Selasa, 08 Oktober 2013

STUDI TENTANG ALUR CERITA NOVEL POHON-POHON RINDU KARYA DUL ABDUL RAHMAN DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL


STUDI TENTANG ALUR CERITA NOVEL POHON-POHON RINDU KARYA DUL ABDUL RAHMAN DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL

(Skripsi Nairawati, 2011, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yayasan Perguruan Islam Maros, dibimbing oleh Prof DR H.Kaharuddin, M.Hum dan Drs.Mappa Zubair, S.Pd, M.Pd.)

Ringkasan Hasil Penelitian:
Setelah melakukan penelitian terhadap novel Pohon-Pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman menunjukkan bahwa alur yang digunakan dalam cerita ini ditinjau dari penggambaran peristiwa adalah alur maju. Dimana cerita berkembang secara berurutan dari peristiwa ke peristiwa secara teratur, mulai dari pembeberan awal, komplikasi, klimaks, dan penyelesaian cerita. Namun terlihat bahwa alur tersebut sangatlah tinggi sehingga kelihatan ada alur untuk melihat suatu pengenalan awal cerita, komplikasi, klimaks, dan penyelesaian. Cerita terus berjalan secara rata. Namun demikian, dapat dilihat perkembangannya dari konflik batin dan lingkungannya untuk menggambarkan suatu struktur alur dalam cerita.
Hubungan antara alur dengan tema cerita ini, dapat dikatakan sangatlah tepat dengan menggambarkan pengalaman pribadinya dengan dikelola oleh alur cerita dari peristiwa ke peristiwa secara beraturan.
Hubungan alur dan perwatakan dalam cerita dikatakan bahwa penggambaran hidup pelaku utama dalam cerita diwarnai dengan pemikiran yang tinggi dan begitupun dengan tindakan-tindakan yang berpengaruh pada pola pemikiran yang mengarah kepada perubahan nasib yang mengarahkan pola alur menjadi tinggi.
Dapat dikatakan bahwa ada benturan atau konflik yang nyata didalamnya untuk membedakan suatu perkembangan alur dari loncatan perkembangan. Dari perkembangan inilah dapat dilihat perkembangan alur dalam novel Pohon-Pohon Rindu ini, akan tergambar melalui ringkasan pemaparan dan pembahasan berikut:

1. Struktur alur dalam novel Pohon-Pohon Rindu
            Pada tahap pengenalan cerita dalam novel Pohon-Pohon Rindu, pengarang menggambarkan seperlunya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan cerita, dari lingkungan, tokoh-tokoh yang terlihat di dalamnya, dan berbagai hal lain yang menggambarkan latar belakang cerita untuk proses selanjutnya.
            Dalam novel Pohon-Pohon Rindu, pengarang terlebih dahulu memperkenalkan suasana sekolah para tokoh.

“Masih dalam suasana orientasi penerimaan siswa baru di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan, semua siswa baru tampak sungguh-sungguh mengikuti acara itu, sebab acara itu memang benar-benar pengenalan sekolah terhadap siswa dari jenjang SMP ke SMA.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 5-6)


            Dalam novel Pohon-Pohon Rindu, pengarang memperkenalkan ceritanya dengan menggambarkan karakter pelaku utama ‘aku’ dan para pelaku lainnya, yaitu Anton, Dayat, Umar, dan Hutbah.

“Aku membuat striker  di ranselku bertuliskan ‘No Time For Love’, Anton anak kepala kampung menempelkan striker bertuliskan ‘No Problem’ sesuai dengan kepribadiannya yang cuek bebek, lain lagi dengan Dayat yang bapaknya imam kampung, ia merasa aman dan bangga dengan striker bertuliskan ‘100 % Muslim’ yang merasa alim meskipun di masjid selalu bikin ulah. Meski perokok berat, Umar biasanya merokok secara sembunyi-sembunyi di kantin sekolah, strikernya bertuliskan ‘No Smoking’ maksudnya agar guru BP Pak Chaeruddin tidak mencurigainya. Lain lagi dengan  Hutbah, tasnya ditempeli striker bertuliskan ‘Love is Blind’, kata-kata yang dia dapatkan dariku.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 11)


            Selanjutnya diceritakan tentang pengalaman merayu perempuan oleh tokoh utama (aku, Beddu) melalui sepucuk surat atas nama sahabatnya (Hutbah), walaupun sebenarnya dia juga menyukai perempuan tersebut.

“Kala itu pula, aku belajar menerima pil pahit kenyataan. Merayu perempuan yang ayu dengan perasaan mendayu-dayu karena memang adalah ungkapan hati yang paling dalam, lalu terkirim dengan nama laki-laki lain yang tak punya perasaan, tapi apa boleh buat terkadang hatiku menjerit meratap. Inilah konsekuensi cowok yang tak cakep dan tak punya nyali seperti diriku.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 28)


            Selanjutnya digambarkan kejadian yang membuat tokoh ‘aku’ (Beddu) merasa malu atas tindakannya yang salah menulis nama pada sepucuk surat yang diberikan kepada Nia. Dan Nia mengembalikan surat cinta tersebut dan menyebut Beddu sebagai kumbang jelek yang merindukan sang rembulan, dan itu pula yang menjadi pengalaman pertama Beddu dipermalukan di depan umum. Susah bagi Beddu untuk menggambarkan rasa malu tingkat tinggi tersebut, karena semua yang ada di sekitarnya seolah-olah menertawainya. Dari kutipan inilah muncul konflik.

“Ambil! Aku tak sudi bungaku dihinggapi kumbang jelek. Nia melempar surat cinta yang kutulis kemarin, tapi bukan ke arah Hutbah, melainkan ke arahku. Semua yang di depan perpustakaan itu mendadak menoleh ke arahku dengan pandangan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku seperti mati suri.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 35)


            Sejak kejadian nama yang salah dalam surat itu, Beddu benar-benar malu. Malu kepada teman-teman satu sekolah, terutama pada Hutbah dan Nia. Setiap waktu istirahat tiba, tidak ada lagi acara kantin-kantinan buatnya. Dan setelah kejadian itu pula, Beddu benar-benar jadi penghuni kelas paling setia. Dia jarang meninggalkan kelas meskipun waktu istirahat, dia hanya keluar bila ingin ke WC atau ke ruangan guru. Waktu demi waktu terus berlalu, pada akhirnya Nia mengakui semua tindakannya itu salah dan mencoba minta maaf kepada Beddu. Tetapi Beddu sudah terlanjur malu, dan ia hanya fokus terhadap pelajarannya saja.
            Ketika Beddu dan teman-temannya duduk di bangku kelas tiga, dan menghadapi ujian akhir sekolah, mereka tidak bisa lagi aktif pada acara-acara eksternal Kompita (Korps Pencinta Alam). Akhirnya mereka mengadakan pemilihan ketua kompita yang baru untuk menggantikan Umar. Pemilihan tersebut diadakan di Bukit Bulu Paccing, bukit yang ada di belakang sekolah mereka. Mereka mendukung terpilihnya Nia sebagai ketua kompita yang baru karena Nia mempunyai visi yang visioner.
            Akhirnya Beddu dan kawan-kawannya melewati ebtanas (saat ini: UN) dengan perasaan deg-degan. Ketika tiba saat pengumuman kelulusan sekolah, mereka berlima berencana akan langsung menanam pohon pinus dan pohon-pohon lainnya di Bukit Bulu Paccing sebagai ungkapan nazar, bila lulus sekolah.
            Selanjutnya digambarkan kejadian yang dapat membuat Beddu putus asa dan hilanglah semua angan-angannya untuk jadi mahasiswa dan kandaslah harapannya untuk bisa bersama orang yang dia sayangi:

“Aku menangis, sirnalah angan-anganku untuk jadi mahsiswa dan kandaslah cintaku pada Nia. Aku benar-benar malu, malu kepada kedua orang tuaku, kepada Nia, dan kedua orang tua Nia. Aku mengutuk dan meratapi diri sendiri, mengapa aku tak lulus padahal soal-soal UMPTN bisa kujawab dengan mudah.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 250)


            Beddu sedikit terhibur dengan nasihat klise agen koran bahwa kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda. Ternyata Beddu salah melihat pengumuman, karena ternyata Beddu lulus UMPTN masuk ke Universitas Hasanuddin. Akhirnya Beddu dan kawan-kawannya menjadi mahasiswa.
            Tak terasa Beddu sudah satu semester kuliah di Jurusan Sastra Inggeris Universitas Hasanuddin. Beddu begitu rindu dengan kampung halaman yang telah ia tinggalkan selama enam bulan. Ia rindu kepada kedua orang tuanya yang sangat ia cinta dan junjung. Pun, perempuan yang sangat ia rindukan adalah Nia. Perempuan yang pertama kali menyentuh kisi-kisi cintanya dan menjajahnya. Nia adalah perempuan yang pertama kali membuatnya patah hati karena menyebutnya sebagai kumbang jelek dan mengembalikan surat cintanya dengan kasar. Tentang kegelisahan Beddu dapat terlihat pada petikan berikut:

“Sejak ada telepon dari Nia di Bikeru yang memintaku pulang kampung, apalagi katanya ada acara kumpul-kumpul keluarga, perasaanku sungguh tidak tenang. Aku terus mendesah resah, suasana itu membuatku tak nyaman yang akan menghadapi final test. Kupikir, sebaiknya aku pulang saja dulu ke Sinjai barang satu atau dua hari. Menunggu pagi untuk pulang ke Sinjai adalah sebuah keresahan panjang yang membuat hatiku berdebar-debar, kadang bergetar, seolah-olah menghadapi badai besar. Malam itu benar-benar penantian panjang bagiku, aku bolak-balik masuk kamar kostku, meski teman-temanku terus berteriak memanggilku untuk menonton bersama, aku tak menghiraukannya.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 304)


            Petikan di atas, menggambarkan adanya kegelisahan pada diri Beddu. Ia terus gelisah karena tiba-tiba mendapat telepon dari orang yang dia sayangi. Lewat telepon, Nia memang terus merajuk meminta Beddu pulang ke Sinjai. Lalu akhirnya Beddu memutuskan untuk pulang ke Sinjai.
            Dalam perjalan pulang ke Sinjai, Beddu mengkhayalkan dirinya bersama Nia yang akan menikah muda. Beddu juga mengingat pesan para tetua di kampungnya tentang seorang laki-laki yang ingin menikah.

