir dulu di Bukit Gojeng. Di puncak Gojeng ini pula, para pelancong bisa menikmati panorama kota Balanipa. Kota Balanipa yang tidak begitu besar tetapi nampak asri serupa bidadari cantik nan jelita mematung di bibir Teluk Bone ditemani sembilan bidadari kecil yang menggigil kedinginan di tengah lautan.

Deretan pulau-pulau itulah yang dikenal dengan Pulau Sembilan. Pulau-pulau Sembilan terdiri dari 9 buah pulau yakni Pulau Burungloe, Pulau Liang-liang, Pulau Kambuno, Pulau Kodingare, Pulau Batanglampe, Pulau Katingdoang, Pulau Kanalo 1, Pulau Kanalo 2, dan Pulau Larearea. Kesembilan pulau-pulau tersebut dianggap keramat oleh para nelayan dan penduduk setempat. Konon bila nelayan memasuki kawasan Pulau-pulau Sembilan tanpa ‘permisi’ dulu maka perahu mereka akan ditenggelamkan oleh penunggu kawasan Pulau-pulau Sembilan. Entah benar atau tidak.

Aku punya pengalaman melewati Pulau Sembilan yang terkenal angker itu. Saat liburan penaikan kelas dari kelas satu ke kelas dua di SMU Bikeru, aku berlibur ke Kolaka ke rumah keluargaku selama sepuluh hari. Saat itu pelabuhan penyeberangan Bajoe(Bone)-Kolaka di Kabupaten Bone belum berfungsi. Pun Pelabuhan Larea-rea yang sekarang ini sedang dibangun waktu itu belum ada kabar beritanya. Jadilah aku berangkat ke Kolaka lewat rute Sinjai-Kolaka dengan kapal tradisonal yang digerakkan oleh motor mesin dan layar. Saat itu ada dua kapal yang akan berangkat, tapi cuma satu kapal yang berfungsi mesinnya dengan baik, yang satunya rusak dan akan diperbaiki di Kolaka. Jadi kapal yang bagus menarik kapal yang rusak dengan menggunakan tali. Karena kapal yang bagus sudah penuh muatan, aku bersama dengan sepupuku yang bernama Tekko serta seorang nakhoda kapal yang bernama Rustam berada di kapal yang rusak tersebut. Kebetulan kapal berangkat di malam hari dan harus melewati kawasan Pulau-pulau Sembilan. Saat melewati Pulau-pulau Sembilan, Rustam membangunkan aku dan Tekko untuk membuang telur yang diperuntukkan untuk penjaga kawasan yang angker itu. Hanya Tekko yang bangun, aku sendiri yang baru pertama kali naik kapal layar kala itu masih mabuk oleh hempasan gelombang.

“Ombaknya belum seberapa lah.” Rustam berkata padaku dengan logat Malaysia, ia memang pernah jadi TKI di Malaysia sebelum jadi nakhoda kapal. Meski ombaknya biasa-biasa saja, aku sudah muntah-muntah.

“Bangun! Ini kawasan Pulau Sembilan yang keramat.” Aku tak perduli dengan omongan Rustam dan Tekko meski omongannya bernada memaksa.

Besoknya kami bertiga kaget bukan main, karena tali yang digunakan untuk menarik kapal yang kami tumpangi terputus di tengah jalan dan tak seorangpun yang mengetahuinya. Rustam dan Tekko sangat ketakutan. Mereka menganggap akulah yang menjadi penyebabnya. Penunggu kawasan Pulau-pulau Sembilan murka karena aku tidak bangun membuang telur padahal aku baru pertama kali melewati kawasan itu. Jadilah aku yang menenankan Tekko dan Rustam. Meski aku juga dilanda kecemasan yang amat sangat, tapi sebagai orang beriman, aku lebih percaya pada Allah Azza Wajalla daripada penunggu Pulau Sembilan itu. Aku terus berdoa semoga kami beroleh selamat dan berharap ada kapal nelayan yang lewat di sekitar kami.

Setelah kami terombang-ambing selama satu hari di tengah lautan barulah kemudian bertemu dengan kapal yang menarik kami semula. Nakhoda kapal yang menarik kami mengaku tak tahu kalau tali penarik itu putus di tengah jalan. Kulihat semua penumpang komat-kamit, mungkin membaca doa atau mantra, ada juga yang memercik air ke lautan serupa Puang Sanro memercik air di Sungai Bejo. Mereka yakin yang memutuskan tali itu pastilah penjaga Pulau Sembilan. Aku tenang-tenang saja karena sudah bertemu kembali dengan kapal yang menarik kami. Kesimpulanku, tali itu putus karena memang talinya sudah tua. Kalau tidak ada yang tahu dan merasakan ketika tali putus karena memang kejadiannya pada tengah malam di saat semua penumpang sedang tidur lelap. Nakhoda kapal pun mungkin agak mengantuk dan tidak memperhatikan keadaan kapal.

“Untung saja penghuni Pulau Sembilan tidak menenggelamkan kapal kita.”

Kudengar seseorang memberi komentar. Karena sudah menguasai diri, aku tertawa saja mendengar komentar orang tua itu. Menurutku adalah hal yang biasa kalau ada perahu nelayan yang tenggelam di sekitar wilayah Pulau-pulau Sembilan karena memang disitu ada pertemuan arus sehingga air laut terkadang menderas dan meliuk-liuk di saat gelombang datang. Seperti halnya dengan Segitiga Masalembo di Teluk Mandar, atau Segitiga Bermuda di Lautan Atlantik. Tapi pertemuan arus di kawasan Pulau Sembilan tidak segalak dengan Segitiga Masalembo, atau tidak sekejam Segitiga Bermuda. Tapi begitulah keangkeran kawasan Pulau-pulau Sembilan tersebut menurut orang-orang yang percaya. Meski aku tak percaya tetapi tetap saja bulu-bulu kudukku merinding mengingat kejadian yang telah berlalu. Andai kapal penarik tidak menemukan kami, mungkin kami sudah tenggelam di laut lepas dan mayat kami dicincang oleh segerombolan ikan hiu. Atau kami terdampar di New Zealand ketemu dengan suku Maori. Atau terdampar di Australia ketemu dengan suku Aborijin.

Laiknya Pulau Sembilan, Taman Purbakala Batu Pakke Gojeng juga dianggap keramat oleh sebagian orang. Menurut kepercayaan masyarakat yang berdomisili di kawasan itu, Bukit Gojeng mempunyai ‘penunggu’. Penunggu Batu Pakke Gojeng mewujud menjadi seekor ayam hitam yang ekornya panjang yang konon telah berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Banyak yang meyakini, bila seseorang menjumpai sosok ‘penunggu’ itu maka ia akan beroleh celaka ataupun orang-orang terdekatnya akan ketiban sial. Bahkan tahun sebelumnya, sehari sebelum Pasar Sentral Balanipa dilalap oleh si jago merah dan menghanguskan seluruh ruko yang terbuat dari kayu, banyak warga yang melihat penjaga Batu Pakke Gojeng itu menyatu dengan ayam-ayam ternak penduduk sekitar. Bahkan ada warga yang mengaku melihat manu bolong petti (ayam hitam pekat) itu bertengger di pintu gerbang Pasar Sentral Balanipa sebelum terjadi kebakaran. Yang menyeramkan, ada warga mendengar ayam hitam itu berbunyi meraung-raung serupa orang menangis. Begitulah orang-orang yang percaya pada hal-hal berbau mitos, selalu menghubung-hubungkan kejadian ini kejadian itu. Tapi memang bisa saja jadi petanda. Tanda-tanda alam. Maka bersahabtlah dengan alam! Begitulah pesan penyanyi Ebiet G Ade.
…
Meski banyak cerita bahwa Bukit Gojeng agak angker dan keramat, aku mencoba meyakinkan teman-temanku yang menjadi anggota Kompita untuk tidak takut berkunjung ke kawasan itu. Memang semua tempat yang dikunjungi itu ada ‘penunggunya’, makanya kita sebagai pendatang atau sebagai tamu harus menghormati ‘tuan rumah’. Tapi kita harus yakin bahwa hanya Allah saja Yang Maha Kuasa dan menentukan takdir manusia. Kita tidak boleh mempercayai bahwa penunggu itu maha kuasa dan menentukan baik buruknya nasib kita, tetapi kita tidak boleh sombong dan takabbur. Karena memang Allah menciptakan sesuatu yang gaib dan kita harus percaya pada yang gaib itu. Begitulah yang aku dengar dari Kiyai Haji Ahmad Marsuki Hasan di pengajian Pesantren Darul Istiqamah Sinjai. Soal petuah agama, aku memang banyak berkhidmat pada beliau, beliau adalah sosok yang sangat alim dan punya kelebihan khusus. Bayangkan, beliau sudah berusia 80-an dan kalau berjalan harus pakai tongkat atau dipapah, tapi beliau masih bisa memimpin sholat malam sampai berjam-jam lamanya. Dayat, Anton, dan Aku selalu mengikuti pengajian Kiyai Ahmad Marsuki Hasan setiap malam Jumat. Bahkan di bulan Ramadhan kami mengikuti program Shalat Lail di Pesantren Darul Istiqamah pimpinan beliau.

“Kalau begitu Hutan Lindung Balang juga mempunyai penunggu.” Hutbah bergidik.

“Pastilah ada.” Dayat meyakinkan Hutbah.

“Apakah penunggunya berwujud manusia atau berwujud binatang?” Hutbah penasaran.

“Penunggunya berwujud manusia, laki-laki dan perempuan. Ada juga penunggunya seorang bidadari cantik nan jelita.” Kala itu aku yang menjawab sambil mengerling ke arah Nia.

“Bidadari cantik?” Umar ikut penasaran.

“Ya, itu bidadarinya.” Sekali lagi aku mengerling ke arah Nia.

“Jangan main-main Beddu!” Koor Hutbah dan Umar. Kedua teman kami itu memang rasa keingintahuannya tinggi, cuma terkadang mereka kurang tanggap dan setiap perkara harus dijelaskan secara runut dan runtut. Pun sering menuntut.

“Maksudku penunggu Hutan Lindung Balang itu adalah orang yang menjaga kelestariannya. Ya, kita-kita ini sebagai anggota Kompita.” Aku tersenyum.

“Ooo…begitu…ternyata bidadari itu ada dalam penguasaan Beddu.” Hutbah merasa punya kesempatan lagi menggoda Nia.

Kami semua tertawa atas joke-joke kami yang segar. Kulihat Nia menunduk dengan muka memerah. Entah apa yang ada dibenaknya, karena barusan juga aku bercanda memuji kecantikannya. Aku memujinya secara refleks saja. Kalimat itu mengalir saja. Belakangan itu memang aku melihat Nia selalu tersipu-sipu bila aku memandangnya sekilas. Dan aku suka melihat wajahnya yang tersipu-sipu, bola mata berputar-putar, menunduk malu, bersemu merah, memandang sekilas, lalu senyum dikulum, begitu indah. Begitulah sikap gadis desa sebenarnya. Meski Nia pernah sekolah di Pesantren IMMIM yang notabene banyak teman-temannya dari kota, tapi aku melihat Nia tetaplah sosok gadis desa yang terkadang pemalu, tetapi tetap ramah dan sopan. Cuma sekali saja aku melihat Nia tidak ramah dan tidak sopan, ketika dia mengembalikan surat cintaku dulu.
…
Kami memilih berkunjung ke Bukit Gojeng pada hari Sabtu sore. Kami memang punya waktu hanyalah Sabtu sore dan hari Minggu. Kami sengaja tidak berkunjung pada hari Minggu karena biasanya pengunjung sangat ramai. Di hari Sabtu sore kami bebas melihat-lihat pemandangan tanpa berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Selain itu, tujuan kami mengunjungi Bukit Gojeng bukan sekedar rekreasi saja tapi ingin mengetahui banyak hal tentang Bukit Gojeng, tentang mitos-mitosnya. Kompita berencana membuat laporan tentang tempat-tempat yang mempunyai nilai historis yang dikunjungi. Laporan itu akan disimpan di perpustakaan sekolah sebagai bacaan muatan lokal bagi teman-teman lain. Selama itu memang kami tak punya bacaan-bacaan yang bertema lokal. Jadilah kami tidak banyak mengetahui cerita-cerita tentang kampung kami sendiri. Entah siapa yang salah. Tapi kami bukanlah generasi yang suka menyalahkan, tapi kami adalah generasi yang bekarya nyata.

Kami mendaki puncak Gojeng dengan ditemani seorang penjaga Gojeng yang bernama Pak Bennu yang berumur sekitar 60-an. Kami sengaja memintanya dengan sedikit uang tips karena kami yakin dari usianya yang kian senja pasti banyak tahu dengan cerita-cerita yang berhubungan dengan Bukit Gojeng baik itu berupa mitos, legenda, atau pun dongengnya.