“Khayalanku bersama Nia benar-benar bolak-balik, karena sesungguhnya aku tak mau menikah kalau aku belum mampu menafkahi isteriku. Aku teringat pesan seorang tetua di kampungku, bila seorang lelaki ingin menikah ia harus mampu mengelilingi dapur tujuh kali terlebih dahulu. Makna dari pesan itu adalah laki-laki tak boleh menikah sebelum merasa mampu menafkahi isterinya. Terus terang, aku belum mampu menafkahi Nia.” (Pohon-Pohon Rindu: 2009: 308)

            Dari gambaran di atas terlihat bahwa pelaku utama memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Ia memiliki rasa tanggung jawab bilamana sudah menikah kelak, meski ia harus menikah muda.
            Dalam perjalanan pulang ke Sinjai, khayalan Beddu setengah mimpi bersama dengan Nia. Mereka berdua seolah berada di bibir Pantai Tanjung Bira dalam balutan busana pengantin. Tapi Beddu memakai pakaian pengantin serba hitam seperti orang Kajang atau orang sedang berduka cita. Pakaian Beddu sangat kontras dengan pakaian Nia yang berwarna putih bak Puteri Cinderella. Mereka berdua terus bergandengan tangan. Nia terus merajuk agar Beddu menggendongnya menuju ke laut lepas. Ketika berada di bibir pantai, tiba-tiba mereka mendengar gemuruh ombak laksana tsunami yang tiba-tiba menerjang mereka dengan kecepatan setan. Beddu berusaha menyelamatkan Nia, namun Nia terseret ke tengah lautan. Begitulah mimpi Beddu.
            Kepahitan yang dihadapi oleh sang tokoh utama Beddu karena kehilangan perempuan yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Seperti pada kutipan berikut:

“Beri minum dulu, baru diberi tahu kabar kekasihnya. Seorang tetangga ikut prihatin, aku kian deg-degan. Tiba-tiba kakak Nia yang koas di Rumah Sakit Regional Wahidin Sudirohusodo sebagai dokter muda, Mila, datang meraung-raung memanggil nama adiknya dan juga namaku. Ia langsung menubruk dan memelukku. ‘Innalillahi…’ Kudengar kalimat itu dari seseorang yang sejak aku berada di rumah itu sudah meneteskan airmata. Aku tak mendengar semua isi kalimatnya, karena tiba-tiba aku merasakan ada gelombang tsunami yang menerjang aku dan Nia. Kulihat Nia terseret oleh ombak dan aku hanya bisa berteriak. ‘Niaaaa….!!!” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 327)


            Petikan cerita di atas menunjukkan betapa hancurnya hati Beddu dan keluarga Nia serta kerabatnya yang kehilangan orang yang sangat mereka sayangi. Setelah Beddu sadar, para kerabat dan tetangga almarhumah Nia memeluknya secara bergantian dan memintanya bersabar.
            Ketika jasad Nia akan dikebumikan, Beddu dipanggil dan dipapah untuk melihat jenazah orang yang dicintainya untuk terakhir kalinya. Beddu membuka penutup wajah jenazah kekasihnya pelan-pelan. Tanggul airmatanya tak bisa terbendung lagi. Bobol untuk kesekian kalinya. Dia mengecup kening jasad Nia penuh haru, bahkan air matanya terus berlinang membasahi wajah kekasihnya yang tak bernyawa. Akhirnya, tanah merah pemakaman Nia menjadi tumpuan air mata Beddu yang kesekian kalinya, saat itu Beddu berjanji untuk menerima takdir itu dengan ikhlas.
            Setelah Nia meninggalkannya untuk selama-lamanya karena kanker darah yang menggerogoti tubuhnya, Beddu merasa seperti kehilangan separuh hidupnya. Dan dia tidak ingin keluarga Nia terus menumpahkan kerinduannya kepada orang tercintanya yang telah tiada lewat bayang-bayang dirinya. Dan Beddu takut bila terus seperti itu, ia menampakkan dirinya sebagai Nia, lama-kelamaan dia akan menjadi halusinasi buat mereka, ujung-ujungnya mereka terkena penyakit halusinasi yang akan membuat mereka gila.
            Akhirnya Beddu mengambil keputusan untuk meninggalkan Sinjai, Makassar, bahkan Indonesia. Dan ini pula yang menjadi penyelesaian dari cerita. Itu dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Aku sudah membuat satu keputusan, aku akan meninggalkan Makassar dan Sinjai, bahkan Indonesia. Aku tak mau membiarkan keluarga Nia terus-menerus menumpahkan airmata. Terkadang, hatiku pun masih menjerit manakala teringat Nia, terhimpit sakit yang menggigit. Teramat sedih dan perih tapi aku harus mencari kehidupan baru untuk menatap hidupku ke depan dengan wajah baru. Tempat yang aku tuju adalah Malaysia, aku akan tinggal di Kedah dan kuliah di UUM(Universiti Utara Malaysia) di kawasan Hutan Sintok, Kedah Darul Aman.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 343)

            Gambaran ini merupakan penggambaran akhir sebuah penyelesaian cerita dimana Beddu akan meninggalkan kampung halamannya yang penuh kenangan indah yang sudah mereka lalui bersama dengan orang-orang yang ia sayangi. Beddu melakukan semua itu demi keluarga almarhumah Nia karena Beddu tidak ingin kerabat almarhumah Niaa hidup dalam halusinasi terus menerus. Dan Beddu pun berjanji, bahwa dimanapun berada ia akan selalu menjaga dan merawat hutan karena pohon-pohon adalah lambang cinta antara Beddu dan Nia ketika mereka mengikrarkan hubungan mereka dulu di Bukit Bulu Paccing di Bikeru Sinjai.
            Sebelum berangkat ke Malaysia, Beddu akan minta izin dulu kepada kedua orang tua dan kakak-kakak Nia. Beddu akan berpamitan dengan alasan untuk melakukan penelitian dan biaya penelitian akan ditanggung oleh Universitas Hasanuddin. Beddu khawatir, bila ia jujur, maka keluarga almarhumah Nia akan bertambah sedih.
            Pagi-pagi sekali Beddu tiba di pusara kekasihnya, Beddu bersimpuh luluh di depan pusara perempuan yang amat dicintainya. Airmatanya menetes, airmata kerinduan, airmata perpisahan.

“Sebagai janjiku dulu ketika kami sepakat untuk saling mengasihi dan mencintai, bahwa jika aku merusak hutan, berarti aku menyakitinya. Hutan dan Nia adalah dua hal yang tak bisa kulupakan. Oh Sinjaiku! Niaku! Bidadariku! Aku mencintaimu, merindukanmu. Kini aku akan pergi jauh, tapi aku akan selalu menjagamu. Aku berjanji akan menjaga dan melestarikan kawasan Hutan Lindung Balang sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir, Duhai Cintaku. Aku akan menjaga semua hutan yang ada di Sinjai bahkan di seluruh Indonesia dan dunia sekalipun.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 349)


            Demikianlah akhir cerita dengan keputusan Beddu untuk meninggalkan kampung halamannya. Ia bertekad menjaga seluruh hutan dimana saja ia berada. Maka Beddu pun menyatakan, “Tersenyumlah duhai pepohonan, tersenyumlah duhai hutan, tersenyumlah duhai kekasihku. Oh Niaku! Bidadariku! Hutanku!”
            Akhirnya Beddu kian jauh meninggalkan pusara Nia, meninggalkan Hutan Lindung Balang. Dan samar-samar yang nampak hanyalah pepohonan, terlihat senyum Nia disitu, sambil melambaikan tangan.
            Airmata bercucuran.

2. Hubungan antara tema dan alur cerita novel Pohon-Pohon Rindu
            Tema digunakan secara luas untuk menyatakan makna total mengenai kesatuan artistic. Dari tema tersebutlah cerita dikembangkan oleh plot atau alur dalam sebuah cerita. Plot merupakan mesin dari tema, lebih dari tema itu sendiri. Plot juga merupakan garis-garis dalam sebuah cerita yang merupakan proyeksi temporal terhadap struktur tematik. Dengan demikian dapat digambarkan sebagai suatu sistim, oleh sebab itu, tema merupakan bahan baku yang akan diproses oleh alur dan menghasilkan suatu cerita dengan dukungan perwatakan dan latar.
            Tema dapat terbentuk dari sejumlah ide, tendensi, motif, atau amanat yang sama, yang tidak bertentangan satu sama lain. Dalam arti yang luas, tema adalah sebuah cerita yang memiliki gagasan, tujuan, bentuk, dan ajaran yang dikandungnya, tapi diberbagai bentuk mempunyai suatu hubungan yang erat dalam suatu sisi pokok yang menjadi penekanan pengarang dalam sebuah cerita. Dengan demikian, tema di interrelasikan dan diproses dalam plot atau alur, sehingga dapat terbentuk suatu cerita.
            Agar lebih jelas hubungan antara tema dan alur dalam novel Pohon-Pohon Rindu, maka terlebih dahulu ditentukan tema cerita tersebut. Berdasarkan informasi dalam novel ini, maka temanya adalah pengalaman menjaga hutan yang ada di lingkungannya. Tema cerita ini disimpulkan berdasarkan gambaran peristiwa yang ada dalam cerita yang mengarah kepada suatu pengalaman hidup sang pengarang yang sekaligus sebagai pelaku utama dalam cerita dengan sudut pandang ‘aku’. Dalam cerita ini dikisahkan tentang peristiwa yang dialami oleh pelaku utama dan sahabat-sahabatnya tentang bagaimana menjaga dan melestarikan hutan yang ada di lingkungannya. Diceritakan antara lain tentang siswi baru, nama dalam sepucuk surat, hutan lindung balang, Sungai Bejo, cinta di Bukit Gojeng, parakang di Sumpang Ale’, falsafah hidup, janji di Bulu Paccing, menjadi mahasiswa, rindu, mimpi aneh, cinta dan halusinasi, dan lain-lainnya.
            Informasi yang dapat mendukung tema cerita, akan digambarkan melalui penjelasan di bawah ini, sehingga penentuan tema tersebut berdasarkan pada pandangan yang logis dan dapat mendukung cerita.
            Pada bagian-bagian awal, pengarang memulai ceritanya dengan mengisahkan keadaan Sungai Bejo yang banyak dikunjungi oleh penduduk dari berbagai penjuru. Sungai tersebut dianggap sebagai sungai keramat. Seperti cerita berikut ini:

“Aku mengusulkan Sungai Bejo sebagai tempat pertama yang dikunjungi karena lokasi sungai itu masih termasuk dalam kawasan Hutan Lindung Balang, dan dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Sungai Bejo amatlah kecil untuk dikatakan sebuah sungai bila dibandingkan dengan Sungai Apareng yang merupakan sungai terpanjang di Sinjai, Sungai Mangottong, Sungai Pangesoreng, atau Sungai Garaccing. Bila melewati Sungai Bejo cukup dengan melompat saja, tapi tidak ada yang berani melewati Sungai Bejo dengan melompat karena khawatir lompatannya tidak sampai dan akan terperosok ke dalam sungai yang dalam itu.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 101)