Sebagai anggota Kompita yang punya visi menjaga dan melestarikan hutan serta mengunjungi tempat-tempat bersejarah, kami banyak mempelajari bahwa kekayaan budaya dalam suatu masyarakat merupakan ruh dari masyarakat tersebut. Cerita-cerita keangkeran suatu tempat bisa menjadi sebuah budaya lokal apabila mampu digali secara baik dan dituliskan. Kala itu aku sudah bercita-cita untuk menjadi penulis dan mengangkat budaya-budaya lokal daerah kami. Mungkin nanti aku akan mengangkat cerita cinta tapi yang berhubungan dengan adat istiadat orang Sinjai atau budaya Bugis-Makassar. Bahkan menulis aneka budaya dan adat istiadat yang begitu beraneka ragam di seluruh pelosok nusantara tercinta.

Di puncak Gojeng, kami benar-benar menikmati pemandangan kota Balanipa. Bukan hanya itu, kami juga menikmati cerita Pak Bennu yang berhubungan dengan Bukit Gojeng. Ada satu cerita Pak Bennu yang sangat mengharubirukan perasaan kami, bahkan kulihat airmata Nia menetes karena menjiwai cerita tersebut. Tapi Pak Bennu meminta kami untuk tidak menuliskan cerita tersebut karena cerita itu diragukan kebenarannya, bahkan dianggap dongeng saja. Tapi Buat kami anggota Kompita, apapun namanya, baik berupa mitos, legenda, atau dongeng pastilah ada hubungannya dengan budaya setempat. Olehnya itu harus digali untuk kekayaan budaya setempat.

Pak Bennu lalu bercerita. Konon, dahulu kala pernah ada sepasang kekasih yang bunuh diri di puncak Bukit Gojeng. Sepasang kekasih itu bernama La Bandu dan Andi Besse. Masih tanda tanya sebenarnya apakah mereka berdua sengaja bunuh diri atau sengaja dibunuh. Yang jelasnya keduanya ditemukan tewas di puncak Gojeng. Keduanya menjalin cinta terlarang. La Bandu yang turunan ata terlarang bersanding dengan Andi Besse yang turunan bangsawan. Tapi keduanya tetap merajut tali kasih dan memahatnya pada kata cinta yang tak direstui oleh adat mereka. Hubungan terlarang itu membuat sang raja murka dan mengusir anak putrinya. Akibat tindakan putrinya yang menjalin cinta terlarang, Raja merasa ditimpuki dengan berton-ton tahi kelelawar. Sebuah aib yang tak ada duanya.

“Tapi cerita ini sengaja ditutup-tutupi.”

Pak Bennu mengambil nafas sesaat, seolah ingin menegaskan kembali pada kami bahwa kisah yang ia ceritakan adalah cerita rahasia dan kami terlarang menyebarluaskannya. Entah ada apa dibalik cerita Pak Bennu, seperti cerita bermuatan politis saja. Kami tak sabar menunggu Pak Bennu melanjutkan ceritanya.

“Andi Besse adalah turunan Puatta yang masih sangat dililit oleh beribu macam sabda dan pemali. Ia pun masih diikat, bahkan dicegat oleh adat bila ingin merekat tali kasih dengan pria yang tak sepadan baginya. Sementara La Bandu adalah turunan ata yang sungguh tak pantas meminang anak Puatta. Orang biasa saja tak pantas mempersunting ana’dara turunan sompa empat enam apalagi yang masuk golongan ata’ seperti La Bandu.”

Begitulah kerajaan-kerajaan di Sinjai dahulu kala membagi masyarakat ke dalam beberapa sompa. Sompa 46 yang dimiliki oleh turunan bangsawan tulen. Sompa 44 dimiliki oleh turunan bangsawan tapi tidak lagi bergelar puang. Kedua sompa inilah yang memiliki ata’. Selanjutnya sompa 42 yang dimiliki oleh orang-orang awam, mereka tidak mempunyai ata’ sekaligus tidak diper-ata-kan yang biasa disebut to’ maradeka. Sedangkan sompa terendah sekelas sompa ata’ adalah sompa 36 dan sompa 22. Sompa 22 dimiliki oleh orang yang benar-benar turunan ata’. Sompa 36 dimiliki oleh ata’ yang sudah campuran Sompa 42, 44, pun 46. Terkadang orang-orang yang mempunyai sompa 36 selalu mau disebut puang dan bangsawan.

Dengan sistem kasta seperti itu, Andi Besse resah karena banyak tantenya yang terpaksa kering jodoh gara-gara terbakar statistik sompa. Karena turunan ningrat, peluang jodoh hanyalah dari laki-laki turunan ningrat pula. Sedangkan laki-laki turunan ningrat biasanya bebas memilih jodoh dari kalangan manapun. Dimana pun, lelaki biasanya punya teori sama dalam mencari jodoh ‘yang penting cantik dulu’. Dan tentu saja tantenya Besse kering jodoh selain karena peluang jodoh memang sedikit, pun tak begitu cantik rupawan. Besse? Tak mungkinlah ia akan kering jodoh seperti tantenya, karena hanyalah lelaki yang minder duluan yang tak mau mendekati Besse. Selain bangsawan dan hartawan, Besse pun sangat cantik rupawan, plus tutur kata yang lembut dan menawan. Tentu saja, La Bandu meraih kasih dan cinta Besse dengan modal pas-pasan plus nekat, meski ujung-ujungnya ia dipagut oleh sakaratul maut.

“Mengapa orang tua Andi Besse tidak rela menerima La Bandu jadi menantunya Pak?” Nia yang biasanya laksana bidadari yang selalu mematung di teluk Bone kala itu sangat penasaran dengan cerita Pak Bennu. Ataukah karena ia mempunyai sompa 46? Kala itu aku yang bertanya-tanya dalam hati.

“Orang tua Andi Besse sangat malu punya cucu yang jadi ata.”

“Kok ata?” Hutbah ikut-ikutan penasaran.

“Ya. Karena yang menentukan garis keturunan adalah sompa pihak laki-laki. Meski pun anak darah daging Besse tapi tetesan darah dari La Bandu, maka yang menentukan adalah sompa La Bandu.”

Kami semua mengangguk-angguk pertanda memahami penjelasan Pak Bennu. Sebagian dari kami sangat terharu dengan cerita itu. Nampaknya hanya aku yang tak begitu terharu karena cerita tentang La Bandu dan Andi Besse sudah aku dengar dari ayahku. Yang paling aku suka dari ayahku memang adalah kepiawaiannya mendongeng yang kala aku masih kecil aku menyebutnya mapparumama (mungkin dari kata perumpamaan). Karena kami tak punya teve atau radio di rumah, maka ayahku selalu mapparumama sebagai hiburan buat anak-anaknya. Ayahku mapparumama sebagai hadiah buat kami. Biasanya sebelum mapparumama, kami harus belajar dulu, atau mengaji dengan baik. Kebiasaan mapparumama ayahku itulah yang membuatku banyak mengetahui cerita-cerita rakyat. Sayangnya, kebiasaan ayahku tidak menular pada orang tua sekarang ini. Bahkan anak-anak sekarang bebas memilih tontonan sendiri. Celakanya banyak tontonan yang tak layak jadi tuntunan, padahal proses belajar anak-anak adalah meniru.

“Begitulah ceritanya Nak.” Pak Bennu mengakhiri ceritanya.

Senja memang mulai merapat di Bukit Gojeng. Kami harus segera meninggalkan Bukit Gojeng. Menurut Pak Bennu saat-saat seperti itu tak baik berada di Puncak Gojeng karena biasanya penjaga Bukit Gojeng yang berwujud ayam hitam akan berkeliaran. Meski aku tak percaya dengan hal-hal yang berbau angker, aku juga tak mau sombong sebagaimana pesan Kiyai Haji Ahmad Marsuki Hasan padaku.

Senja kian merapat.

Aku menatap ke bibir pantai. Kota bidadari itu benar-benar cantik tatkala para nelayan di kawasan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Lappa mulai menyalakan lentera pada bagang-bagang mereka. Sebentar lagi mereka akan segera melaut. TPI Lappa memang dikenal baik di seluruh pelosok Sulsel. Konsumsi ikan untuk mayoritas masyarakat Sulsel sebagian besar disuplai dari Sinjai. TPI Lappa Sinjai oleh sebagian besar nelayan di Teluk Bone, menjadi tempat yang strategis mendaratkan dan memasarkan hasil tangkapan ikan setelah berhari-hari di laut lepas. Aku kian memperhatikan kawasan TPI Lappa dan Sungai Tangka. Nampak dari kejauhan, kota Balanipa membentuk siluet bidadari yang menggiring aku pada kisah cinta La Bandu dan Andi Besse.
Meski aku menganggap cerita sompa itu sebagai warisan adat saja. Tapi tiba-tiba aku disemat keresahan. Aku tahu, Nia mempunyai sompa 46 seperti Andi Besse, aku memang tidak seperti La Bandu yang bersompa ata, tetapi tetap tidak akan direstui oleh adat untuk bersanding dengan sompa 46 karena aku hanyalah sompa 42. Sompa 46 sebenarnya masih direstui oleh adat menikah dengan sompa 42 asalkan laki-lakinya yang sompa 46 dan perempuannya yang sompa 42. Sedangkan aku dan Nia sebaliknya. Sebenarnya bukan soal sompa saja yang kukhawatirkan, tetapi perbedaan aku dan Nia memang terlampau jauh. Keluarga Nia berpangkat dan berharta.

“Kak Beddu, kok melamun. Teman-teman semua sudah turun bersama Pak Bennu?”

Tiba-tiba Nia mengangetkan aku dari kisah cinta La Bandu dan Andi Besse. Aku kaget sekaligus heran mengapa teman-temanku tidak mengajakku turun bersama-sama. Ataukah Hutbah yang punya skenario supaya aku dan Nia berdua-duaan? Ataukah mereka sengaja mengetes keberanianku yang memang selalu mengaku tidak takut pada tempat-tempat angker?

“Nia! kenapa kamu tidak ikut bersama mereka?” Tanyaku heran.

“Apakah kakak tak senang Nia ada disini?” Ia balik bertanya sambil menatapku.
Aku heran saja karena selama itu Nia selalu tampak malu-malu padaku, apalagi ketika aku mencandanya sebagai bidadari penjaga Hutan Lindung Balang. Ia terus menatapku. Tapi bukan tatapan bidadari nakal. Aku percaya padanya.

“Bukan begitu Nia, tempat ini angker.” Jawabku.

“Aku tak takut karena ada kak Beddu yang menjagaku, seperti La Bandu menjaga Andi Besse.”

“Nia…” Aku tercegat.

“Kak, aku masih merasa bersalah sama kakak atas kejadian yang dulu. Aku sangat menyesal memperlakukan kakak dengan tidak sopan. Aku….”

“Lupakan saja Nia, aku sudah melupakan peristiwa itu.” Aku memotong kalimatnya.
Nia menunduk. Aku memandang jauh ke arah bagang-bagang nelayan yang sudah mulai menuju kawasan Pulau-pulau Sembilan. Meski dikenal angker, kebanyakan nelayan tetap mengunjungi kawasan itu karena banyak ikannya.

Magrib sebentar lagi menyapa.

Aku harus turun ke bawah menuju tempat penginapan dan bergabung dengan teman-teman lainnya.

“Ayolah Nia kita turun ke bawah, nanti kita ketinggalan sholat Magrib.”
Aku bangkit dari tempat dudukku. Nia masih juga belum bangkit dari tempat duduknya. Aku memandang jauh ke arah bagang-bagang nelayan yang mulai lalu lalang seperti kunang-kunang. Mataku mampir ke Pasar Sentral Balangnipa yang pernah terbakar.
Lalu.

“Kukuruyuuuk…”

Tiba-tiba kami tersentak. Bunyi itu membuat kami merinding. Nia langsung bangkit merapatkan tubuhnya dengan tubuhku dengan wajah memucat. Kupegang erat tangannya karena aku tak mau berpelukan. Tapi saking terkejutnya, ia memelukku refleks saja. Akupun tiada mau mengecewakannya. Aku merangkulnya. Aku kikuk, tapi aku berusaha menepisnya. Kurasakan tubuh Nia begitu dingin.

“Tenang! Itu cuma bunyi ayam kampung.” Kataku meyakinkan meski bulu kudukku juga ikut berdiri.

Aku mencoba menenankan perasaanku. Bagaimana pun saat itu aku adalah pelindung buat Nia dan buat diriku sendiri. Aku yakinkan diriku sendiri kalau memang yang berbunyi adalah penunggu Bukit Gojeng, ia juga makhluk ciptaan Tuhan. Aku membaca ayat kursi tiga kali untuk menguatkan hatiku. Kulihat Nia kian pucat. Kuberanikan diri kian memeluknya erat. Kubelai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Tapi aku sedikit gemetar. Mungkin Nia menyangka aku gemetar karena juga takut akan bunyi ayam misterius itu. Padahal bukan. Aku gemetar karena tubuhku bersentuhan dengan tubuh perempuan yang selama itu mengusik mimpi-mimpiku. Dan baru kali itu aku memeluk perempuan karena terpaksa untuk melindunginya dari rasa takut. Aku takut kejadian itu akan membuatnya sakit. Aku tak mau ia sakit. Aku sayang dia. Aku tak bisa membohongi kata hatiku. Dan tentu aku merasa sangat bahagia bisa memeluk Nia. Bukan karena aku memanfaatkan kesempatan, tapi karena aku bisa mengayominya. Mengayomi sebenarnya adalah identitas laki-laki dan kebutuhan perempuan. Begitulah menurut buku yang pernah aku baca di perpustakaan “Men are from Mars, woman are from Venus” karangan John Grey.

“Tenang sayang!”

Aku menenankan Nia dengan terus merangkulnya. Aku juga sedikit penasaran. Mana mungkin ada ayam kampung berbunyi jam-jam begitu. Tapi aku mencoba tegar dan menegarkan Nia. Kalaupun yang berbunyi adalah ayam ‘penjaga’ Bukit Gojeng itu, aku berharap bukanlah pertanda buruk bagiku, bukan pula tanda-tanda bahwa bila aku saling mencintai dengan Nia, kami akan dipisahkan oleh takdir. Ataukah kalau memang penunggu Bukit Gojeng berbunyi, mudah-mudahan adalah peringatan bagiku bahwa jalan hidupku masih penuh cobaan dan tantangan. Intinya, semua tanda-tanda alam harus kuarahkan pada hal-hal yang positif, bukan pada hal-hal negatif yang akan melemahkan semangat hidupku.

Kemudian kami berdua segera turun ke bawah. Nia tetap memegang tanganku erat. Aku pun memegang tangannya kuat-kuat sebagai simbol aku melindunginya. Aku ingin segera sampai di tempat penginapan. Aku ingin memarahi teman-temanku yang sengaja meninggalkan kami berdua di Bukit Gojeng.

Sesampai di tempat penginapan di rumah keluarga Umar yang memang tak jauh dari Bukit Gojeng. Aku menampakkan raut cemberut. Belum juga aku mengomel pada mereka. Hutbah sudah menyambutku dengan segala keusilannya.

“Hmm, ada cinta ya di Bukit Gojeng.”

Aku tak perduli dengan Hutbah. Perhatianku langsung tertuju kepada Umar sebagai ketua Kompita.

“Tidak semestinya kalian tinggalkan kami berdua di Bukit Gojeng menjelang maghrib.”

“Hu…Hutbah yang punya ide.” Umar menjawab geragapan.

“Tidak apa-apa kan Beddu, Kamu kan tidak penakut.” Kilah Hutbah.

“Bukan soal penakut tidaknya Hutbah. Cuma kalian tinggalkan kami berdua dengan Nia di saat menjelang Magrib seperti itu, apakah kalian rela ada hal-hal yang tidak diinginkan menimpa kami berdua?”

Setelah aku jelaskan peristiwa yang terjadi di Bukit Gojeng yang membuat Nia masih pucat, barulah teman-teman mengerti dan sadar akan kesalahannya. Mereka minta maaf dan berusaha menghibur Nia. Aku jelaskan pada mereka bahwa sebenarnya yang membuat orang sakit sepulang dari mengunjungi tempat-tempat yang dianggap angker bukan karena penjaga tempat yang murka, tapi si pengunjung yang mungkin terkejut sehingga jantungnya berdegup kencang, peredaran dan tekanan darahnya tiba-tiba berubah. Itulah yang menyebabkan sakit. Aku juga jelaskan pada mereka bahwa pergantian siang ke malam sering dianggap saat-saat paling angker di suatu tempat yang memang angker ataupun tidak angker, karena saat-saat seperti itu semua makhluk dimuka bumi berlalu lalang, makhluk gaib, makhluk galib, pun makhluk yang kasat mata. Makhluk yang beraktifitas siang berarti pulang ke tempat tinggalnya. Sebaliknya makhluk yang beraktifitas malam mulai keluar dari tempat peraduannya. Itulah sebabnya orang tua berpesan jangan tidur menjelang magrib dan pada pagi hari. Bahkan ilmu hitam dan ilmu pelet biasanya digunakan pada saat-saat menjelang magrib dan menjelang pagi hari. Begitulah yang selalu aku dengar dari orang-orang tua di kampung.

“Apakah parakan juga muncul di pergantian waktu tersebut?”Ambo Sakka penasaran.

“Benar. Karena parakan itu kebanyakan beraktifitas malam, maka saat-saat menjelang magrib itu ia juga keluar dari sarangnya, begitulah yang aku dengar dari ayahku.”

“Kalau poppo?” Pertanyaan Ambo Sakka kian menakutkan.

“Sudahlah Ambo.” Hutbah bergidik.

“Poppo juga beraktifitas malam.” Jawabku.


Begitulah. Malam itu teman-temanku mengerti dan tidak menggodaku terutama Hutbah tatkala aku berusaha menemani dan menghibur Nia. Aku mengajaknya berbicara dan bercanda sampai ia benar-benar mengantuk dan hendak tidur. Aku tak mau Nia mengingat pengalaman Magrib di Bukit Gojeng yang bisa membuatnya sakit. Aku juga takut Nia akan kesurupan sebagaimana yang sering terjadi bila orang berkunjung ke tempat keramat. Menurut Kiyai Ahmad Marsuki Hasan, orang itu kesurupan karena mereka berkhayal kosong sehingga dimasuki roh jahat. Makanya seseorang tidak boleh membiarkan pikirannya kosong, mereka harus selalu mengingat Allah. Aku juga mengingatkan Nia demikian. Nia hanya tersenyum serupa senyum bidadari padaku yang membuat mataku susah terpejam sampai pagi hari. Tapi aku sangat bahagia, karena tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Nia kala itu.

Sabtu, 26 Maret 2011

REFLEKSI BUDAYA NOVEL "POHON-POHON RINDU"

REFLEKSI BUDAYA NOVEL "POHON-POHON RINDU"
Oleh: Muhammad Rusmin (Dosen STMIK AKBA Makassar, Pecinta sastra sufistik)


Membaca novel Pohon-Pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman seolah mengajak kita untuk sejenak kembali menelusuri jejak-jejak kehidupan era awal tahun 90-an. Betapa tidak, munculnya nama-nama selebritis yang populer pada masa itu yang menghiasi novel tersebut semakin menguatkan setting era awal tahun 90-an.

Ketika membaca novel tersebut, saya seperti membaca sebuah autobiografi dari sang pengarang. Saya menduga-duga (atau memang demikian kenyataannya), nama Beddu Kamase yang merupakan tokoh sentral dari cerita tersebut tidak lain adalah sang penulis novel itu sendiri. Bukankah Beddu Kamase itu merupakan arti dari Abdul Rahman dalam bahasa Bugis.

Hal ini kemudian menimbulkan sebuah tanda tanya besar pada saya. Apakah sosok Andi Masniar atau Nia dalam cerita benar-benar ada (walaupun mungkin dengan nama yang lain) dan memang pernah hadir mengisi relung-relung qalbu sang penulis? Ataukah itu semata-mata murni imajinasi dari penulis? Jika memang Nia pernah ada, sebegitu dalamkah kesan yang ditancapkan ke dalam qalbu penulis sehingga sampai saat ini sang penulis sulit menemukan sosok yang dapat menggantikan posisi Nia di dalam ruang qalbunya? Apakah hal ini yang menyebabkan penulis masih betah mempertahankan status jomblonya seperti saya?

Semua pertanyaan-pertanyaan di atas biarlah sang Penulis sendiri yang menjawabnya. Pada kesempatan ini saya hanya ingin sedikit memberikan sebuah catatan kecil terhadap kesan-kesan yang saya dapatkan setelah membaca novel tersebut.

Tentang Cinta

Cinta memang adalah sesuatu yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan. Mulai dari para filosof, sastrawan hingga pada level ksata tersendah cinta merupakan suatu hal sangat menarik untuk dibicarakan. Ribuan karya dan tulisan-tulisan telah dihasilkan dari tema tentang cinta. Romeo and Juliet dan Layla Majnun adalah dua karya besar tentang cinta yang tak pernah lekang oleh waktu.

Begitu juga dalam novel ini, kembali mengulas dan membahas tentang cinta. Akan tetapi, novel ini mencoba mengulas cinta dari sisi lain. Dalam novel ini, cinta diartikan sebagai keinginan untuk berkorban, melindungi serta mengayomi orang yang kita cintai. Perasaan cinta tidak harus diaktualkan dalam bentuk hubungan pacaran sebagaimana persepsi kebanyakan orang sekarang. Perasaan cinta dapat diwujudkan dalam sebuah bentuk persaudaraan yang saling mendukung dan membantu sebagaimana kisah cinta antara Beddu Kamase dan Andi Masniar dalam novel ini.

Cinta adalah keinginan untuk memberi dan tidak memiliki pamrih untuk memperoleh balasan dari yang dicintainya. Oleh karena itu keagungan cinta tidak harus ditunjukkan menyatunya dua hati dalam satu ikatan suci. Cinta tidak selamanya harus selalu bersama karena cinta tidak selamanya harus saling memiliki. Itulah makna cinta yang dapat kita petik dari kisah cinta Beddu Kamese dan Andi Masniar.

Tentang Alam.

Mencintai alam sama dengan mencintai ibu kita sendiri itulah pesan kuat yang saya dapatkan ketika membaca novel ini. Novel ini memang bukan sekedar novel percintaan. Tetapi novel ini mengajak kita untuk selalu peduli kepada alam sekitar kita.

Pesatnya laju pertumbuhan ekonomi memang memaksa terjadinya perkosaan terhadap ibu pertiwi. Hutan-hutan nan hijau dan rimbun, kini telah tergantikan dengan berdirinya hutan-hutan beton yang kokoh menjulang. Perkembangan memang tidak bisa dihindari, tetapi apakah itu lantas menjadi sebuah alasan bagi kita untuk tidak lagi memedulikan alam sekitar kita.

Membaca novel Pohon-Pohon Rindu membuat saya kembali merindukan sentuhan kesejukan udara di pagi hari. Merindukan kicauan burung-burung pagi hari yang bersenandung merdu. Merindukan suasana hamparan sawah yang menghijau. Semuanya seolah berpadu menjadi sebuah simfoni indah dalam sebuah orkestra alam semesta.

Ibu dan Pertiwi adalah dua hal yang memang harus kita sayangi karena dari keduanyalah sumber cinta dan kasih sayang yang suci.

Tentang Budaya

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini adalah keberanian penulis dalam mengangkat budaya dan kearifan lokal. Ini adalah novel berlatar budaya Sulawesi Selatan yang diterbitkan oleh penerbit nasional yang pertama saya baca. Sebab selama ini novel-novel budaya lokal yang saya baca hanya di terbitkan oleh penerbit lokal juga.

Dalam berbagai diskusi-diskusi kecil dengan kawan-kawan, kami mengambil kesimpulan bahwa salah satu yang dapat mengurangi ekses-ekses negatif arus globalisasi dan informasi adalah budaya dan kearifan lokal. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai cara untuk penguatan kembali nilai-nilai kearifan dan budaya lokal. Apalagi saat ini ada kecendrungan dari generasi muda untuk melupakan (kalau tidak mau dikatakan meninggalkan) budaya lokal karena tidak mau dikatakan ketinggalan zaman.

Saya kira novel Pohon Pohon Rindu ini adalah suatu cara yang dilakukan oleh penulis agar kita mau sejenak kembali menengok dan mengapresiasi budaya lokal. Hal ini saya anggap merupakan sebagai langkah awal dalam penulis untuk menguatkan kembali nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Hal ini jelas terlihat dengan munculnya berbagai falsafah hidup yang menjadi pedoman hidup orang Bugis dalam novel tersebut. Begitu juga pesan-pesan moral dalam bahasa Bugis begitu jelas tergambar dalam novel ini. Dan untuk hal ini saya menyatakan rasa salut dan bangga saya kepada penulis novel ini yaitu: Bapak Dul Abdul Rahman.

Harapan saya ke depan, nantinya pada novel kedua nanti betul-betul budaya dan kearifan lokal Sulawesi Selatan digali lebih dalam lagi. Sehingga siapapun yang membaca novel itu nantinya akan dapat lebih mengenal lagi nilai-nilai yang merupakan pedoman hidup orang Sulawsi Selatan khususnya Bugis-Makassar.

Bahkan saya sangat mengaharapkan agar nilai-nilai tersebut menyatu dalam diri tokoh Beddu Kamase sehingga orang dapat mengetahui bahwa begitulah sosok LELAKI BUGIS.