            Penggalan cerita di atas terlihat suata gambaran pengarang tentang pengalamannya pada saat mengunjungi Sungai Bejo. Sungai yang juga sangat ramai dikunjungi oleh penduduk karena dianggap sungai keramat. Sungai yang sesungguhnya tidak luas tetapi sangat dalam dan berbahaya.
            Selanjutnya Beddu menceritakan tentang perjalanannya bersama anggota Kompita (Korps Pencinta Alam) mengunjungi salah satu tempat bersejarah yaitu taman purbakala Batu Pakke Gojeng. Seperti berikut ini:

“Salah satu tempat bersejarah yang akan dikunjungi anggota Kompita adalah taman purbakala Batu Pakke Gojeng. Taman purbakala itu terletak di sebelah barat Kota Balannipa, ibukota Kabupaten Sinjai, tepatnya di Bukit Gojeng dengan ketinggian 85 meter dari permukaan laut. Untuk mencapai puncak, pengunjung harus menyusuri kurang lebih 182 anak tangga. Dan, dari puncak gojeng itulah, para pengunjung dapat menyaksikan deretan sembilan pulau yang menyembul dari dasar laut.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 123)


            Petikan di atas jelas tergambar suatu tempat bersejarah yang ada di ibukota Kabupaten Sinjai. Taman beresejarah tersebut banyak dikunjungi oleh masyarakat. Dari ketinggian tempat tersebut, para pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Sinjai dan juga deretan pulau di Pulau Sembilan.
            Beddu juga menceritakan pengalamannya bersama para sahabatnya mengunjungi Hutan Sumpang Ale’. Hutan tersebut terletak di perbatasan Sinjai dan Bulukumba yang mulai ramai dibabat untuk dijadikan lahan pertanian. Seperti berikut ini:
“Hutan Sumpang Ale’ terletak di daerah perbatasan Sinjai dan Bulukumba, hutan ini merupakan pemasok oksigen terbesar di wilayah Sinjai dan Bulukumba. Sayangnya, sedikit demi sedikit hutan itu menjadi lahan pertanian bagi warga, meski tidak ada hak kepemilikan tanah, warga tetap saja menggarapnya dengan semena-mena. Anehnya, pemerintah setempat tak peduli sama sekali, bahkan mantan pejabat daerah turut menguasai lahan tersebut.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 209)


            Petikan di atas menunjukkan bahwa tidak adanya perhatian pemerintah setempat dengan kondisi hutan yang kaya akan pemasok oksigen, tapi justru sebagian aparat pemerintah ikut merusak kelestarian hutan tersebut dengan beramai-ramai membuka lahan pertanian di hutan tersebut.
            Setelah mengunjungi berbagai macam tempat, dan berkampanye tentang pentingnya menjaga lingkungan, akhirnya tibalah saatnya Beddu dan kawan-kawan mengikuti ujian akhir sekolah. Ketika tiba saat pengumuman kelulusan sekolah, mereka pun bernadzar akan menanam pepohonan di Bukit Bulu Paccing. Berikut kutipannya:

“Kami berlima berencana akan langsung menanam pohon pinus atau pohon-pohon lainnya di Bukit Bulu Paccing sebagai ungkapan nadzar, bila lulus sekolah.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 238)


            Gambaran di atas merupakan gambaran yang patut dicontoh oleh anak-anak generasi sekarang. Betapa mulianya niat mereka untuk menanam pohon demi kelestarian pepohonan di Bukit Bulu Paccing.
            Semenjak tamat SMA, mereka semua tetap menjaga dan merawat hutan seperti saat-saat mereka di SMA. Bahkan Beddu bersama orang yang paling disayanginya mengucapkan janji bahwa sampai kapanpun tetap akan mencintai hutan karena hutan dan pepohonan menjadi lambang dan simbol cinta mereka.
            Dengan demikian, dari tema cerita ini apabila dihubungkan dengan alur umum maka dapat dikatakan bahwa antara tema, alur cerita terjadi suatu hubungan baik secara fisik maupun secara batiniah. Dalam arti bahwa hubungan alur dalam tema secara batin melalui rangkaian pemikiran pengarang tentang proses cerita yang dirangkaikan dengan berdasarkan peristiwa fisik dan dari berbagai peristiwa yang diawali selama perjalanan hidupnya menjaga dan merawat hutan yang ada di lingkungannya.
            Hal ini menunjukkan bahwa alur menjadi alat atau sarana yang memproses tema. Tema yang lahir dari berbagai pengalaman hidup pelaku, kemudian dijalankan oleh alur sebagai mesin yang menjadi sebuah cerita. Dari pokok persoalan yang dialami pelaku utama dan sahabat-sahabatnya kemudian dirangkai atau dihubungkan oleh alur peristiwa ke peristiwa menjadi rangkaian yang logis. Antara tema dan alur tersebut merupakan bagian yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Sebab tema tak akan mungkin berjalan tanpa kehadiran alur yang akan merangkai pokok persoalan tersebut. Sedangkan alur tak akan mungkin berjalan tanpa adanya persoalan pokok atau persoalan utama yang akan dibicarakan atau dipersoalkan. Jadi, kedua bentuk struktur cerita ini saling mengisi dan mendorong dalam sebuah cerita.
            Dengan demikian, keterkaitan antara tema cerita dan alur cerita dalam novel Pohon-Pohon Rindu menunjukkan bahwa tema cerita yang menyangkut pengalaman hidup menjaga dan melestarikan hutan. Pelaku utama dan para sahabatnya ini dirangkai dengan alur maju. Tema yang diangkat pengarang tersebut kemudian diproses alur secarai berangkai dan beraturan dari awal sampai akhir cerita.
Demikianlah gambaran antara alur dan tema dalam novel Pohon-Pohon Rindu yang telah memberikan informasi tentang suasana cerita yang memperlihatkan hubungan logis, yang melahirkan sebuah cerita nyata.

3. Hubungan antara alur dan perwatakan cerita novel Pohon-Pohon Rindu
            Dalam suatu karya sastra, kita lebih cenderung melihat pada keterlibatan perwatakan dalam suatu cerita daripada alur atau plot. Menurut JW Marriot dalam Muzakkar, menegaskan bahwa seluruh cerita pada dasarnya dapat dipelajari melalui perwatakan. Dari perwatakan itulah kita dapat melihat alur cerita, latar, gaya bahasa, dan hal lain dalam cerita. Karakter dalam cerita dapat menumbuhkan plot atau plot digerakkan oleh tindakan. Plot cerita dapat berkembang sesuai dengan perwatakan. Ke arah mana sebenarnya cerita berkembang didasari oleh bagaimana perwatakan cerita tersebut.
            Bila dalam novel Pohon-Pohon Rindu perkembangan plot dikatakan tinggi karena novel itu menceritakan suatu perjalanan hidup pelaku utama semasa di SMA sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dimana perjalanan hidup yang menggambarkan suatu hal yang sangat wajar dalam pemikiran dan pengalamannya. Apa yang dilihat, apa yang didengar, dan apa yang dirasakannya digambarkan secara lengkap. Dengan suatu peristiwa yang luar biasa yang dapat mengalihkan jalan nasibnya.
            Watak yang dimiliki oleh pelaku utama adalah seseorang yang dapat dikatakan dalam tahap belajar pada segala situasi dan pemeliharaan dan juga pelestarian hutan di lingkungannya. Sehingga peristiwa yang dialami pelaku utama tak lepas dari peristiwa yang terjadi dalam kemasyarakatan. Dalam cerita ini sederhana tapi unik karena perkembangan alur yang tinggi, dimana para pelaku dapat bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di sekelilingnya, dengan menyatakan bahwa kelestarian hutan sangat penting, dan para pelaku melakukan kegiatan yang sangat mengagumkan yaitu mereka menjaga dan melestarikan hutan sama halnya seperti mereka menjaga dan merawat cinta yang mereka miliki. Dan dapat membedakan perkembangan alur yang menyatakan suatu alur menuju ke penyelesaian cerita.
            Hal itu menunjukkan bahwa watak yang dimiliki pelaku utama diwarnai oleh pemikiran yang tinggi, karena dalam berbuat dan bertindak dapat mempengaruhi perkembangan alut cerita. Hal ini yang menyebabkan alur cerita menjadi tinggi hingga cerita sampai selesai. Adapun konflik yang terjadi dalam cerita ini yaitu yang dapat merubah nasib pelaku, dan memberikan pengalaman yang sangat luar biasa bagi pelaku.
            Namun demikian, perubahan nasib pelaku ada juga bila ditinjau dari sudut pandang pengalaman hidupnya. Dari konflik dalam cerita yang berkaitan dengan lingkungan memberikan suatu kekayaan batin dan banyak belajar dari peristiwa tersebut dan di sinilah perubahan jalan nasibnya tentang bagaimana seharusnya ia bertindak, berfikir dan mengambil suatu keputusan. Hal itu diambil dari pengalaman hidupnya dalam lingkungan keluarganya dan juga masyarakat.
            Dengan demikian, hubungan antara alur dan perwatakan dalam novel Pohon-Pohon Rindu ini, jelas seperti cerita pada umumnya bahwa perwatakan dapat mempengaruhi alur cerita. Alur diarahkan sesuai dengan perwatakan dalam cerita. Namun pada novel ini, dapat dikatakan bahwa perwatakan cerita yang besar dilihat dari sudut pandang pelaku utama. Dimana cerita berkembang seiring dengan perkembangan waktu dari hari ke hari sesuai dengan lingkungannya, baik dalam arti lingkungan tempat tinggalnya maupun lingkungan ditinjau dari sudut hubungan dalam keluarga Beddu dan masyarakat tempat tinggalnya. Persoalan yang digambarkan adalah pengalaman Beddu bersama para sahabatnya dalam menjaga dan melestarikan hutan di lingkungannya sampai akhirnya dia harus meninggalkan kampung halaman yang dia cintai demi meraih impiannya. Peristiwa yang dialami pelaku utama dalam kurun waktu tersebut digambarkan secara rinci baik peristiwa yang muncul dari lingkungan pemikirannya dan para sahabatnya yang melahirkan sikap atau keputusan maupun peristiwa yang lahir dari lingkungan fisik (tempat tinggalnya) yang dapat merubah nasib mereka semua.

Daftar Pustaka
-         Abdul Rahman, Dul. 2009. Pohon-Pohon Rindu. Yogyakarta: Penerbit Diva Press

-         Alam, Syamsul. 2005. Mengungkap Tabir Seputar Roman, Novel dan Cerpen. Makassar: Zamrud Nusantara.

-         Arifin, Bustanul, dkk. 1986. Sastra Indonesia (Lama, Baru, Modern). Bandung: Lubuk Agung.

-         Bachri, Sutardji Calzoum. 2008. Dari Menghirup Pucuk Mawar Hujan. Pekanbaru: Dewan Kesenian Riau.

-         Junaedi, Moha. 1990. Apresiasi Kesusatraan Indonesia. Ujung Pandang: Pustaka Maspul.

-         Lubis, Mochtar. 1960. Teknik Mengarang. Jakarta: Balai Pustaka.