(Dimuat di Kolom Budaya Harian Fajar Minggu, 30 Agustus 2009)

Sabtu, 19 Maret 2011

EPITAF CINTA POHON-POHON RINDU
Oleh: Sultan Sulaiman*

Ada gadis berjilbab hijau muda, jari manis terkalung cincin emas, memusatkan tatap pada satu titik. Entah pada siapa dia menatap. Ada pohon, hijau tua bercampur lembayung. Ada gelap, ada kupu-kupu. Seorang lelaki berdiri tepat di depan makam. Nisan kayu mengukir satu nama “Nia”. Sebuah artikulasi dinamis, mengusung logika eksotisme. Yang melihat, mungkin akan terpukau pada sampul Pohon-Pohon Rindu. Penulisnya, Bang Dul Abdurrahman menghadiahkannya untukku. Menuliskan sebaris kalimat. “Buku ini semoga jadi inspirasi buat Dinda.”



Hijau dan Lokalitas
Menjajaki dua puluh dua bab novel Pohon-Pohon Rindu membuat saya berdecak kagum. Keberanian penulis menggarap tema lingkungan dengan bauran lokalitas yang kental memberikan sentuhan berbeda. Ada kepekaan insting dengan melakukan rekonstruksi terhadap tema-tema mapan yang selama ini digarap banyak penulis. Paduan ini, meruntuhkan dominasi bahasa dan tema tulisan yang banyak berkiblat pada patron jawasentris atau etnis lain, bahkan mungkin merujuk barat, eropa, sampai timur tengah. Patron itu punya identitas sendiri. Tak jarang ditiru, bahkan dimanipulasi amat ekstrim oleh penulis yang memburu aktualisasi bahkan materi. Tiru-meniru sesaki dunia kepenulisan. Tak ada yang betul berani dan kreatif mengeksplorasi ide baru.
Tema hijau (lingkungan) dan lokalitas (kearifan lokal) sebenarnya sudah lama disentuh penulis masa lalu. Sebelum aktivis lingkungan meneriakkan slogan anti pembalakan, sebelum global warming menjadi isu populis, penyair telah mewanti dengan memasukkan nuansa hijau dan lokal dalam karyanya. Ini pernah saya bahas dalam satu bahasan Sastra Hijau dan Kearifan Lokal.
Kembali ke Pohon-Pohon Rindu. Bang Dul sukses melakukan eksplorasi kultur Bugis-Makassar. Mengambil latar SMA Bikeru Sinjai dengan tokoh yang kental dengan identitas lokalnya. Nama Beddu Kamase dan Andi Masniar disuguhkan sebagai tokoh utama, berimprovisasi dengan empat tokoh lain. Ada Anton, Dayat, Hutbah, dan Umar. Novel ini bercerita sahabat yang hadir dengan karakternya masing-masing. Memiliki misi kepedulian lingkungan dengan Kelompok Pecinta Alam (KOMPITA). Bang Dul tak segan menyuguhkan istilah daerah (Kearifan lokal Bugis-Makassar) dan tak canggung menyebut setting ceritanya yang tidak populis. Inilah sisi berani yang dimiliki penulis. Penulis memotret Sinjai secara utuh sampai mendeskripsikan kearifan lokal suku Kajang Bulukumba. Penulis secara langsung memperkenalkan filosofi Bugis-Makassar. Nilai-nila lokal berupa alempureng (kejujuran), amaccang (kearifan), asitinajang (kepatutan), agettengeng (keteguhan), reso (usaha) dan siri (harga diri).
Secara sadar, Bang Dul menghadirkan kearifan lokal sebagai rangkaian filosofi hidup yang harus dipegang teguh. Lokalitas dijadikan wahana dalam mengusung globalitas. Lokalitas yang superior memiliki andil dalam mengusung kearifan global. Di sini, kultur, etnisitas, suku, budaya, adat-istiadat memiliki porsi yang sama dalam bangunan globalitas yang dimaksud. Tak arif jika ada yang dipandang sebelah mata. Bahasa Bugis-Makassar bisa tonji pas didengungkan.

Melodrama! Serupa Epik Laila Majnun
“Pagi-pagi sekali, aku tiba di pusara kekasihku. Aku bersimpuh luluh di depan pusara perempuan yang amat kucinta itu. Air mataku menetes. Air mata kerinduan. Air mata perpisahan. Aku menunduk menangis sambil mengusap batu nisannya…” (Pohon-Pohon Rindu hal. 347).
Novel ini memang berangkat dari ide lingkungan dan lokalitas, tapi keduanya tak cukup legitimate menghadirkan harmoni dalam cerita. Rasanya tidak lengkap jika kisah cinta tak turut menyuguhkan sentuhannya sendiri. Entah! Kisah cinta terlalu banyak menghipnotis siapa saja, mungkin karena setiap diri memiliki pengalaman otentik, atau merasa berhak mengklaim sebagai tokoh utama yang sering diceritakan. Ini yang mengilhami Bang Dul memblow-up cinta Beddu Kamase kepada Andi Masniar. Ini menarik.
Beddu Kamase adalah penulis sendiri. Asumsi ini tidak mengada, Bang Dul mengaku jika novel ini 99% pengalaman pribadi. Saya menelusuri liku hidup yang dijalani penulis, termasuk romansa cintanya. Apakah ini sebab mengapa Bang Dul belum juga melengkapi rusuknya? Ya! Mungkin saja, cinta memang selalu punya dua sisi, ada bahagia juga lara. Terlalu pahit mengisahkan cinta yang tak bermuara pada pertemuan. Tak cukup bertemu dan mengajak tangan bertepuk, selanjutnya harus dipatenkan dalam ikrar sakral pernikahan. Ini yang dialami Beddu Kamase pada Nia. Sayang pertemuan itu berujung dramatik, terlalu sendu bagi dua hati yang terpaksa terpisah. Kisah klasik yang cantik.
Saya persembahan syair Majnun yang merengkuh mimpinya di sebuah pusara kusam bertuliskan nama “Laila”. Kisah Pohon-Pohon Rindu, akhirnya kutaksir punya kemiripan dengan Laila-Majnun.
“Sepasang kekasih terbaring dalam kesunyian. Disandingkan di dalam rahim gelap kematian. Sejati dalam cinta, setia dalam penantian. Satu hati, satu jiwa, di dalam surga keabadian.” (Puisi Majnun buat Laila).

Suguhan Sederhana dan Sebuah Pencarian
Deskripsi Pohon-Pohon Rindu terbilang sederhana. Gaya berutur yang biasa membuat novel ini renyah, walau gaya penulisannya tak terlalu popolis (dipengaruhi background Bang Dul sebagai praktisi Sastra yang sering menulis non-fiksi). Kesederhanaannya tak mengurangi bobot pesan yang ingin disampaikan. Beragam pesan bisa ditemukan, dan itu mengajak diri berkontemplasi. Novel ini masuk kategori novel putih. Suguhan teks kitab suci yang dikutip penulis mematenkan klaim tersebut.
Secara tekstual, novel ini menyingkap siapa sosok Dul Abdul Rahman. Karakter penulis bisa dilihat dari yang ditulisnya. Ada sebuah pencarian luar biasa yang dilakukan. Bisa ditakar, penulisan novel ini bukanlah laku spontanitas, tapi berangkat dari konsep dan pustaka yang memadai.

Terikat Hati pada Dia yang Mati
Akhirnya! Pohon-Pohon Rindu ingin berkisah tentang prasasi cinta. Dua anak manusia terlanjur merajut ceritanya. Cerita itu bukan hanya mengisahkan pertemuan anak manusia, tapi keikutsertaan alam dalam mencipta romantika belantara yang harus terus terjaga. Kalau akhirnya perpisahan menjadi tanda mata, tak salah menitip harapan pada pemilik-Nya.
“Allah! Engkau tahu. Hati ini telah berkumpul dalam cinta-Mu. Bertemu dalam taat-Mu. Bersatu menyeru dan berjanji setia berjuang di jalan-Mu. Kuatkan ikatannya dan abadikan cintanya. Tunjukkan jalan-Mu dan limpahkan cahaya-Mu yang tak pernah padam…” (Doa Pengikat Hati Hasan Al-Banna)
Seperti ingin Nia, seperti nurani yang menginginkan panorama terus terjaga. Membawa diri pada pemaknaan cinta holistik jauh lebih arif. Alam raya bagian dari relasi cinta yang perkasa. Malam terikat siang, gunung memadu kasih dengan tanah, langit bercermin pada laut, ada pepohonan yang menjulang, menitip pesan pada hujan, air jatuh menyiramkan kasih sayangnya. Tuhan tersenyum, menaburi keberkahan lewat sayap-sayap malaikat. Epitaf cinta terpahat pada Pohon-Pohon Rindu, biarkan cinta terus abadi.
“Jika Kakak kangen pada Nia, maka tataplah pepohonan yang rindang serta hutan yang menghijau, karena Nia akan menjelma pepohonan. Maka jagalah pepohonan itu Kak. Lalu mohonlah pada pohon-pohon rindang itu agar cinta kita juga lestari.” (Pohon-Pohon Rindu 348).

*Ketua Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan
sulaiman.putra@gmail.com

Sumber tulisan: HARIAN FAJAR MAKASSAR
SASTRA DAN LINGKUNGAN
Oleh: Dul Abdul Rahman
(Pengarang novel bertema lingkungan “Pohon-Pohon Rindu”)

Tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan kita saat ini masuk dalam kategori krisis. Banyaknya bencana alam yang menimpa negeri ini karena alam dijamah dengan serakah oleh manusia yang berwajah tak ramah. Jamak manusia terlalu tamak mengeruk hasil hutan untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak sadar bahwa ulahnya itu akan menimbulkan amarah alam di kemudian hari. Banjir bandang, erosi, longsor, adalah bahasa alam untuk menegur manusia yang kadang tak berperikemanusiaan dan berperikealaman.

Dengan amarah alam itu, maka krisis lingkungan terjadi di berbagai aspek, seperti krisis air, tanah, udara, bahkan krisis iklim. Bukan hanya itu, pun terjadi krisis lingkungan biologis dan lingkungan sosial. Krisis lingkungan biologis terjadi dengan tidak produktifnya lahan-lahan pertanian, pun punahnya flora dan fauna berupa satwa-satwa langka disekitar kita seiring dengan semakin menipisnya hutan.
Itulah akibat dari eksploitasi lingkungan yang semena-mena tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya kelak. Fenomena seperti ini seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya menjaga dan “menghormati” lingkungan sekitar kita. Semua pihak seharusnya berperan mendorong sikap menjaga lingkungan, termasuk para sastrawan.
Untuk itu, saya mencoba mengemukakan gagasan-gagasan pelestarian lingkungan, khususnya menjaga hutan dalam novel saya Pohon-Pohon Rindu(PPR). Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan dalam novel tersebut.

Pertama

Kampanye mencintai hutan dan lingkungan sekitar seharusnya dilakukan secara dini. Kalau di perguruan tinggi kita menjumpai organisasi pencinta alam semisal KORPALA (Korps Pencinta Alam), MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam), atau apapun namanya. Maka sebaiknya organisasi semacam ini harus diaktifkan pada siswa-siwa SMU. Hal ini dimaksudkan agar gerakan mencintai alam dan lingkungan mengakar di daerah-daerah dimana terletak hutan-hutan yang perlu dijaga dan dilestarikan. Dalam PPR, sekolompok siswa membentuk kelompok pencinta alam yang disebut Kompita. Program utamanya adalah menjaga hutan.

“Kami peduli Hutan Lindung Balang. Setiap hari minggu, kami menyusuri Hutan Lindung Balang. Setiap ketemu warga, kami memberikan pengarahan mengenai betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kami menjelaskan bahwa hutan sangat berperan dalam menjagaa ekosistem alam. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan menjaga kestabilan udara. Di samping itu, hutan mencegah terjadinya banjir bandang. Intinya merusak hutan berarti merusak kehidupan itu sendiri.” (PPR hal 89)

Kedua

Local wisdom(kearifan lokal) harus diperhatikan. Termasuk penamaan dari hutan itu sendiri menjadi “hutan lindung”. Istilah ini sebaiknya diganti menjadi “hutan adat”. Alasannya karena nama hutan lindung tidak “angker” di mata masyarakat setempat. Bahkan hutan lindung kadang dipelesetkan menjadi hutan yang tak dilindungi. Sedangkan penamaan hutan adat membuat warga tidak berani merusak hutan karena menyangkut adat-istiadat. Bahkan bila ada orang luar ingin merusak hutan maka warga setempat menjaganya karena berhubungan dengan adat istiadatnya.