-         Moeliono, M.Anton. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

-         Saad, Saleh. 1967. Bahasa dan Kesusastraan sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gunung Agung.

-         Sukade, Made. 1987. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

-         Sumardjo, Jakob. 1991. Pengantar Novel Indonesia. Bandung: Remaja Rosda Karya.

-         Sutrisno, Sulastin. 1979. Analisa Struktur dan Fungsi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

-         Tarigan, Henry Guntur. 1991. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

-         Tirtawirya, Putu Arya. 1984. Kritik Sastra Sebuah Antologi. Ende-Flores: Nusa Indah.
-         http://yuditouch.ning.com/profiles/blogs/pohonpohon-rindu-novel-populerFiled under: Novel Ditandai: POHON-POHON RINDU
-         www.darsastra.blogspot.com

Rabu, 01 Februari 2012

LA GALIGO, KARYA SASTRA TERPANJANG DI DUNIA

Kitab sastra La Galigo merupakan kitab sastra klasik Bugis adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Pengakuan ini bukan datang dari orang-orang Bugis (baca: orang Indonesia). Jangankan mengklaim sebagai sastra terpanjang di dunia, orang Bugis sendiri awam dengan La Galigo. Yang mengklaim La Galigo sebagai karya sastra terpanjang di dunia adalah para ilmuwan Belanda.

Seorang ilmuwan Belanda yang bernama R.A.Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan oleh Universiteitbibliotheek Leiden (1939: 1) menempatkan Kitab La Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setaraf dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India, serta sajak-sajak Homerus dari Yunani.

Sejalan dengan pendapat R.A. Kern, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya, Sirtjof Koolhof, berpendapat bahwa Kitab Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai lebih 300.000 baris, sementara epos Mahabarata jumlah barisnya antara 160.000 – 200.000 baris.

Pendapat R.A. Kern dan Sirtjof Koolhof berdasarkan atas 12 jilid naskah La Galigo yang kini berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah tersebut ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa pada abad ke-19 atas permintaan B.F Matthes (1818-1908). B.F Matthes adalah seorang missionaris Belanda yang pernah bertugas di Sulawesi. Sejatinya, Colliq Pujie hanyalah mengumpulkan dan menyalin kembali cerita La Galigo yang sudah mengakar (cerita lisan) pada masyarakat yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi –masyarakat Bugis.

Saat ini sudah muncul buku-buku transliterasi La Galigo atas jasa-jasa para kaum intelektual Sulsel seperti Muhammad Salim, M.Johan Nyompa, Fahruddin Ambo Enre, dan Nurhayati Rahman –mereka patut disebut pejuang La Galigo– Tetapi transliterasi tersebut nampaknya masih susah dibaca dan dicerna oleh masyarakat.

La Galigo, hadir dalam bentuk sebuah novel

La Galigo mengalami ‘perjalanan panjang’. Meski lahir di Tanah Bugis, Indonesia, namun ia ‘besar’ di negeri Belanda. Selain salinan naskah aslinya yang terdiri atas 12 jilid yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, Kitab La Galigo pun menjadi primadona bagi para mahasiswa Belanda untuk melakukan riset sastra dan budaya untuk meraih gelar magister dan doktor.

Setelah pulang kampung ke negeri asalnya, hingar-bingar sebagai karya sastra klasik yang ramai diperbincangkan di negeri orang, namun tidak sebingar di tanah kelahirannya.

La Galigo, yang pada tahun 2011 ini mendapat penghargaan khusus karena badan PBB UNESCO menetapkan naskah klasik La Galigo sebagai warisan dunia dan diberi anugerah Memory of The World (MOW).

Anda yang ingin mengetahui isi La Galigo, silakan dibaca novel “La Galigo” yang diterbitkan oleh Penerbit Diva Press Yogyakarta, Januari 2012

Selasa, 24 Januari 2012

POHON-POHON RINDU

16. ADA JANJI DI BULU PACCING

Secara de facto, aku dan Nia sebenarnya sudah menjadi sepasang kekasih. Tetapi tak sah rasanya kalau kami tidak meresmikan hubungan cinta kami secara lisan. Kami sengaja berjanjian bertemu di sebuah pagi yang indah pada saat hari cerah. Kami berjanji bertemu di Bulu Paccing. Bulu Paccing adalah sebuah bukit yang terletak di sebelah selatan SMU Bikeru. Dari puncak bukit itu kami bisa menikmati indahnya pepohonan yang menghijau di Hutan Lindung Balang. Dari kejauhan di ujung utara nampak Taman Purbakala Batu Pakke Gojeng yang indah. Sebuah pagi yang benar-benar indah. Burung-burung lalu lalang semakin menambah indahnya panorama alam. Cericit unggas pagi yang menunggu mentari pagi menemani kami. Di kaki Bukit Bulu Paccing memang menghampar sawah nan luas. Kami memandang puas. Sengaja kami memilih Bukit Bulu Paccing karena kami ingin agar hutan dan pepohonan menjadi saksi hubungan cinta kami.

Perasaanku deg-degan ketika mulai meraih tangan Nia. Entah mengapa perasaan deg-degan itu tiba-tiba melandaku padahal sebelumnya aku sudah memegang erat bahkan memeluknya di Bukit Gojeng. Mungkin karena saat itu berbeda dengan saat ketika di Bukit Gojeng. Di Bukit Gojeng aku memegang tangannya dan memeluknya untuk menghibur dan menguatkannya dari rasa takut. Sedangkan di Bukit Bulu Paccing aku memegang tangannya sebagai ungkapan mencintainya dalam bahasa non-verbal. Lalu.

Kami berpegangan tangan erat. Hanya itu. Kami tak mau berpelukan apatah lagi berciuman. Kami merasa tak pantas dan tak etis melakukannya. Biarlah setan mencap kami kampungan dalam berpacaran, yang jelasnya kami tak mau kesetanan dalam mengenal dan menyatakan cinta. Sesungguhnya kami hanya ingin menyatakan dan menyatukan perasaan dulu. Tangan kami berdua seolah saling mengaliri api cinta. Api cinta yang tak akan pernah padam meski ditelan misteri waktu.

“Nia! Aku mencintaimu, aku menyayangimu. Aku ingin engkaulah cinta pertama dan terakhirku.”

Aku menggenggam tangannya erat. Ia menunduk. Ia menangis. Mungkin ia menyesal dan kesal. Ia tak bisa mengucapkan ucapan yang sama kepadaku. Karena sebelumnya ia memang berpacaran dengan Hutbah.

“Kakak mungkin tidak percaya, tapi kakaklah laki-laki yang pertama yang benar-benar membuatku jatuh cinta.” Ucapnya memohon supaya aku memahaminya.

“Bagaimana dengan Hutbah?” Aku sedikit menggodanya.

“Kakaklah cinta pertamaku, yang sebelumnya hanyalah….” Kalimatnya menggantung.

“Cinta monyet?”

“Semacam itulah mungkin, Kak?”

“Jadi Nia menganggap Hutbah sebagai monyet? Nanti aku lapor ke Hutbah.”

Aku kian mencandanya. Ia menunduk malu-malu, tapi kakinya refleks menginjak kakiku. Sakit, tapi aku tak peduli, karena rasa cintaku padanya mengalahkan rasa sakit itu. Aku terus menatap wajahnya yang menunduk. Baru saat itu aku benar-benar menikmati kecantikan wajah Nia yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Kecantikannya serupa keindahan pepohonan yang menghiasi Hutan Lindung Balang, keindahan alami, kecantikan alami, keindahan dan kecantikan asasi.

Selanjutnya. Tangan kami berpegangan kian erat. Hati kami seolah terikat. Tak ada lagi sekat. Kami merasa berat untuk berpisah. Setelah kami merasa aliran rasa sayang dari kedua tangan kami sudah cukup menyatu dan bersekutu, akhirnya kami saling melepaskan pegangan tangan. Saat itu bukan lagi tangan kami yang berpegangan tapi hati kamilah yang berpegangan erat, terpahat oleh kalimat, bersahabat dengan adat yang ketat. Hati kami saling berjanji tak akan pernah berpisah. Hati kami tak mau mengikuti jejak kisah. Kisah sedih tentang cinta dan pengkhianatan cinta.

“Dik Nia! Besok kakak harus berangkat ke Ujung Pandang untuk kuliah, dan mungkin lama baru kita bisa berjumpa kembali.”

Aku menatap jauh ke puncak pepohonan Hutan Lindung Balang sambil menunggu reaksi Nia atas kepergianku besok.

“Aku selalu dihati kakak dan kakak selalu dihatiku. Hakekatnya kita tak berpisah Kak. Ketahuilah olehmu Kak, hanya kakaklah laki-laki yang kucinta dan kutunggu.” Jawabnya filosofis tapi kurasakan begitu romantis.

“Kini kakak sangat bahagia, kakak sudah ikhlas pergi jauh mengejar cita-cita untuk menggapai cinta.” Aku sedikit menekan kalimatku, karena memang hanya modal pendidikanlah yang bisa kuandalkan di hadapan Nia dan keluarga Nia.

“Tapi aku berpesan, meski kakak sudah kuliah tetapi tetap harus mencintai hutan, karena hutan dan pepohonan menjadi lambang cinta kita.”

“Hutan adalah cinta kita.” Aku meyakinkannya.

“Kakakku sayang! Aku bersumpah atas nama Bukit Bulu Paccing dan Hutan Lindung Balang, aku tak akan menduakan cinta kakak.” Nia bersumpah tapi ia seperti memohon pada pepohonan.

“Adindaku tercinta! Aku pun bersumpah atas nama pepohonan yang menghiasi Hutan Lindung Balang, aku tak akan mengkhianati cinta adinda.” Aku seperti merajuk pada pepohonan yang mulai menghijau di Bukit Bulu Paccing.

Sejenak kami saling diam. Kami bersama-sama memandang jauh. Memandang jejeran pepohonan yang menghijau di Hutan Lindung Balang. Sesekali mata kami menyapu Bukit Gojeng yang jauh di ujung sana membawa kami pada cerita cinta La Bandu dan Andi Besse. Kami terdiam, tapi hati kami saling berjanji dan berbisik bila kami saling kangen maka cukuplah kami memandang hutan. Hutan rindu. Hutan kenangan. Hutan tunangan.


Aku memang sungguh beruntung karena ayah Nia bukanlah sosok ayah Andi Besse yang setiap ucapannya selalu bertaburan sompa, sabda, dan pemali. Ketika mentari pagi sudah mulai tak bersahabat, kami meninggalkan Bukit Bulu Paccing dengan berpelukan perasaan. Hembusan angin pagi yang sepoi-sepoi membuat pepohonan merunduk ke arah kami, seolah pepohonan memohon pada kami, tak boleh ada pengkhianatan cinta, termasuk cinta pada pepohonan. Cinta pada hutan.