“Menurut pendapatku, sebaiknya pemerintah tidak lagi memakai istilah hutan lindung, tetapi diganti saja dengan istilah hutan adat. Nama hutan adat lebih sakral daripada hutan lindung. Aku yakin, masyarakat takut membabat hutan adat karena terkait dengan hukum adat dan mitos setempat, sedangkan hutan lindung cuma penamaan saja, bahkan kadang tidak terlindungi.” (PPR hal 205)

Ketiga

Belajar pada kearifan orang Kajang di Bulukumba dalam menjaga dan memperlakukan hutannya.
“Masyarakat boleh menebang pohon di hutan, tetapi harus ada izin dan pertimbangan dari ammatoa dulu, karena hutan dan pohon terkait pasang, pertimbangan dari ammatoa mencakup jumlah, ukuran, tujuan penggunaan, serta jenis kayu yang akan diambil. Masyarakat yang menebang pohon harus menggantinya. Setiap penebangan satu pohon harus diganti dengan menanam dua pohon yang sejenis di lokasi yang ditentukan oleh ammatoa. Masyarakat yang sudah diberi izin menebang pohon diawasi oleh orang-orang kepercayaan ammatoa, tetapi ada kawasan hutan yang tak boleh ditebang sama sekali yaitu borong karamaya.” (PPR, hal 194)

Keempat

Memaknai bahwa bumi adalah ibu yang harus dicintai.
“Ibu dan ibu pertiwi adalah dua hal yang harus disayang karena dari keduanyalah sumber cinta dan kasih sayang yang suci. Agar seorang anak tumbuh dengan sehat dan cerdas, ia harus menyusu pada ibu. Dan, bila anak itu sudah dewasa dan ingin hidup bahagia dan sejahtera, maka ia harus menyusu pada ibu pertiwi. Bila ibu dan ibu pertiwi murka, maka tidak ada lagi kehidupan. Dan, yang paling harus dicamkan oleh semuanya adalah bahwa murka ibu dan murka ibu pertiwi merupakan murka Tuhan.” (PPR hal 237)

Kelima

Mengkampanyekan bahwa bumi itu adalah perempuan yang harus dijunjung tinggi. Sehingga seorang perempuan menjaga hutan karena sama dengan menjaga eksistensi dirinya sendiri. Pun kaum adam menjaga hutan karena sama dengan menjaga isteri, ibu, atau kekasihnya sendiri.
“Perempuan lebih menjiwai perannya sebagai anggota Kompita (Kelompok Pencinta Alam) karena alam identik dengan perempuan. Umar mengatakan bahwa alam memang berjenis kelamin perempuan. Buktinya, kita hanya menyebut ibu pertiwi bukan bapak pertiwi, atau ibu kota bukan bapak kota.” (PPR hal 95-96)

Keenam

Memaknai secara filosofis bahwa hutan adalah sosok kekasih yang harus dicintai dan dijaga keberadaannya.
“Aku berjanji akan menjaga dan melestarikan kawasan Hutan Lindung Balang sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir duhai cintaku. Aku akan menjaga seluruh hutan di Sinjai, bahkan di seluruh Indonesia dan dunia yang akan aku kunjungi kelak. Jangan lagi ada penggundulan hutan di sini. Jangan lagi ada penggundulan hutan di sana. Jangan lagi ada banjir bandang di sini. Jangan lagi ada banjir bandang di sana. Jangan lagi ada air mata yang membandang karena tertimpa banjir bandang. Maka tersenyumlah duhai pepohonan. Tersenyumlah duhai hutan. Tersenyumlah duhai kekasihku.” (PPR hal 349)

Begitulah, semoga saja poin-poin yang penulis ungkapkan di atas bisa menjadi bahan pertimbangan bagi siapa saja. Karena peran sebagai penjaga lingkungan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama sehingga kita bisa mendapatkan lingkungan yang baik sebagaimana tertera dalam UU RI No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai berikut.

1. Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
2. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dan pengelolaan lingkungan hidup.

Menutup tulisan ini, sebagai “penjaga lingkungan”, mari mencamkan dialog Tuhan dengan Malaikat yang tertera dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 30:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Malaikat berkata: “Mengapa Engkau akan menjadikan khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”


Semoga saja kita bukan khalifah yang sejak awal sudah diwanti-wanti oleh malaikat untuk membuat kerusakan di bumi ini. dulabdul@gmail.com.

Sabtu, 12 Maret 2011

POHON-POHON RINDU dul abdul rahman (BAB 7 SUNGAI BEJO)