Dul Abdul Rahman, dulabdul@gmail.com (sastrawan, novelis, peneliti, praktisi pendidikan).
Menulis buku:
1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009)
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
6. S a r i f a h (Novel, Penerbit Diva Press Yogyakarta 2011)
7. La Galigo (Novel, Penerbit Diva Press Yogyakarta 2012)

Minggu, 22 Januari 2012

POHON-POHON RINDU

15. TKI, YES! TAPI…

Aku menunggu pengumuman UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dengan harap-harap cemas. Bahkan terkadang aku lemas bila membayangkan tidak lulus nanti. Kalau aku tak lulus UMPTN maka pupuslah sudah harapanku untuk duduk di bangku kuliah pada tahun itu. Orang tuaku tak sanggup membiayai kuliahku bila aku kuliah di Perguruan Tinggi Swasta. Kuliah di PTS memang pembayarannya berlipat-lipat dari PTN. Kala itu, di tahun 1993, SPP di Unhas hanyalah Rp.90.000,- persemester, sedangkan di PTS rata-rata tiga kali lipat dari Unhas. Bukan hanya itu yang membuat para orang tua di kampungku tak semangat bila anaknya kuliah di PTS, karena di kampungku sudah banyak sarjana alumni PTS yang tak punya pekerjaan versi orang kampung. Versi orang kampung, kuliah berarti akan jadi PNS. Jadi jika belum PNS berarti kuliahnya dianggap tidak sukses. Pemikiran yang kurang tepat. Tetapi begitulah pemahaman orang kampung kala itu.

Memang aku tak bisa menutup mata, bahwa banyak sarjana di kampungku yang alumni PTS tertentu back to kampong dengan bekerja dengan imej tak positif sebagai sarjana.
Baron yang alumni Fakultas Sastra di sebuah PTS saat itu membuka kios untuk berjualan di rumahnya bersama isterinya yang juga sarjana dari PTS. Banton yang sarjana Agama lebih memiriskan lagi, ia jadi penjual ikan di pasar, dan bila pergi shalat jumat di mesjid selalu masbuk karena khawatir Sang Khatib absen dan khawatir ia akan ditunjuk sebagai naib. Ataukah Malatta yang alumni Sospol, setiap hari bolak-balik di kampung dengan vespa bututnya dengan mesin yang meraung-raung serupa bunyi mesin penggiling padi. Kata orang, Malatta aktif di MLM(Multi level marketing). Itulah sebenarnya yang meruntuhkan motivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Buat apa membuang-buang uang kalau hanya akan jadi penjual ikan, pedagang kios-kiosan, atau bekerja sebagai MLM. Tapi aku sangat bersyukur, orang tuaku yang tak punya sekolah tinggi-tinggi memiliki pemikiran lain. Ia tak membuat dikotomi PTN dan PTS, intinya anak harus punya pendidikan. Soal peluang kerja tergantung pada individu masing-masing. Banyak juga alumni PTS yang sukses, dan tidak semuanya alumni PTN berhasil. Kalau orang tuaku tak bermaksud memasukkan di PTS hanyalah karena alasan biaya semata.

Jeda antara test UMPTN dengan pengumuman hasil UMPTN berkisar satu bulan. Aku memanfaatkan waktu jeda itu dengan menjadi tenaga harian pemetik cengkeh di kampung untuk membeli baju baru bila jadi kuliah di Ujung Pandang nanti. Bulan Juli-September memang bertepatan dengan musim cengkeh. Kampungku terkenal paling luas kebun cengkehnya. Sayangnya kebun cengkeh yang luas itu milik pejabat-pejabat dari kota kabupaten bahkan dari propinsi. Penduduk setempat kebanyakan hanya jadi tukang petik cengkeh di kampung sendiri. Jadi pembantu di kampung sendiri.

Begitulah, pada awalnya kebun-kebun cengkeh itu milik warga setempat, tetapi sedikit demi sedikit dijual untuk kebutuhan tertentu seperti menikahkan anak, membangun rumah. Pembelinya adalah orang kaya yang umumnya juga adalah pejabat-pejabat dari kota. Warga yang telah menjual kebunnya kepada pejabat kembali bekerja di kebun tersebut tetapi bukan lagi sebagai pemilik tetapi sebagai tukang petik cengkeh dengan gaji harian. Tidak puas hanya sebagai pekerja, warga yang sudah tak punya kebun yang cukup untuk menghidupi keluarganya akhirnya bertransmigrasi ke Tenggara(Sulawesi Tenggara). Begitulah umumnya proses orang Selatan(Sulawesi Selatan) yang berasal dari Kabupaten Sinjai bertransmigrasi ke Tenggara.

Ketika aku lagi asyik-asyiknya memetik cengkeh, ibuku datang memberitahukan bahwa sudah ada pengumuman hasil UMPTN. Ibuku mendapat khabar dari orang tuanya Dayat. Kabarnya Dayat lulus UMPTN. Sayangnya kabar kelulusan UMPTN hanya mengabarkan Dayat seorang, karena informasi datang dari keluarga Dayat di Ujung Pandang yang menelepon ke keluarganya di Kota Sinjai. Dari Kota Sinjai kabar itu sampai ke kampung, di kampung memang kala itu tak ada telepon. Listrik juga belum ada.
Aku menunda pekerjaanku lalu bergegas menuju Sinjai Kota. Teman-temanku seperti Dayat, Anton, Umar dan Hutbah memang menunggu pengumuman di Ujung Pandang. Mereka semua tinggal di rumah keluarganya, sedangkan aku harus banting tulang dulu mencari dana tambahan sebagai tukang petik cengkeh. Tak masalah.

Aku langsung menuju agen koran di sudut Kota Sinjai. Aku deg-degan, pengumuman UMPTN itulah yang akan menentukan nasibku. Kalau aku tak lulus UMPTN berarti aku gagal kuliah dan ujung-ujungnya pasti merantau ke Malaysia. Kegagalan yang paling akan mengharubiru buatku adalah cintaku pada Nia akan kandas. Tak mungkin orang tua Nia mau menerimaku jadi mantu kalau hanya jadi TKI. Satu-satunya jalan untuk berjodoh dengan Nia adalah aku harus punya pendidikan yang tinggi. Memang cuma pendidikan saja yang bisa jadi aset kebanggaanku. Aku tak punya harta dan benda. Ya, pendidikan satu-satunya jalan untuk mengubah jalan hidupku.

Pelan-pelan aku buka halaman koran Harian Fajar yang memuat pengumuman UMPTN, tapi koran itu agak lusuh karena edisi hari sebelumnya, untung saja agen koran itu menyimpan satu eksemplar. Mula-mula aku baca Surah Al-Ikhlas berkali-kali supaya tidak gemetar membolak-balik surat kabar. Nomor testku 293-193647 kucocokkan dengan hasil pengumuman. Kupelototi nomor-nomor test dengan seksama. Mataku tak berkedip, hatiku kian ketar-ketir. Kucari dan kucari nomor testku, nomor test 193646 atas nama Kim Gioan Sie tertera jelas, siapakah gerangan sesudah nomor test nama mandarin yang unik itu? Mansur Laupe dengan nomor test 193649. Berarti nomor test 193647 dan 193648 dinyatakan tak lulus. Apes.

Aku langsung lemas. Tak bisa bernafas. Untungnya aku duduk di kursi yang punya sandaran. Tatapan mataku berkunang-kunang. Lalu ada mendung, kemudian jadi gerimis. Lalu gerimis di mataku menjelma hujan. Kasihan. Aku menangis. Sirnalah semua angan-anganku untuk menyandang predikat mahasiswa, dan kandaslah jua cintaku pada Nia. Aku benar-benar malu, malu pada kedua orang tuaku, malu pada Nia dan orang tua Nia. Aku mengutuk dan meratapi diri sendiri, mengapa aku tak lulus padahal soal-soal UMPTN bisa kujawab dengan mudah. Koran kuangkat tinggi-tinggi untuk menutupi wajahku agar agen koran tidak melihatku menangis, tapi ternyata ia mendengarku terisak-isak. Agen koran bergegas menepuk pundakku sambil mengucapkan sesuatu.
“Dik! Jangan bersedih, kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda, kuliah di Perguruan Tinggi Swasta juga bisa jadi sarjana.”

Aku sedikit terhibur dengan nasehat klise agen koran yang berulang-ulang aku dengar dari orang lain itu. Tapi setidaknya nasehat itu bisa sedikit menahan airmataku yang menderas yang hampir membanjiri Sungai Mangottong dan Sungai Tangka. Sayangnya agen koran itu tidak tahu kondisiku. Aku tak mungkin kuliah di PTS karena alasan biaya. Aku membuka-buka lagi koran, tapi ingatanku sudah tak ada lagi di Sinjai tapi sudah terbang jauh di Malaysia sana. Cuma satu pilihan, aku akan jadi TKI. Aku membayangkan diriku di tengah perkebunan kelapa sawit. Ataukah aku lari terbirit-birit karena takut sama polis Malaysia, atau aku menyabit rumput di halaman rumah Taikong sebagai tukang kebun.

Meski aku tak semangat lagi, aku mencari nomor test Umar dan Hutbah. Tapi entah kala itu aku berniat jahat kepada kedua sahabatku itu. Doaku benar-benar jahat karena aku berharap keduanya juga tak lulus UMPTN. Sebenarnya bukan bermaksud dengki kepada keduanya, tapi posisiku benar-benar tersudut. Kalau sampai mereka berdua lulus, entah dimana aku akan taruh mukaku, nama baikku sebagai bintang sekolah akan ternoda. Alhamdulillah keduanya pun tak lulus. Ucapan Alhamdulillah yang bukan pada tempatnya. Dayat kubayangkan sudah jadi mahasiswa dan menertawaiku yang selalu mengalahkannya di Madrasah Ibtidaiyah dan di SMU Bikeru. Selanjutnya aku mencari nomor test Anton, rupanya Anton juga lulus UMPTN. Aku kian tak berdaya, lemas. Perasaan yang salah, karena aku iri dan dengki dengan keberhasilan teman-temanku. Tapi aku tidak percaya kalau tidak lulus. Soal-soal kujawab dengan mulus.
Sudah satu jam aku duduk membaca koran pengumuman. Agen koran pun seolah memahami perasaanku dan tak mau mengusikku. Entah aku merasa pengumuman itu sangat tak adil. Ataukah pengumumannya yang tak akurat? Aku seperti tidak bisa menerima kegagalanku. Aku mencoba kembali membuka-buka koran dengan pikiran mengada-ada, siapa tahu tiba-tiba dapat mukjizat lalu namaku muncul di atas nama Mansur Laupe. Tiba-tiba aku sedikit menyesali ayahku yang salah memberi nama Beddu Kamase, mengapa bukan Beddu Laupe. Kamase dalam Bahasa Bugis berarti kasihan, sedangkan Laupe berarti beruntung. Apakah namaku yang sial? Tidak. Aku meyakinkan diriku. Menurut ayahku, namaku sangat bagus, Beddu adalah nama Bugis yang berasal dari kata Abdul atau Abdullah yang berarti hamba Allah. Nama Beddu Kamase bermakna hamba Allah yang selalu kasihan. Hamba Allah yang selalu merasa kasihan bila melihat penderitaan orang lain. Aku sedikit terhibur dengan mengutak-atik makna namaku. Meskipun William Shakespeare pernah bilang apalah arti sebuah nama, tetapi nama tetap punya makna bagi yang empunya nama.

Karena mengingat namaku yang bermakna baik dan juga nasehat ayahku, aku menyesal bersedih atas kelulusan Anton dan Dayat, dan sebaliknya bergembira dengan ketidaklulusan Hutbah dan Umar. Aku mencoba menguasai diri, aku beristighfar berkali-kali. Aku mencoba mengingat kata-kata Robert Schuller yang sangat menggugah.

Kegagalan tidak berarti anda gagal…
Namun anda belum berhasil.
Kegagalan bukan berarti tidak mencapai apa-apa…
Namun anda telah memahami sesuatu.
Kegagalan tidak berarti anda harus menyerah…
Namun anda harus mencoba lebih keras.
Kegagalan tidak berarti anda tidak pernah akan berhasil…
Namun anda hanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama.
Kegagalan tidak berarti Tuhan mengabaikan anda…
Namun Tuhan memiliki ide yang lebih baik.

Dan Alhamdulillah, saat itu aku sudah kuat dengan kegagalan itu. Kulihat agen koran tersenyum kepadaku karena ia melihatku sudah mampu tersenyum. Aku bertekad pergi merantau ke Malaysia jadi TKI. Aku akan menabung semua gajiku untuk biaya kuliah, aku tak terlalu berharap untuk lulus UMPTN karena tahun itu saja ketika otakku masih fresh tapi gagal. Tapi aku akan berangkat ke Malaysia dengan membawa semua contoh-contoh soal UMPTN. Aku akan belajar di sela-sela menadah buah kelapa sawit, rencana dua tahun aku jadi TKI. Aku masih punya kesempatan terakhir mengikuti UMPTN, tapi kalau gagal UMPTN masih ada PTS, gaji yang kutabung selama jadi TKI pasti sudah cukup untuk biaya kuliah. Niatku untuk jadi penulis pun tak pernah pupus. Aku akan tulis semua catatan perjalananku sebagai TKI yang kelak bisa kujadikan novel.

Sebelum berangkat ke Malaysia jadi TKI, aku harus menemui Dayat dan Anton untuk mengucapkan selamat atas kelulusannya sekaligus minta maaf atas penyakit hatiku sebelumnya. Aku juga akan menemui Umar dan Hutbah untuk menyemangati keduanya untuk kuliah di PTS saja karena orang tua mereka mampu membiayai kuliah mereka. Aku pikir Umar dan Hutbah tak boleh menunggu tahun-tahun berikutnya seperti aku. Aku takut semangat keduanya untuk kuliah hilang lagi. Aku ingin semua teman-temanku kuliah dan sukses. Yang aku tidak mau temui hanyalah Nia dan orang tuanya. Aku malu pada mereka. Orang tua Nia pasti akan mencapku “Gayanaji”. Aku akan berangkat ke Malaysia dengan sembunyi-sembunyi dari Nia. Tak ada lagi yang bisa kuandalkan dimatanya. Sekarang aku benar-benar seperti kumbang hitam yang akan mencari setetes madu di hutan belantara Malaysia yang ganas. Aku benar-benar tahu diri saat itu. Nia terlalu tinggi untuk kugapai. Aku dan Nia seperti bumi dan langit. Akh duhai kau cinta!

Saat itu aku ingin beranjak, aku ingin berterima kasih kepada agen koran yang memberiku nasehat yang sangat bervitamin. Aku tak akan pernah melupakan nasehat itu “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Aku bangkit dari tempat duduk dengan semangat baru, aku tak mau berlama-lama, aku akan langsung menemui Toke di kampung yang akan membawa TKI ke Malaysia minggu depannya, semoga kedua orang tuaku menerima kenyataan bahwa aku tak lulus UMPTN dan merestui keberangkatanku ke Malaysia.

“Yes!”
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Aku tak boleh berkecil hati. Aku terus membatin.
“TKI, Yes!”
“Kuliah yes, tapi dua tahun lagi.”
“Terima kasih Pak atas nasehatnya tadi.” Aku menjabat tangan agen koran itu dengan kuat. Aku seperti teraliri semangat baru. Jiwa baru.
“Semoga sukses ya!”

Agen koran itu juga menggenggam erat tanganku. Mungkin ia senang melihat anak muda sepertiku yang tak larut dalam kesedihan akibat kegagalan sementara bahkan cepat-cepat menyusung strategi untuk langkah selanjutnya. Aku tersenyum sempurna kepadanya. Tapi tiba-tiba hatiku bergetar lagi, tapi kala itu ada harapan yang tiba-tiba menyeruak ke dalam hatiku tatkala aku melihat ada lembaran pengumuman lain yang berserakan tak jauh dari tempat dudukku. Mungkin halaman surat kabar edisi pengumuman UMPTN yang tercecer. Aku membatin. Tapi belum juga aku mengambil lembaran itu otak kecilku berkata, mana mungkin nomor testku disimpan tercecer, dan nyata-nyata nomorku dilewati pada koran yang telah aku baca.

Aku bergegas menuju Pasar Sentral untuk mencari mobil yang menuju Bikeru, atau langsung ke Kalobba. Lembaran pengumuman UMPTN yang tercecer tetap kuambil dengan iseng-iseng. Sekali lagi aku iseng-iseng mengecek ulang pengumuman. Dan cesss! Hatiku berdebar-debar ketika kudapati nomor test 193646 bukan lagi bernama Kim Goan Sie tapi Abdullah Atong, aku seperti tak percaya tapi kucari lagi sambungannya karena sesudah nomor test dengan nama Abdullah Atong tertulis “bersambung ke halaman 13”. Angka sial? Aku tak peduli. Cepat kucari halaman 13, dan aku tak sanggup menahan diri dengan berteriak-teriak “Allahu Akbar” berkali-kali ketika sambungan pengumuman yang terletak di sebelah kiri atas tertulis jelas nomor test 293-193647 Beddu Kamase. Kulihat agen koran terheran-heran menatapku, mungkin ia menganggapku stress karena tak lulus UMPTN.

Lalu. Aku bergegas kembali ke tempat agen koran seperti semula. Aku belum tahu sesungguhnya aku sadar atau bermimpi. Kuraih halaman koran yang memuat nama Kim Goan Sie. Astagfirullah! Ternyata yang aku baca sebelumnya adalah kelompok IPA yang berkode 193, padahal aku memilih Jurusan Sastra Inggris sebagai pilihan pertama dan Jurusan Sastra Perancis sebagai pilihan kedua yang masuk kelompok IPS yang berkode 293. Aku langsung sujud syukur dengan lembaran koran yang memuat namaku sebagai sajadah supaya aku tak mencium pasir bercampur tanah.

Setelah kujelaskan duduk perkaranya bahwa aku salah baca pengumuman, agen koran langsung merangkulku dan mengucapkan selamat kepadaku. Agen koran pun langsung menghidangkan aku secangkir kopi hangat dan sebungkus roti coklat. Mungkin sebagai ucapan selamat. Tapi aku kurang setuju dengan agen koran itu. Semestinya ia menghidangkan aku minuman untuk menghiburku ketika aku menangis karena menyangka tidak lulus UMPTN. Aku memang tidak suka merayakan sesuatu yang aku anggap pesta pora. Semestinya yang kita bantu dan semangati adalah orang yang susah dan orang gagal. Agen koran mewakili kebanyakan orang Indonesia yang suka berpesta pora tanpa peduli dengan nasib orang kecil. Agen koran memberiku lagi satu pelajaran. Tapi aku sangat salut dan menghargai agen koran itu yang telah menasehatiku, dan memang nasehat yang diberikan tak bisa digantikan oleh secangkir kopi dan sebungkus roti.

Aku bergegas pulang. Aku ingin sekali memberitahu kedua orang tuaku berita yang menggembirakan itu. Di atas mobil aku terus tersenyum. Peduli amat kalau ada penumpang yang menganggapku kurang normal. Aku benar-benar bahagia. Dan telah kucatat dalam buku harianku kebahagian lulus UMPTN adalah kebahagian yang terbahagia dalam hidupku.
…
Ayah dan ibuku memelukku erat ketika mereka tahu aku lulus UMPTN. Bahkan mereka tak bisa menahan rasa haru ketika aku menceritakan pengalamanku ketika melihat pengumuman UMPTN. Tentang angan-anganku merantau ke Malaysia andaikan memang benar-benar tak lulus. Tentang cita-citaku tetap kuliah sepulang dari merantau.

“Tidak mungkin ayah tidak mengirimmu ke Ujung Pandang untuk kuliah Nak. Kalaupun ayah berkata bahwa engkau hanya boleh kuliah di PTN, itu hanyalah motivasi agar engkau benar-benar sungguh-sungguh belajar dengan baik. Andaikan pun engkau tak lulus UMPTN, ayah akan memasukkanmu ke UMI (Universitas Muslim Indonesia), untuk biaya kuliahmu ayahlah yang bermaksud akan berangkat ke Malaysia mencari uang.”

Kalimat ayahku membuatku terharu. Biru.
“Tidak ayah, ayah tak boleh pergi jauh, ayah tak boleh meninggalkan mama, ayah tak boleh meninggalkan kami semua.”
Aku menatap ayah. Kulihat ayahku merenung. Seperti ada yang berkecamuk dalam relung hatinya.
“Sebaiknya ayah tak boleh pergi jauh.” Aku mendura pada ayahku.
“Ya sudahlah Nak. Insyaallah ayah memang tak jadi berangkat ke Malaysia, tapi ayah akan menjual tanah di samping rumah ini yang memang adalah bagianmu kelak kalau engkau sudah dewasa.”

Aku memahami maksud ayahku. Harta warisan yang diperuntukkan buatku kelak akan dijual untuk biaya kuliahku. Berarti pada saat itu, aku tak punya lagi warisan dalam bentuk harta tapi akan berbentuk pendidikan. Jadi kalau aku gagal dalam pendidikan berarti aku tak punya apa-apa lagi untuk masa depanku. Tapi aku sangat senang dengan suasana seperti itu karena aku benar-benar akan lebih fokus kuliah. Sejak saat itu aku semakin yakin, kekurangan diriku, kekurangan keluargaku, sesungguhnya bukanlah kelemahan tetapi kekuatan baru buatku dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh gelombang, tetapi aku yakin selalu ada cahaya gemintang yang ikhlas menyinariku. Pun saat itu aku semakin percaya dengan ayat-ayat Tuhan, “Ada perkara yang manusia suka dan menginginkannya tapi sebenarnya tidak baik untuknya, dan ada perkara yang manusia tidak suka dan tak menginginkannya tapi sebenarnya baik untuknya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”

Aku benar-benar tak rela bila ayahku pergi jauh jadi TKI di Malaysia hanya gara-gara mencari dana tambahan untuk biaya kuliahku. Aku yakin di Ujung pandang nanti aku bisa bekerja sampingan sambil kuliah, tapi itu akan kulakukan setelah tiga semester perkuliahan setelah aku bebas DO (drop out).