7. SUNGAI BEJO

Kompita mempunyai banyak program. Selain menjaga Hutan Lindung Balang, Kompita juga mempunyai program mengunjungi tempat-tempat bersejarah atau tempat-tempat terkenal di Sinjai. Aku mengusulkan tempat pertama yang dikunjungi adalah Sungai Bejo karena sungai itu berlokasi masih di kawasan Hutan Lindung Balang. Lagi pula, Sungai Bejo dianggap keramat oleh penduduk setempat bahkan banyak penduduk dari daerah-daerah lain berkunjung ke Sungai Bejo.
Sungai Bejo amatlah kecil untuk dikatakan sebuah sungai. Bila dibandingkan dengan Sungai Apareng yang merupakan sungai terpanjang di Sinjai, ataupun sungai-sungai lainnya seperti Sungai Manggottong, Sungai Pangesoreng, atau Sungai Garaccing, maka Sungai Bejo hanyalah sepersepuluhnya saja. Penduduk sekitar hanya menyebut Sungai Bejo sebagai calo-calo. Biasanya sungai sekecil Bejo bila ingin dilewati, cukuplah dilompati saja. Tapi tidak ada yang berani melewati Sungai Bejo dengan melompat. Mereka khawatir lompatannya tidak sampai lalu terperosok masuk ke sungai yang dalam. Meski tidak luas, Sungai Bejo sangat dalam, bila ingin melewatinya kita harus hati-hati melihat batu besar sebagai pijakan.
Sewaktu masih di Madrasah Ibtidaiyah dulu, aku bersama teman-temanku, Dayat, Anton, dan lain-lainnya, minus Hutbah dan Umar, suka bermain di Sungai Bejo karena airnya yang jernih. Kita bisa melihat ikan-ikan yang berenang. Ikan yang paling banyak adalah ikan lele dan ikan mujair. Tapi tentu saja bila ingin ke Sungai Bejo kami harus main kucing-kucingan dulu dengan orang tua kami. Pun dengan penduduk yang tinggal di sekitar jalan menuju Sungai Bejo. Sungai Bejo memang tidak menusuk ke arah perkampungan, tapi ke arah Hutan Lindung Balang. Pun udiknya masih kawasan hutan. Mungkin itulah penyebab sehingga air Sungai Bejo sangatlah jernih. Sungai Bejo bermuara di Sungai Apareng, sungai yang terkenal galak bila musim penghujan tiba. Meski Sungai Bejo bermuara di sungai Apareng, tetapi buaya-buaya penghuni Sungai Apareng yang terkenal galak tidak sudi memasuki Sungai Bejo. Maka amanlah Sungai Bejo dari para buaya.
Tapi bukan itu yang membuat orang tua kami melarang kami bermain ke Sungai Bejo. Sungai Bejo dianggap keramat oleh penduduk setempat, bahkan dari daerah-daerah lain. Konon, di Sungai Bejo terdapat seekor ikan besar yang dianggap bertuah dan keramat. Ikan itu adalah ‘penunggu’ Sungai Bejo, dan seluruh ikan yang ada di sungai itu berada dalam kekuasaannya. Banyak orang yang berkunjung ke sungai itu dengan berbagai macam hajat. Konon, bila seseorang pergi ke sungai itu memberi makan ikan besar itu, maka hajatnya akan tergapai. Ada yang sengaja ke sungai itu supaya cepat kaya. Ada juga muda-mudi berkunjung agar jodohnya tak mutung. Pun ada yang berkunjung ke tempat itu berharap naik haji secepatnya, biar cepat-cepat dipanggil puang haji.
Jalan menuju Sungai Bejo hanya satu, terletak di Joalampe tempat tinggal Puang Sanro. Bila ingin ke Sungai Bejo, haruslah lewat depan rumah Puang Sanro dan harus seizin Puang Sanro. Hanya Puang Sanro yang bisa menemani para pengunjung ke Sungai Bejo untuk menemui ikan besar itu. Memang hanyalah Puang Sanro yang bisa mendatangkan ikan itu. Sepertinya Puang Sanro dan ikan besar itu sudah sepaham, sehati malah. Tentu saja orang-orang yang punya hajat yang berkehendak bertemu ikan itu harus menyiapkan beberapa menu persembahan seperti songkolo tiga warna; hitam, putih, dan merah. Ketiga jenis songkolo itu dibuatkan tempat terpisah, kemudian masing-masing dilengkapi seekor ayam yang sudah masak dan sudah dibumbui dengan bumbu khas. Hidangan ayam tersebut harus utuh satu ekor. Konon, bila tidak utuh satu ekor, ikan besar itu akan ngambek dan tidak mau memakannya. Lalu tentu saja hajat orang yang berkunjung tidak akan terkabulkan.
Awalnya, teman-temanku takut berkunjung ke Sungai Bejo khususnya kelompok perempuan, mereka takut jangan sampai penjaga Sunga Bejo marah dan akan membuat mereka kesurupan. Hutbah khawatir kalau Puang Sanro tak mengizinkan, tapi aku mengatakan tak perlu minta izin sama Puang Sanro, kita menuju Sungai Bejo bukan lewat Joalampe tapi menyusuri pinggir Hutan Lindung Balang. Misi utama berkunjung ke Sungai Bejo untuk melihat langsung keadaan Sungai Bejo apakah masih seperti yang dulu semasa kami sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Buludatu.
Dari berlima berteman akrab, Dayat, Anton, dan aku tidak percaya dengan kekeramatan Sungai Bejo, hanya Hutbah dan Umar yang nampaknya percaya. Boleh dikata memang kami bertiga sebagai konseptor utama dari pertemanan kami. Aku telah bersepakat bertiga dengan Dayat dan Anton untuk membiarkan Umar dan Hutbah percaya kekeramatan Sungai Bejo. Biar mereka sepaham dengan penduduk sekitar. Alasannya karena kami ingin masyarakat di sekitar Sungai Bejo dan Hutan Lindung Balang tetap menganggap Sungai Bejo keramat supaya mereka tidak berani menebang kayu di bantaran Sungai Bejo. Jadi aku pikir mitos keangkeran Sungai Bejo bagi penduduk setempat harus tetap terpelihara agar kawasan itu tak terjamah oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Soal kemusyrikan, biarlah nanti tokoh agama yang menjelaskannya, bahwa musyrik itu bila datang meminta-minta dan menyembah-nyembah disana. Intinya, kami ingin kawasan Hutan Lindung Balang dan Sungai Bejo tak banyak dikunjungi oleh masyarakat, baik untuk menebang kayu apalagi untuk menabung kemusyrikan.
Begitulah, kami anggota Kompita mengunjungi Sungai Bejo pada sutau hari Minggu. Jalan yang kami lalui tidak seperti rencana semula, karena aku sudah negosiasi dengan Puang Sanro bahwa alasan kami ke Sungai Bejo berhubungan dengan mata pelajaran Geografi di sekolah kami. Kami ingin mengetahui struktur alam kawasan Hutan Lindung Balang dan harus lewat Sungai Bejo. Kebetulan ada ponakan Puang Sanro yang bernama Ambo Sakka yang bergabung menjadi anggota Kompita. Ambo Sakka lah yang jadi juru bicara ketika bernegosiasi dengan Puang Sanro. Jadilah kami bertiga belas menuju Sungai Bejo lewat Joalampe di depan rumah Puang Sanro. Pesan Puang Sanro kepada kami supaya tidak macam-macam, seperti tertawa keras, melempar sembarangan di Sungai Bejo supaya perjalanan kami direstui oleh penunggu Sungai Bejo. Puang Sanro tidak tahu bahwa Ambo Sakka yang alumni Madrasah Tsanawiyah juga seperti aku, tidak percaya yang namanya tempat-tempat keramat. Menurutku semua itu hanyalah mitos belaka. Tidak mungkin tempat-tempat itu murka dan memberi celaka.
Sesampai di Sungai Bejo, aku mengusulkan kepada Umar untuk membagi dua tim. Tim A dipimpin langsung oleh Umar yang rutenya menyusuri bantaran Sungai Bejo menuju Hutan Lindung Balang lewat arah timur tembus Jatie, sedangkan aku memimpin tim B menyusuri bantaran Sungai Bejo lewat arah barat. Nanti kami bertemu di arah utara yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga, tepatnya di kampung Korong. Nia gadis pujaanku, entah mengapa, ia selalu memilih tim yang ada aku di dalamnya. Kulihat ia sesekali mencuri pandang ke arahku. Mungkin ia masih ingin minta maaf, atau ia ingin mengatakan bahwa aku lebih cakep dari pada kumbang jelek yang ia bayangkan dulu. Akh! Selalu saja aku ge-er kalau mengkhayalkan Nia
Sebenarnya aku mengusul membagi dua tim karena aku punya misi khusus. Aku ingin mengamati langsung tempat Puang Sanro dan para pengunjung yang punya hajat menemui Raja Ikan Bejo. Setelah kami berpisah dengan tim Umar, aku menjelaskan kepada anggota tim tentang misi khususku. Sudah kuduga anggota tim yang kupilih tertantang dengan segala ideku. Sengaja memang aku satu tim dengan Dayat, Anton, dan Ambo Sakka yang tidak percaya dengan tempat-tempat keramat karena kami yakin hal itu cuma mitos yang didongengkan, yang akhirnya melegenda pada masyarakat setempat. Hanya Nia yang agak ragu, meski ia alumni SMP Pesantren, rupanya sikap keperempuanannya yang menonjol sebagaimana kekhawatiran Hutbah dulu sewaktu kami menentukan layak tidaknya perempuan jadi anggota Kompita.
“Kenapa harus takut? Kan ada Beddu.” Anton menggoda Nia.
Seperti biasa wajah Nia merona merah. Aku tak menanggapi sama sekali godaan Anton. Karena dari jauh kulihat Puang Sanro bersama orang-orang yang berhajat menuju ke Sungai Bejo dengan khusyu serta penuh khidmat. Kami mengajak rekan-rekan setim diam-diam mengikutinya. Ada tempat khusus tempat Puang Sanro berkunjung yaitu di bawah pohon garoci yang besar dan lebat. Di sisi kiri sungai itu agak landai dan banyak pohon lebat lainnya selain pohon garoci. Aku mengajak teman-teman mengumpet disitu sambil mengintip ke bawah.
”Hush...! Sst...!”
Aku memberi sinyal diam ketika Nia hampir teriak karena digigit oleh semut hitam. Karena tanah yang agak landai dan Nia hampir terpeleset, aku yang kebetulan berada di bagian bawah menahan tubuhnya. Dan hatiku berdesir-desir manakala aku menahan tubuhnya dengan posisi memeluknya. Lengan Nia memeluk aku dengan kuat. Kulihat teman-teman lain menatap kami heran, seolah tidak paham apa yang terjadi.
”Mengapa kamu tidak menolong Nia.” Semprotku berbisik kepada Dayat.
”Aku kira tadi lagi action.” Dayat berbisik menahan ketawa.
”Sst! Nia hampir terpeleset ke bawah, dan kita hampir ketahuan Puang Sanro.”
Teman-temanku yang lain baru mengerti action tadi. Kulihat Nia masih bersemu merah. Mungkin masih ketakutan karena hampir jatuh atau ia merasa malu karena aku yang menolongnya dengan memeluk tubuhnya. Sekali lagi aku biasa saja, cuma ada getaran-getaran aneh yang diam-diam menyelinap dalam kalbuku. Getaran yang dulu seperti mendapatkan baterai baru. Tapi aku buru-buru menepisnya.
Kami melihat Puang Sanro bersama orang-orang yang berhajat duduk di atas batu besar. Orang-orang yang berhajat lalu membuang telur yang belum matang ataupun yang sudah matang. Lalu ketika ikan besar itu datang, mereka lalu membentangkan kain putih. Orang-orang berhajat beramai-ramai memegang kain putih yang menutupi ikan di bawahnya. Puang Sanro ikut memegang kain putih itu dengan mulut komat-kamit membaca doa atau mantra. Setelah itu, mereka meletakkan sesajian berupa songkolo dan ayam yang sudah masak dipinggir sungai di atas batu besar yang diperuntukkan untuk sang penjaga Bejo. Sebelum mereka meninggalkan tempat, mereka membuat ikatan di batang pohon garoci terlebih dahulu.
“Tenang! Sebentar lagi mereka akan meninggalkan tempat ini.” Aku berbisik kepada teman-temanku sebagai arahan.
“Mereka berhajat, kalau hajatannya terkabul maka mereka akan ke sini lagi melepas ikatan itu.” Ambo Sakka berujar ketika melihat seorang gadis berumur senja ikut mengikat di batang pohon garoci dengan seutas tali dari kain putih.
“Kalau laki-laki itu, untuk apa ia kesini?” Aku bertanya kepada Ambo Sakka, karena ia sepertinya mengenali orang-orang berhajat itu.
“Yang memakai songkok haji itu?”
“Ya.”
“Ia calon anggota legislatif. Mungkin ia berhajat kalau lolos jadi anggota dewan ia berhajat ke sini dan memotong kambing.”
“Akh ada-ada saja.” Aku membatin. Karena aku tahu orang itu adalah calon anggota legislatif dari partai yang mengklaim diri berbasis keagamaan.
Beberapa jenak kemudian para orang-orang berhajat meninggalkan tempat itu di temani Puang Sanro. Itulah saat yang paling tepat buat kami untuk menikmati ‘hidangan’ gratis itu, pikirku. Aku mengajak teman-temanku turun ke bawah untuk menghabisi makanan itu.