Aku sangat terinspirasi mendengar cerita seorang guruku yang menjadi tukang becak sewaktu kuliah dulu. Sengaja ia memilih jadi tukang becak karena profesi itu tidak begitu mengganggu waktu belajarnya sebagai mahasiswa. Katanya, ia bisa belajar di becaknya sambil menunggu penumpang. Pun ia bisa beristirahat sambil tidur di becaknya. Bahkan ia bisa mengayuh becaknya sambil menghafal kosa kata Bahasa Arab atau Bahasa Inggris dengan menuliskan kosa kata tersebut di secarik kertas dan menempelkannya di becaknya. Luar biasa bervitamin pengalaman itu buatku. Tapi aku berniat akan melakukan hal yang berbeda, apalagi kemampuan Bahasa Inggerisku cukup lumayan untuk mengajar privat Bahasa Inggris bagi anak-anak. Pokoknya apapun akan kulakukan yang penting halal untuk pembayaran kuliahku nanti kalau uang dari orang tuaku tak cukup. Yang penting ayahku tak pergi jauh jadi TKI. Aku tak rela kalau ayahku yang sudah mulai menua jadi tenaga kerja kasar di Malaysia. Pun aku sangat tidak rela kalau ibuku kembali harus jadi kaki tangan pedagang dan keliling kampung mencari barang dagangan saban pagi dan sore hari. Pengorbanan kedua orang tuaku sudah sangat luar biasa untukku. Aku merasa sangat berdosa kalau hanya gara-gara aku, ayahku harus jadi TKI.


Dul Abdul Rahman, dulabdul@gmail.com (sastrawan, novelis, peneliti, praktisi pendidikan).
Menulis buku:
1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009)
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
6. S a r i f a h (Novel, Penerbit Diva Press Yogyakarta 2011)
7. La Galigo (Novel, Penerbit Diva Press Yogyakarta 2012)

Selasa, 14 Juni 2011

POHON-POHON RINDU dul abdul rahman (BAB 14. SAVE THE MOTHER! SAVE THE MOTHERLAND)

14. SAVE THE MOTHER!
SAVE THE MOTHERLAND!

Menghadapi ujian akhir sekolah, kami yang duduk di kelas tiga saat itu tak bisa lagi aktif pada acara-acara eksternal Kompita. Maka untuk memperlancar urusan-urusan Kompita, diadakanlah pemilihan ketua yang baru menggantikan Umar. Pemilihan ketua Kompita diadakan di bukit Bulu Paccing yang berada di belakang sekolah kami yang berjarak sekitar tiga ratusan meter. Sengaja kami memilih bukit itu karena paling dekat dari sekolah kami dibandingkan dengan Hutan Lindung Balang atau Bukit Gojeng. Lagi pula, ketua Kompita yang akan terpilih pada saat itu harus fokus menghijaukan Bukit Bulu Paccing.

Tidak seperti waktu rapat penentuan apakah perempuan bisa jadi anggota Kompita yang kala itu Umar dan Hutbah sempat melontarkan gagasan masing-masing. Hutbah kala itu tidak setuju kalau perempuan jadi anggota Kompita, sebaliknya Umar setuju. Maka pada pemilihan ketua Kompita menggantikan Umar tak ada lagi dikotomi antara perempuan dan laki-laki, semua sama saja. Dengan Kompita bukan hanya kami belajar mencintai lingkungan dan hutan tetapi juga belajar berdemokrasi, beremansipasi, memahami, dan menerima saran dan pendapat. Setelah melalui proses demokrasi dan diskusi yang cukup alot laiknya pemilihan ketua partai politik maka terpilihlah Nia sebagai ketua Kompita menggantikan Umar.

Kami mendukung sepenuhnya atas terpilihnya Nia. Sebagai perempuan, Nia mempunyai visi yang visioner. Program pertama Nia adalah memperbaiki sticker baru sebagai ciri khas Kompita era kepemimpinan Nia. Nia mengusulkan stricker baru dalam dua bahasa yang berbunyi “SAVE THE THE JUNGLE SAVE THE WORLD! SAVE THE MOTHER SAVE THE MOTHERLAND!” dan “SELAMATKAN HUTAN SELAMATKAN DUNIA! SELAMATKAN IBU SELAMATKAN IBU PERTIWI!”

Selanjutnya Nia menjelaskan panjang lebar makna sticker barunya, “Ibu dan ibu pertiwi adalah dua hal yang harus disayang karena dari keduanyalah sumber cinta dan kasih sayang yang suci. Seorang anak bila ingin bertumbuh dengan sehat dan cerdas maka ia harus menyusu pada ibu, dan bila anak itu sudah dewasa dan ingin hidup bahagia dan sejahtera maka ia harus menyusu pada ibu pertiwi. Bila ibu dan ibu pertiwi murka maka tidak ada lagi kehidupan. Dan yang paling harus dicamkan oleh semuanya adalah murka ibu dan murka ibu pertiwi merupakan murka Tuhan.”

Kami semua memuji ide-ide Nia yang cerdas. Aku sendiri begitu terpesona dengan gagasan Nia yang begitu menjiwai makna ibu dan ibu pertiwi. Aku kian kagum padanya. Nia benar-benar sosok perempuan yang kelak akan jadi ibu dan menjelma jadi ibu pertiwi.
…
Kami melewati ujian akhir nasional dengan deg-degan. Saat itu Ujian Akhir Nasional, yang kala itu bernama Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasioal (EBTANAS), diujicobakan dengan sistem komputerisasi. Aku sendiri bukan soal ujian yang kutakuti tapi lembar jawabannya yang akan diperiksa oleh komputer. Jangan sampai komputer tak mampu membaca lembar jawabanku.

Kami menjawab soal-soal dengan ekstra hati-hati jangan sampai salah isi. Aku sendiri selalu berdoa agar bisa lulus ujian akhir. Aku memang telah berusaha maksimal dengan belajar keras bukan hanya saat menghadapi ujian tapi setiap saat.
Setelah kami melewati ujiaan akhir, kami benar-benar cemas menunggu detik-detik pengumuman kelulusan tiba. Meski yakin mampu menjawab soal-soal dengan baik, Dayat, Anton, dan aku tetap khawatir kalau-kalau lembar jawaban kami salah isi sehingga tidak lulus. Hutbah dan Umar kelihatan pasrah, tapi keduanya tak begitu resah karena mereka juga sudah belajar keras menghadapi ujian akhir. Mereka selalu bersama kami berlatih menjawab soal-soal pilihan ganda.

Akhirnya tibalah saatnya pengumuman kelulusan sekolah. Tapi saat itu pengumuman bukan ditempel di sekolah tapi di kantor polisi. Jika lembaran pengumuman ditempel di sekolah maka dikhawatirkan siswa yang tidak lulus akan membuat kerusakan, karena memang sudah diprediksi bahwa yang tidak lulus kebanyakan siswa yang malas dan nakal. Kami berlima berencana bila lulus dari sekolah, kami akan langsung menanam pohon pinus atau pohon-pohon lainnya di Bukit Bulu Paccing sebagai ungkapan nadzar. Kami sengaja tidak memilih pagi hari di saat semua teman-teman kami yang lain melihat pengumuman. Di pagi hari, kami berlima mengadakan “ekspedisi khusus” berjalan-jalan ke Hutan Lindung Balang untuk mencari bibit-bibit pepohonan yang akan ditanam di Bukit Bulu Paccing bila lulus Ebtanas. Nanti di sore hari kami akan melihat pengumuman kemudian menuju Bukit Bulu Paccing.

“Nadzar kita kan menanam pepohonan kalau lulus ujian, bagaimana kalau tidak lulus?” Hutbah kelihatan tidak begitu bersemangat mencari bibit pepohonan untuk ditanam karena khawatir tidak lulus.

“Sebaiknya kita lupakan dulu pengumuman sekolah, kita fokus dulu mencari bibit pepohonan.” Dayat menyemangati Hutbah.

“Sebaiknya kita bersegera mencari bibit pepohonan untuk menghijaukan Bukit Bulu Paccing sebelum meninggalkan Bikeru untuk kuliah di Ujung Pandang.” Umar memotivasi seolah-olah kami sudah lulus semuanya.

“Bagaimana kalau ada yang tidak lulus?” Anton sedikit protes dengan ketakabburan Umar yang sudah mengklaim kami akan meninggalkan Bikeru.

“Begini. Masing-masing kita menyiapkan pepohonan yang akan ditanam di Bulu Paccing. Kalau misalnya nanti ada diantara kita yang tidak lulus maka tetap kita kompak berlima ke Bukit Bulu Paccing.” Umar rupanya masih menjiwai jabatannya sebagai ketua Kompita yang kini dipegang Nia.

“Kan kalau tidak lulus, tidak ada kewajiban menanam pohon.” Hutbah keberatan.

“Begini saja. Kita ini kan pemrakarsa Kompita, jadi sebaiknya kita mendukung pendapat Umar. Walau ada di antara kita yang tidak lulus tetapi tetap harus berjiwa besar membawa bibit pohonnya ke Bukit Bulu Paccing. Kalau memang tidak mau menanam pohonnya karena nadzarnya tak kesampaian, kita merelakan teman yang lulus menanam pohon yang kita bawa.” Aku mencoba menengahi.

“Setuju.”

Teman-temanku langsung merespon. Akhirnya kami semangat mencari bibit pepohonan sambil memohon kepada Sang Pencipta pepohonan agar kami semua lulus ujian, lalu mengadakan penghijauan di Bukit Bulu Paccing. Setelah mendapat bibit-bibit pohon kami menuju kantor Polisi Resort Sinjai Selatan di Joalampe. Sekitar lima ratus meter dari kampus SMU Bikeru.

Kami berlima bergandengan tangan erat saat melihat pengumuman. Hutbah yang punya usul agar kami seperti dalam pertandingan sepak bola pada saat adu penalti. Kami berganti-gantian melihat pengumuman. Kesempatan pertama yang mengambil tendangan penalti alias melihat pengumuman adalah Umar, disusul Dayat, Anton, Hutbah, dan terakhir adalah aku.

Kami semua komat-kamit ketika Umar menuju ke papan pengumuman mencocokkan nomor tesnya. Kami terdiam sesaat ketika melihat pandangan Umar kesana kemari dan sesaat menoleh ke arah kami tanpa ekspresi. Lalu.