”Jangan Beddu, nanti kita sakit dan dikutuk penghuni Sungai Bejo.” Ambo Sakka kelihatan agak khawatir.
”Akh, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak mungkin ikan tersebut mempunyai kekuatan untuk menentukan nasib seseorang. Ingat! Manusia lebih kuat daripada ikan.”
”Tapi...”
”Tapi apa Ambo Sakka, sejak masih di Madrasah Ibtidaiyah dulu aku biasa melakukannya bersama Dayat dan Anton.” Kulihat Dayat dan Anton tersenyum-senyum mengangguk-angguk dengan gaya khasnya berdua yang lucu dan terkadang kocak.
Akhirnya kami semua menyantap makanan yang sebenarnya diperuntukkan buat Raja Ikan penunggu Sungai Bejo. Sambil menikmati hidangan lezat nan gratis, aku menjelaskan kepada teman-temanku, ”Biarkan mereka percaya bahwa Sungai Bejo memang keramat agar mereka tidak berani lagi menebang kayu di kawasan Sungai Bejo dan Hutan Lindung Balang ini.”
”Tapi mengapa kita membiarkan mereka bersikap musyrik dan menghambur-hamburkan makanan disini, lagi pula banyak dari mereka yang datang dari jauh dengan mengeluarkan uang transportasi yang banyak.” Anton menyela sambil menyikat paha ayam gratis.
”Tidak ada juga ruginya, mereka memang menghabiskan banyak biaya kesini, meski Ikan Besar itu tak punya kekuatan tetapi mereka tetap mendapatkan sesuatu.” Kali ini Dayat yang menjelaskan karena aku sibuk mengobrak-abrik dada ayam yang sangat menantang nafsu makan.
”Maksudnya?” Ambo Sakka menyela.
”Sebenarnya orang-orang berhajat itu hanya butuh sugesti, motivasi dan semangat untuk hidup, dengan berkunjung kesini mereka merasa punya pegangan dan harapan. Mungkin kurikulum pendidikan agama mereka dulu di sekolah tak mengena.”
Kami terbahak-bahak mendengar pendapat Dayat yang sudah berani memasuki wilayah kurikulum sekolah. Tentu saja lucu, karena rata-rata mereka yang percaya akan kekeramatan Sungai Bejo hanyalah orang-orang tua yang tak punya pendidikan. Walaupun banyak dari mereka sudah ke tanah suci dan bergelar Puang Haji, tapi mungkin belum mendapatkan haji mabrur, karena naik haji bagi penduduk kampung umumnya hanyalah simbol kemapanan saja. Orang kampung belum sah disebut sukses kalau belum bergelar Puang Haji. Satu lagi, siapapun dia kalau sudah bergelar Puang Haji pastilah mendapat tempat terhormat dalam acara-acara pertemuan, seperti, pesta perkawinan, pesta sunatan, acara barzanji malam jumatan, dan pertemuan-pertemuan lainnya. Gelar ’Puang Haji’ benar-benar menaikkan derajat seseorang. Sayangnya kebanyakan dari mereka derajatnya hanya naik di mata manusia. Entah dimata Tuhan.
”Untung saja tadi ada dewa penolong, Nia ya!” Ambo Sakka menyela mengalihkan topik pembicaraan dan mengungkit peristiwa yang baru terjadi kala itu. Rupanya ia menahan candaannya karena kami dalam ’persembunyian’ khusus dari Puang Sanro. Aku tidak tertarik membahasnya. Aku lalu mengajak teman-temanku segera pergi, khawatir kalau Puang Sanro datang lagi bersama orang yang berhajat lainnya. Hari minggu biasanya tamu antrian dari daerah-daerah lain. Bahkan kami sering bercanda bahwa hari minggu adalah hari kemusyrikan di Sungai Bejo.
”Sebaiknya kita bergegas ke arah utara, kasihan teman-teman menunggu disana.”
”Tapi Nia kelihatan letih.” Anton menahan kami, ia masih asyik menikmati hidangan gratis. Ia memang anti mubazzir, sayangnya hidangan tersebut bukan untuknya. Kulihat Nia agak meringis karena kakinya lecet. Aku segera membersihkan kakinya yang luka lecet, lalu aku mengolesinya dengan ludahku dengan membaca Basmalah. Nia meringis.
”Tahan, Insyaallah segera sembuh.” Bisikku pelan tapi seolah ada getaran.
Teman-temanku yang lain mendehem menggoda. Kubiarkan saja, karena memang aku tak punya hubungan apa-apa dengan Nia. Soal menyembuhkan luka dengan ludah, aku biasa melakukannya dan diajari oleh kakekku. Pernah tanganku teriris pisau dan berdarah, aku cuma mengobati dengan menjilat-jilatnya sambil membaca basmalah, dan alhamdulillah sembuh tanpa perban. Tapi tips ini cuma untuk luka ringan. Begitu pesan almarhum kakekku.
”Lihat! Mereka datang lagi.”
Baru juga kami beranjak sekitar seratusan meter, tiba-tiba Anton berteriak karena melihat rombongan Puang Sanro datang lagi.
”Ayo kita mengintip lagi, kita lihat bagaimana reaksi Puang Sanro atas habisnya hidangan tadi.” Tiba-tiba aku punya ide lagi.
”Gila kamu Beddu.” Dayat protes.
”Gila apanya Dayat.”
”Bagaimana kalau Puang Sanro melihat kita dan ia tahu bahwa kita yang menghabiskan menu persembahannya?”
”Begini saja, kalian tetap berjalan meninggalkan kawasan ini, cukup aku dan Ambo Sakka pergi mengintip, apalagi kakinya Nia juga tidak bisa berlari cepat bila ada bahaya mengancam, aku yakin bisa menyusul kalian sebentar.”
Teman-temanku tak bisa menolak ideku yang rada gila dan nekad. Aku dan Ambo Sakka segera berlari menuju tempatku mengumpet saat itu. Kami duluan tiba daripada rombongan Puang Sanro.
”Cepat sembunyi Ambo, nanti mereka melihat keberadaan kita.”
Aku mengingatkan Ambo Sakka yang masih bingung mencari tempat yang aman yang tidak ada semutnya. Rupanya semut juga mengamuk karena kami sudah mengobrak-abrik sarangnya. Kulihat Puang Sanro agak heran dan menutup mulut melihat hidangannya babak belur. Atau mungkin ia mengira penjaga Bejo rakus juga. Tapi Puang Sanro seolah tak percaya itu. Ia lalu memandang ke sekeliling Sungai Bejo jangan sampai ada penjaga Bejo tandingan. Dan cess, hatiku berdegup kencang manakala kulihat Puang Sanro menatap ke arah persembunyian kami tanpa berkedip. Kutarik cepat-cepat Ambo Sakka bergeser ke arah kiri ke tempat yang agak berlubang dan tersembunyi. Hatiku tambah ketar-ketir, kulihat Puang Sanro berbicara kepada tamu-tamunya sebentar lalu ia menuju ke arah tempat persembunyian kami dengan menyibak rerumputan dan pepohonan. Aku dan Ambo Sakka berpegangan erat dan berdiam di dalam gua persembunyian sambil berharap Puang Sanro tidak menemukan kami.
”Baca ayat kursi tiga kali” bisik Ambo Sakka.
Aku hampir saja tertawa lepas mendengar bisikan Ambo Sakka. Karena biasanya yang dibacakan ayat kursi supaya menjauh hanyalah setan dan sekutu-kutunya. Ataukah Ambo Sakka menuduh pamannya adalah setan? Aku tak heran.
Puang Sanro sudah berada di tempat persembunyian kami. Untungnya cuma kami berdua, andaikan teman-temanku ikut bersama kami termasuk Nia pastilah kami sudah tertangkap basah oleh Puang Sanro. Dari celah pepohonan aku bisa mengamati wajah Puang Sanro yang semakin heran melihat rerumputan dan pepohonan kecil luluh lantak seperti tempat bersabung ayam secara sembunyi-sembunyi. Aku lagi-lagi hampir tertawa ngakak melihat Ambo Sakka pontang-panting menghalau semut hitam yang mengerubungi kakinya, tapi bukan karena gara-gara Puang Sanro saja aku tidak tertawa tapi semut hitam juga mulai menyerang kakiku.
”Bertahan Beddu, nanti kita kelihatan sama Puang Sanro.”
Aku dan Ambo Sakka mencoba bertahan dari gigitan semut hitam yang luar biasa sakit. Beruntung, kulihat Puang Sanro meninggalkan tempat persembunyian kami dengan mengutuk, ”Penyabung ayam tengik, mana bisa judinya beruntung kalau tidak direstui oleh penjaga Bejo.” Kami tak perduli dengan omelan Puang Sanro karena kami bersiap-siap segera meninggalkan tempat itu.
Akhirnya kami menyusul teman-teman satu regu. Dayat dan Anton menjejali kami dengan berbagai pertanyaan melihat wajah kami yang agak memucat serta kaki kami yang memerah akibat gigitan serangga. Bahkan kakiku agak berdarah karena tadi kugaruk secara kasar. Setelah aku ceritakan semuanya, kami tertawa terbahak-bahak, hanya Nia yang tersenyum dikulum saja, tapi ia bergegas memeriksa kakiku dengan mimik yang sedih.
”Aku juga diperhatikan, jangan cuma Beddu seorang.” Ambo Sakka protes menggoda. Nia nampak malu-malu. Aku mencoba menerka ge-er, cinta adalah sebentuk perhatian.
Lalu. Aku meminta kepada teman-teman regu agar tidak menceritakan pengalaman kami itu kepada regu Hutbah dan Umar. Aku takut mereka akan keceplosan membocorkan ulah kami sehingga warga di sekitar Sungai Bejo dan Hutan Lindung Balang memboikot kami. Ujung-ujungnya akan mematikan kreativitas Kompita. Aksi kami memang tergolong nekad dan kurang ajar di mata warga yang percaya akan kekeramatan Sungai Bejo.
Matahari sudah condong ke arah Barat ketika kami bertemu kembali dengan rombongan Umar dan Khutbah yang menyusuri Hutan Lindung Balang dari arah timur. Hutan Lindung Balang memang tidak terlalu luas. Makanya kami para siswa harus peduli dengan hutan lindung tersebut. Kami memperkirakan kalau Hutan Lindung Balang tidak dijaga dengan baik maka tahun-tahun mendatang akan terjadi banjir bandang di Kabupaten Sinjai.
Ketika melihat Nia sedikit terpincang, Hutbah langsung berujar, ”Sepertinya ketua rombongan tidak peduli dengan anggotanya ya.” Hutbah rupanya masih suka menggoda Nia yang notabene mantan kekasihnya dalam surat karyaku. Hutbah memang begitu, bukan tipe pemalu sepertiku.
”Untung ada Kak Beddu yang mengobati kakiku yang lecet.” Nia terkesan membelaku.
”Artinya?” Hutbah terus menggoda.
”Sudahlah Hutbah, kasihan Nia.” Ujarku menghentikan godaan Hutbah yang berantai dan tak berkesudahan.
Selanjutnya, untuk menenankan hati, kami mengajak teman-teman yang belum sholat dhuhur untuk sholat dulu. Setelah itu, aku meminta Umar sebagai ketua Kompita untuk membuat program selanjutnya. Umar mengusulkan agar anggota tim Kompita harus membuat sticker di tas ransel masing-masing yang intinya peduli sama lingkungan. Berarti kami mengganti sticker di ransel kami. Hutbah mengusulkan sticker ”Jagalah Hutan Kita”. Anton menganggap jargon yang diusulkan Hutbah tidak keren, lalu ia mengusulkan jargon ”Hutanmu, Hutanku, Hutan Kita”. Dayat cekikikan mendengar ide Anton. Ketika Anton protes ke Dayat, Dayat seenaknya menjawab, ”Aku kira kau bilang Utangmu Utangku Utang Kita”. Kami tertawa lepas, dan sedikit merenggangkan urat-urat saraf kami yang kelelahan menyusuri Sungai Bejo dan Hutan Lindung Balang. Kami benar-benar bahagia punya teman duo Abu Nawas dan Lamellong.
Nia mengusulkan sticker ”Amankan Hutan, Amankan dunia”. Umar yang mengusulkan sebaiknya jargon memakai Bahasa Inggris saja supaya lebih membanggakan. Dengan jargon Bahasa Inggris berarti anggota Kompita terkesan semuanya bisa Bahasa Inggris. Akhirnya aku mengusulkan jargon dalam Bahasa Inggris, tapi aku cuma menerjemahkan jargon yang sudah disebut oleh Nia menjadi ”SAVE THE JUNGLE! SAVE THE WORLD”.
”Kerjasama yang luar biasa.” Dayat dan Anton tak kuasa menahan penyakitnya untuk ikut menggoda Nia. Nia seperti biasa, mukanya bersemu merah seperti menjiwai candaan tadi.
Kami meninggalkan kawasan Hutan Lindung Balang lewat arah timur dengan berjalan kaki menuju Dusun Jatie. Rencananya di Jatie kami naik mobil menuju Bikeru. Melihat kaki Ambo Sakka dan kakiku yang agak merah membengkak, Dayat dan Anton tak mampu menahan gelak tawanya tanpa peduli penderitaan dan degup jantung kami. Supaya teman-teman lain tidak menaruh curiga aku juga tertawa lepas sambil berujar mengerjai Ambo Sakka, ”Semut di kakimu Ambo.” Ambo Sakka terperanjat kaget mengangkat kakinya dan tanpa sengaja menginjak kaki Anton yang langsung meringis kesakitan. ”Rasakan galaknya semut!” Aku membatin sambil tertawa lepas. Teman-temanku yang lain ikut tertawa-tawa tanpa mengetahui apa kejadian sebenarnya. Tapi kami benar-benar rileks dengan keadaan itu.

Dul Abdul Rahman, dulabdul@gmail.com (sastrawan, novelis, peneliti, praktisi pendidikan).
Menulis buku:
1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009)
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)







Jumat, 11 Maret 2011

POHON-POHON RINDU dul abdul rahman (BAB 6 KELOMPOK PECINTA ALAM

6. KELOMPOK PECINTA ALAM

Demi menghargai usul Umar, akhirnya kami berlima sepakat membentuk kelompok Pecinta Alam atau disingkat KOMPITA. Kami sepakat untuk memberi peran yang lebih besar kepada Umar. Kami sepakat untuk mengangkat Umar sebagai ketua Kompita. Hemat kami, Umar sebenarnya tidak begitu nakal dan akan berhenti merokok bila diberi pengertian, serta diberi peran yang membuatnya bangga. Kala itu memang aku melihat Umar sebenarnya tidak enjoy merokok, bahkan kadang-kadang ia batuk-batuk seperti orang tertular penyakit TBC. Umar hanya merokok agar ia disebut jago.
Dulu memang ada kebiasaan jelek di Bikeru, bahkan di kabupaten Sinjai pada umumnya. Anak-anak merasa hebat dan gaul bila merokok. Biasanya anak-anak yang merokok adalah anak-anak yang tidak punya sesuatu hal untuk dibanggakan. Anak-anak yang punya prestasi apalagi dapat ranking di sekolah pastilah mereka tidak mau dan malu merokok. Aku pikir, seandainya Pak Chaeruddin dulu memahami hal tersebut dengan baik, pastilah sejak dulu Umar berhenti merokok. Misalnya Pak Chaeruddin mengangkat Umar sebagai tukang kampanye anti rokok di sekolah pastilah Umar berhenti merokok. Bukankah dengan menjadi tim kampanye anti rokok Umar sudah mendapat peran yang penting dan bisa disebut sebuah prestasi yang tentu saja akan membuatnya bangga dan dikenal. Begitulah, di lingkungan tempat kami tinggal dulu, anak-anak yang nakal biasanya diberi peran menjadi anggota remaja mesjid sehingga kebiasaan nakal mereka yang negatif itu berangsur-angsur menjadi positif. Tentu saja anak-anak nakal harus diarahkan terlebih dahulu, jangan diberi peran begitu saja tanpa arahan, siapa tahu dengan peran itu mereka kian kebablasan. Umar sendiri telah memilih jalan yang benar, ia berteman dengan orang-orang baik dan pintar seperti Dayat, Anton, dan aku.
Ada yang lucu waktu pertama kali kami akan memilih ketua Kompita. Dayat yang memang bertampan seperti Pelawak Doyok mengusulkan persyaratan utama untuk menjadi ketua Kompita adalah orang yang beriman dan berakal sehat. Dayat sebenarnya bermaksud melucu tetapi menohok Umar, karena diantara kami berlima kelihatannya hanyalah kadar iman Umar yang agak imitasi. Kadangkala bila waktu sholat tiba, kami bergegas melaksanakan sholat kecuali Umar yang katanya suka meng-jama’ dan meng-qashar shalatnya, sedangkan berakal sehat katanya siswa yang tidak suka menyontek dan tidak mau dikerjakan PRnya, untuk golongan ini bukan hanya Umar tapi Hutbah juga termasuk. Selanjutnya Anton yang juga tanpa sengaja bertampan seperti Pelawak Kadir memberi usul yang tak kalah menohok dari ide Dayat, karena Anton punya usul bahwa yang bisa jadi ketua Kompita adalah siswa yang tidak berperilaku mengganggu lingkungan. Menurut Anton, perilaku merokok mengganggu lingkungan. Tapi alasan Anton masuk akal. Ketika Umar langsung protes, Anton menjawab bahwa pecinta alam tidak boleh merusak alam dengan asap rokok. Alasan Anton membuat kami terbahak-bahak. Hutbah malah sakit perut karena ketawanya disimpang diperut padahal sebelumnya ia juga disinggung oleh Dayat. Mungkin ia menjaga perasaan Umar yang memang nampak babak belur dihantam persyaratan jadi ketua Kompita karena dua persyaratan yang diajukan oleh Dayat dan Anton tak berpihak kepadanya. Tapi aku terus menyemangati Umar.
Laiknya pemilihan ketua organisasi kemasyarakatan atau partai politik, setelah mengalami proses panjang yang demokratis dan elastis karena kami lebih banyak bercandanya, akhirnya kami semua bahagia, karena Umar siap memegang amanah sebagai ketua Kompita dengan bersedia memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Dayat dan Anton. Artinya Umar akan berhenti merokok dan siap jadi orang alim. Soal menyontek, ia mengatakan akan berubah sedikit demi sedikit kecuali Matematika dan Bahasa Inggris yang memang kata Umar sendiri tak cocok dengan jenis otaknya. Jadi yang paling membahagiakan sebenarnya adalah kami berhasil menyadarkan lagi satu teman. Tapi aku tidak setuju kalau Umar merasa jenis otaknya tak cocok dengan Matematika dan Bahasa Inggris karena salah seorang kakaknya yang kuliah di Jurusan Matematika IKIP Ujung Pandang (sekarang Universitas Negeri Makassar) mendapat beasiswa penelitian ke Australia.
Kami benar-benar tak salah memilih karena rupanya Umar mempunyai banyak ide-ide yang cemerlang. Ia yang membuat program kegiatan Kompita, kami hanya memberi saran, tapi memang semua program yang ditawarkan Umar langsung berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Program utama adalah menjaga dan mengawasi kelestarian Hutan Lindung Balang di Jatie yang memang belakangan kurang mendapat perhatian dari pemerintah, terjadi penebangan liar dimana-mana. Kami khawatir kalau tidak ada yang peduli dengan Hutan Lindung Balang ini kelak akan terjadi banjir bandang di Kabupaten Sinjai.
Program utama yang sudah dibuat Umar adalah peduli Hutan Lindung Balang. Setiap hari minggu kami akan menyusuri kawasan Hutan Lindung Balang Setiap bertemu dengan warga kami akan memberikan pengarahan-pengarahan betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kami menjelaskan bahwa hutan sangat berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem alam. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia, hutan menjaga kestabilan udara. Disamping itu hutan mencegah terjadinya banjir bandang. Intinya merusak hutan berarti merusak kehidupan diri sendiri.
Kami pun menjelaskan kepada warga istilah global warming. Warga yang tinggal di sekitar wilayah Balang atau Korong yang rata-rata tak punya pendidikan tak tahu menahu apa itu global warming atau pemanasan global. Kami memberi penjelasan bahwa pemanasan global berarti dunia makin panas akibat menipisnya kawasan hutan, dan hutan di Indonesia termasuk hutan yang terluas di dunia, jadi boleh dikatakan Indonesia adalah paru-paru dunia. Karena menipisnya hutan pula maka es di kutub utara akan mencair sehingga lama kelamaan bumi akan tenggelam, sehingga akan terjadi kiamat. Kala itu kami memberi penjelasan apa adanya tentang pemanasan global. Harapan kami sesungguhnya bukan pada pengetahuan masyarakat tentang global warming, efek rumah kaca, tetapi kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam dengan tidak menebang pohon di kawasan Hutan Lindung. Dan kami lihat hasilnya sangat memuaskan karena masyarakat di sekitar Hutan Lindung Balang mulai sadar akan pentingnya manfaat hutan. Hanya saja yang membuat kami susah memahami adalah terkadang ada petugas Hutan Lindung yang kadang tidak melindungi hutan itu sendiri. Aneh memang di negeri ini, terkadang peraturan dibuat hanya untuk dilanggar. Begitulah. Manusia sering serakah merusak alam, ketika terjadi bencana alam mereka menyalahkan Tuhan dan takdir, padahal merekalah yang merusak takdirnya sendiri. Begitulah sifat manusia. Selalu lempar batu sembunyi tangan. Tak bertanggung jawab.
…
Kami berlima benar-benar menjadi branding sekolah. Setelah mading kelas kami begitu terkenal dan paling disukai pembaca, selanjutnya kami punya terobosan baru dengan Kompita. Kami bukan hanya dikenal di sekolah, tapi juga di lingkungan masyarakat. Kami memang pelajar yang bukan hanya belajar di sekolah, juga belajar pada masyarakat dan belajar bermasyarakat. Hemat kami, dengan berbagai kesibukan yang positif menghindarkan kami dari hal-hal negatif, karena memang kami tak punya waktu untuk berpikiran negatif. Kami bukan anak-anak yang pasif.
Karena Kompita mempunyai banyak program, aku memberi masukan pada Umar bahwa sebaiknya merekrut anggota baru. Aku mengusulkan penambahan delapan anggota baru sehingga berjumlah tiga belas orang. Umar langsung mengamini usulku. Selalu memang begitu bahwa Umar tak pernah sekalipun menolak pendapatku. Hanya Hutbah yang menyelisik mengapa harus pakai angka tiga belas. “Angka tiga belas itu pamali, selalu sial,” begitu komentar Hutbah berulang-ulang, mungkin ia bermaksud menakut-nakuti Umar. Tapi sekali lagi Umar tak pernah ragu kalau aku yang bilang, kalau Dayat dan Anton tak ada masalah, karena keduanya “seperguruan” denganku, kami semua sudah tak percaya dengan hal-hal yang berbau magis dan mitos-mitosan. Tapi agar Umar dan Hutbah tak resah dengan angka tiga belas, aku jelaskan panjang lebar.
“Begini Hutbah, memang di berbagai budaya dibelahan dunia ini mempunyai mitos angka yang berbeda-beda. Di belahan dunia Barat, di Amerika Serikat misalnya, angka tiga belas dianggap sebagai angka sial, sampai-sampai banyak hotel yang berlantai dua puluhan tapi tidak punya lantai tiga belas.”
“Akh tidak masuk akal, masak tidak ada lantai tiga belas tapi ada lantai empat belas.” Hutbah nyeletuk tak sabar menunggu penjelasanku.
“Begitulah, bila hotel itu mempunyai dua puluh lantai, berarti, anda boleh menginap di lantai dua puluh satu, karena lantai yang semestinya lantai ke tiga belas, dinamai lantai empat belas, sehingga lantai paling atas atau lantai ke dua puluh pastilah menjadi lantai dua puluh satu.”
“Ooo…begitu.” Mulut Hutbah membentuk huruf O yang panjang. Itu berarti ia sudah tahu betul duduk perkaranya. Teman-temanku yang lain juga manggut-manggut, apalagi Umar yang memang tak kalah penasarannya dengan Hutbah, ia hanya keduluan dari Hutbah untuk bertanya. Supaya mereka lebih memahaminya, aku melanjutkan penjelasanku sambil berharap jangan ada lagi pertanyaan model interupsi.
“Amerika memang benar-benar menganggap angka 13 sebagai angka sial. Lihatlah di abad ke-18 ketika Amerika mengumumkan pembuatan kapal laut yang di sebut The HMS Friday mulai digunakan pada tanggal 13 Hari Jumat, tapi kapal itu beroleh naas dan hilang di lautan. Di tahun 1945 pada tanggal 13 Hari Jumat bom atom pertama kali diujicobakan. Ataukah di tahun 1992 tepat tanggal 13 Hari Jumat, gempa bumi mengguncang Turki dan menewaskan puluhan ribu orang. Tapi lucunya, Amerika Serikat awal mulanya terbagi menjadi tiga belas negara bagian.”
“Bagaimana dengan angka-angka lainnya?” Kala itu Umar yang tak sabar menunggu penjelasanku selanjutnya.
“Di Negara-negara Asia Timur atau dikenal dengan negara ras kuning seperti Jepang, Korea, dan Cina menganggap angka 4 sebagai angka sial. Sehingga banyak hotel di Negara-negara tersebut tidak mempunyai lantai 4, konon katanya angka 4 adalah angka kematian.”
“Kalau begitu angka-angka berapa saja yang mereka anggap beruntung?” Anton rupanya lebih tertarik mengetahui kabar yang baik.
“Orang Cina biasanya menganggap angka 8 sebagai angka keberuntungan. Sedangakan Negara-negara Barat lebih percaya pada angka 7 sebagai angka hoki.”
“Angka 7 sebenarnya jamak dianggap angka keberuntungan.” Kala itu Dayat yang memang saingan utamaku berdiskusi di kelas tak sabaran. Tapi sebagaimana di kelas, aku selalu sedia mendengar pendapat dari Dayat yang memang selalu akurat.
“Bagi orang Islam, angka 7 itu angka keberuntungan. Orang yang berhaji di Tanah Suci Makkah bertawaf di Ka’bah sebanyak 7 kali, langit terdiri dari 7 lapis, satu minggu terdiri dari 7 hari, Surat Al Fatihah sebagai Ummul Qur’an terdiri dari 7 ayat. Bagi orang Bugis Makassar, ada istilah situju-tuju yang berasal dari kata tujuh yang berarti berkecukupan.” Dayat memberi penjelasan.
“Angka 7 buat saya adalah angka kesadaran.” Hutbah ikut nimbrung.
“Maksudmu Hutbah?” Umar penasaran.
“Lihat di stricker ranselku sekarang tertulis ber-217-an.” Diam-diam rupanya Hutbah mengganti sticker lagi.
“Apa maksudnya Hutbah?” Umar kian penasaran.
“Ber-217-an dibaca ber-dua satu tuju-an, artinya sekarang saya bukan tipe playboy lagi, hanya aku dan dia berdua untuk satu tujuan, yaitu menikah kelak.”
Kami terbahak-bahak menutup diskusi kami. Akhirnya satu lagi teman yang sadar akan sifat buruknya. Semoga saja Hutbah benar-benar tak playboy cap kabel lagi, cintanya sambung menyambung dari kelas yang satu ke kelas yang lain.
Begitulah. Ternyata usulku bahwa sebaiknya jumlah anggota Kompita berjumlah tiga belas orang memberi banyak informasi baru buat teman-temanku. Selanjutnya yang kami bicarakan bagaimana cara perekrutan anggota baru, pun apakah perempuan bisa menjadi anggota Kompita. Hutbah yang kami cap juga sebagai playboy “cap surat” karena memang beraninya cuma di surat punya usul yang agak beda dengan cap yang disandangnya, tapi diskusi kami sebelumnya Hutbah memang mengaku sudah berpaham ber-217-an. Hutbah tidak setuju kalau perempuan masuk anggota Kompita. Katanya perempuan mempunyai fisik yang lemah padahal program Kompita berada di alam terbuka yang menantang. Sebaliknya Umar setuju kalau perempuan masuk anggota Kompita, alasan Umar agak filosofis tapi cukup logis Katanya perempuan lebih menjiwai perannya sebagai anggota Kompita karena alam semesta identik dengan perempuan. Umar mengatakan bahwa alam memang berkelamin perempuan buktinya kita hanya menyebut ibu pertiwi bukan bapak pertiwi, ataukah ibu kota bukan bapak kota. Dayat dan Anton netral, artinya perempuan boleh menjadi anggota Kompita boleh juga tidak. Sekali lagi aku yang menentukan, pendapat lagi seri dan aku sebagai suara kelima. Begitulah, angka ganjil sangat cocok untuk berdemokrasi. Meski berdemokrasi juga kita sering berjudi. Berjudi dengan pilihan masing-masing.
Karena alasan Umar yang aku anggap lebih mengena dan bijaksana, apalagi pendapat Hutbah yang relatif dan berbias gender, aku lebih setuju dengan pendapat Umar. Jangan salah! Perempuan kampung tidak manja seperti umumnya perempuan di kota. Begitu pikirku. Karena memang perempuan kampung bisa mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya diperuntukkan untuk kaum adam, seperti memetik cengkeh yang tingginya di atas sepuluh meter, memanjat kelapa, mencangkul, berhuma, dan sebagainya. Intinya, perempuan kampung tidak cengeng dan manja. Perempuan kampung adalah perempuan pekerja dan bersahaja.
Selanjutnya Umar membuat pengumuman lewat mading kami. Kompita akan menerima anggota baru dengan bermacam-macam persyaratan. Persyaratan utamanya adalah calon anggota Kompita harus orang yang beriman, tidak boleh merokok, mencintai alam, jenis kelaminnya harus jelas, harus membuang pikiran-pikiran kotor dan selalu berpikir positif. Ketika Hutbah bertanya mengapa ada persyaratan jenis kelamin harus jelas, Umar menjelaskan bahwa tidak boleh ada waria atau calabai yang bergabung di Kompita, alasannya bila ada camping dan terpaksa menginap di alam terbuka maka calabai susah mengaturnya, apakah menginap di tenda laki-laki atau perempuan. Umar juga menambahkan bahwa calabai sering membawa sial. Pun calabai adalah orang gagal. Gagal menentukan jenis kelamin.
Pemilihan anggota Kompita sepenuhnya kami serahkan kepada Umar dan Hutbah. Biar keduanya merasa diberi tanggung jawab yang lebih. Setelah melalui proses yang ketat karena memang pendaftarnya berkisar empat puluhan, terpilihlah delapan anggota baru, empat laki-laki dan empat perempuan. Yang membuat aku sangat kaget karena Nia termasuk salah seorang yang terpilih dari empat perempuan. Ketika kutanyakan pada Umar, ia menjelaskan bahwa Nia sudah berpengalaman dan berbakat jadi pecinta alam. Masih menurut wawancara Umar, Nia yang alumni SMP Pesantren IMMIM Putri Pangkep senang berliburan ke alam terbuka bersama keluarganya. Satu lagi informasi kudapat tentang Nia, ternyata ia bukan berasal dari salah satu SMP di Kabupaten Sinjai. Berarti Hutbah dulu juga tak mengenal Nia secara mendalam. Persisnya Hutbah cuma sok tahu tentang Nia. Ketika aku konfirmasi pada Hutbah mengapa Nia diterima jadi anggota Kompita, Hutbah mencandaku, temanku yang satu itu yang memang akan masuk surga kelak karena tak pernah dendam dan benci pada orang lain menjawab seadanya, “Sepertinya Nia itu masuk jadi anggota Kompita karena ada kamu Beddu.” Aku tak perduli dengan candaan Hutbah. Karena buatku, Nia adalah sejarahku. Nia adalah perempuan pertama yang menolak cintaku karena memang ia adalah cinta pertamaku. Cinta pertama yang tragis. Penolakan pertama yang membuat hatiku teriris. Begitulah yang kutulis dalam buku harianku. Buku harian yang kelak sangat bermanfaat untuk menulis autobiografiku.
“Benar Beddu. Nia memang masuk jadi anggota Kompita karena ingin selalu dekat dengan kamu.” Hutbah terus berceloteh. Aku diam saja. Karena aku tahu temanku yang satu ini terkadang cara menggodanya keterlaluan. Tapi aku juga senang, karena sepertinya Hutbah sangat ingin melihatku berbahagia bersama Nia. Hutbah juga sepertinya mempunyai bakat jadi psikolog, karena ia tahu bahwa Nia sudah jatuh cinta padaku sejak Nia tahu bahwa aku bukanlah kumbang jelek.
“Benar Beddu, Nia itu sudah jatuh cinta padamu, dan aku yakin kau juga selalu mendambakannya.” Hutbah meyakinkan aku. Tapi aku kian cuek, karena aku juga sudah tahu bahwa Nia tertikam sendiri dengan ulahnya dulu menghinaku. “Makanya jangan main-main dengan Beddu Kamase, bintang sekolah SMU Bikeru.” Aku menghibur diri sendiri.
Dul Abdul Rahman, dulabdul@gmail.com (sastrawan, novelis, peneliti, praktisi pendidikan).
Menulis buku:
1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009)
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)