“Yes!”

Umar berteriak serupa menjebol gawang lawan. Umar lulus ujian. Umar bergabung berpegangan dengan kami. Ia terus tersenyum. Umarlah yang paling bahagia diantara kami. Selanjutnya Dayat maju ke depan. Dayat langsung menatap papan pengumuman sekilas. Dan.

“Yes!”

Dayat langsung sujud syukur. Skor 2-0. Anton maju dengan langkah pasti. Lalu.

“Yes!”

Ia melompat mengacungkan tangan. Skor 3-0. Hutbah bergegas tapi ia kelihatan lemas. Tingkah Hutbah membuat aku deg-degan, ketiga temanku sudah sumringah tapi mereka menahan perayaan kemenangan karena Hutbah dan aku belum melihat pengumuman. Ketika Hutbah mundur ke arah kami, kami terdiam karena Hutbah tidak punya ekspresi apa-apa. “Hutbah tidak lulus.” kami membatin. Tapi ketika Hutbah tiba ke tempat kami semula ia langsung mengangkat bibit pohonnya tinggi-tinggi.

“Yes! Pohon-pohon kesuksesan.”

Hutbah ternyata bercanda. Keempat temanku sudah berpesta karena mereka yakin kami sudah lulus semua. Mereka berpikir aku tidak mungkin tidak lulus.
Aku maju melihat pengumuman. Tapi hatiku tetap deg-degan. Kalau sampai aku tidak lulus, aku pasti akan jatuh pingsan. Aku mencocokkan nomor tesku. Lalu. Aku terdiam. Dan aku mendadak lemas. Dan jatuh di depan papan pengumuman. Kulihat teman-temanku berlarian ke arahku. Tidak ada suara dan tawa dari mereka. Mereka mengerumuniku. Hutbah langsung memelukku sambil menangis. Umar langsung memberiku air putih supaya aku minum. Dayat dan Anton tak bisa berkata apa-apa. Mereka tak percaya dengan kenyataan itu bahwa aku tak lulus ujian. Ketika kulihat dua orang polisi mendekati kami bermaksud menolong kami yang tidak lulus ujian. Aku langsung bangun mengambil bibit pohonku dan langsung mengangkat tinggi-tinggi.

“Allahu Akbar! Hidup pohon cinta! Hidup pohon kenangan! Hidup pohon kemenangan!”

Dayat, Anton, dan Umar geleng-geleng kepala. Hutbah kelihatan lemas dan malu-malu karena ia barusan menangis, pun aku mengalahkan aktingnya. Akhirnya kami merayakan kemenangan fantastik dengan skor 5-0. Polisi yang berjalan ke arah kami tadi akhirnya berbalik arah sambil mengomel.

“Dasar anak-anak nakal!”

Kami tak menghiraukan omelan Pak Polisi.

Kami bergegas ke Bukit Bulu Paccing memenuhi nazar kami. Kami merayakan keberhasilan lulus ujian dengan mengadakan penghijauan. Kami menanam pohon-pohon kemenangan. Tapi kami tetap ikut prihatin karena kami mendengar kabar bahwa ebtanas saat itu benar-benar naas. Hampir seluruh SMU di Sinjai bahkan Sulawesi Selatan anjlok dalam tingkat kelulusan. Di SMU Bikeru sendiri tingkat kelulusan hanya mencapai tiga puluh persen. Di kelas kami, dari empat puluh siswa hanya sepuluh yang lulus. Dan perjuangan kami anak-anak Kompita benar-benar mulus. Semua anggota Kompita dinyatakan lulus ujian.


Dul Abdul Rahman, dulabdul@gmail.com (sastrawan, novelis, peneliti, praktisi pendidikan).
Menulis buku:
1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009)
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)

Sabtu, 04 Juni 2011

POHON-POHON RINDU dul abdul rahman (BAB 13 FALSAFAH HIDUP)

13. FALSAFAH HIDUP

Kalau aku tipe yang tak percaya kepada segala macam bentuk takhyul atau tempat-tempat keramat. Atau tidak takut kepada parakan, karena memang aku adalah lepasan sekolah agama. Sebelum melanjutkan pendidikan di SMU Bikeru Sinjai, aku bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri(MTsN) Tanete Bulukumba. Sebelumnya aku sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Swasta(MIS) Buludatu Kalobba Sinjai Tellulimpoe.

Dari belajar ilmu agama di Madrasah itulah, aku menangkap banyak filosofi-filosofi hidup yang sangat bermakna dalam perjalanan hidupku. Ayat Al-Qur’an yang selalu terngiang-ngiang di telingaku adalah Surah Ar-ra’d ayat 11 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat itu menjadi stricker di kamarku, tapi supaya lebih keren aku menuliskannya dalam Bahasa Inggris yang berbunyi, “VERILY, ALLAH WILL NOT CHANGE THE CONDITON OF A PEOPLE AS LONG AS THEY DO NOT CHANGE THEIR STATE THEMSELVES.”

Kadang-kadang ada temanku yang berkunjung ke rumahku dan masuk di kamarku lalu membaca stickerku. Rata-rata mereka menganggap stickerku tidak gaul dan tidak keren, tapi aku cuek saja. Mungkin temanku itu tak bisa menangkap saripati makna dari ayat tersebut. Memang saat itu teman-teman sekampungku yang merasa gaul mempunyai sticker yang rata-rata gaul menurut versi kebanyakan anak muda kala itu. Dayat punya sticker ‘Bongkar’ di samping poster Iwan Fals yang memang sedang menyanyi. Mungkin yang dinyanyikan memang lagu berjudul ‘Bongkar’. Di kamar Anton tertulis ‘Lorong Hitam’. Entah apa yang dimaksud Anton karena dinding kamarnya ternyata bercat putih bersih, tapi disamping sticker itu ada poster grup musik Slank dengan segala ke-slengean-nya. Umar sebagaimana ekspresi jiwanya kala itu tertulis ‘Preman 77’ disamping sticker itu ada poster Ikang Fawzi dengan gaya khas musik roknya mengikat kepalanya dengan pita sambil mengepalkan tangan, mungkin maknanya adalah ‘Sang Preman’ Umar kelahiran 1977. Untung saja sticker itu hanya di kamarnya saja bukan menempel di tasnya karena Pak Chaeruddin sudah pasti akan merazianya. Hutbah seperti biasa ia membuat sticker yang berbau cinta-cintaan. Di kamarnya tertulis ‘Tembang Lara Dukanya Cinta’. Sticker Hutbah mirip judul lagu dangdut. Kala itu memang Hutbah suka lagu-lagu Hamdan ATT. Rambut Hutbah mirip dengan rambut Hamdan ATT, tapi di bawah sticker itu terdapat poster Nike Ardilla dan Desy Ratnasari dalam berbagai pose yang menantang adrenalin kaum Adam. Jujur kuakui bahwa ada juga satu poster Nike Ardilla yang memakai kerudung putih terpampang di kamarku. Mungkin poster itu diambil di Bulan Suci Ramadhan. Poster Nike Ardilla kutempel di kamarku sejak aku mengenal Nia. Asal tahu saja, bias kecantikan Nike Ardilla melekat jelas di wajah Nia. Mata Nike Ardilla dan mata Nia serupa mata bidadari yang siap melumpuhkan keegoisan kaum lelaki. Aku juga selalu menebak-nebak bunyi sticker yang tertempel di kamar Nia. Mungkin stikernya berbunyi ‘Kumbang jelek itu ternyata sayapnya kuat dan cerdas’. Lalu disamping sticker itu terdapat gambar kumbang dan gambar Rony Sianturi, salah satu personil kelompok musik trio libels. Teman-temanku terkadang menganggapku mirip Rony Sianturi, sayangnya aku berkulit hitam karena terbakar oleh nasib yang membuatku banyak bergumul dengan sawah dan hewan ternak sewaktu masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah dulu. Sejak kecil aku banyak di sawah membantu ayahku sekaligus jadi pengembala ternak yang sudah dipakai membajak sawah. Tak salah memang kalau Nia menyebutku kumbang hitam jelek. Gelar kerbau hitam pun layak aku sandang, karena aku mantan pengembala kerbau.

Supaya mempunyai keseimbangan hidup, aku memadukan surat Ar-ra’d itu dengan Surah Ibrahim ayat 7 yang berbunyi: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah ni’mat kepadamu, dan jika kamu mengingkari ni’mat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Aku pun menuliskannya dalam Bahasa Inggris di kamarku yang berbunyi, “IF YOU GIVE THANKS, I WILL GIVE YOU MORE; BUT IF YOU THANKLESS, VERILY, MY PUNISHMENT IS INDEED SEVERE.”

Soal ayat mensyukuri nikmat itu, Umar pernah protes sambil bercanda kepadaku. Kata Umar, tidak semua nikmat harus disyukuri terutama bagi perempuan. Ketika aku tanya nikmat apa yang tak perlu disyukuri, Umar menjawab, “Lelaki tidak boleh bersyukur dengan satu isteri, karena nanti Tuhan akan menambahkannya.” Aku tertawa saja karena pemahaman agama Umar memang pas-pasan. Lagi pula ia sudah tertular endemik kelucuan Dayat dan Anton. Sayangnya ia tidak tahu rumus bercanda.

“Laki-laki yang mempunyai isteri harus bersyukur supaya Allah memberikan rezeki yang melimpah berupa anak-anak yang sehat dan pintar, serta harta yang berkecukupan. Tak boleh berburuk sangka!”

Aku memberi penjelasan pada Umar. Ia hanya manggut-manggut. Semoga saja penjelasanku nyangkut di hatinya, bukan nyangkut di otaknya yang memang gampang diobrak-abrik oleh beragam gagasan yang tak bertanggung jawab. Aku juga jelaskan padanya bahwa tak boleh asal bercanda. Bercanda juga punya rumus dan etika. Bercanda sesungguhnya hanyalah untuk mengurangi ketegangan urat syaraf saja. Bahan candaan cukuplah tema yang ringan-ringan, serta tidak ada pihak yang dirugikan karena candaan itu. Candaan harus bebas dari unsur SARA (Suku, Agama, dan Ras).

Karena dua ayat di atas kusatukan jadi satu motto, aku tak suka dengan pendapat orang yang menurutku agak pesimis lalu mengatakan “Syukuri saja apa adanya.” Motto itu tidak cocok bagi orang yang belum berusaha maksimal. Menurutku kita harus berusaha keras dulu menggapai sesuatu yang dicita-citakan. Apapun hasilnya yang penting sudah berusaha sungguh-sungguh maka harus disyukuri. Aku ingat dengan pelajaran agama di Madrasah Ibtidaiyah dulu yang mengatakan bahwa manusia harus berusaha sekuat tenaganya. Usaha adalah ibadah, beribadah harus sungguh-sungguh, tapi manusia harus tahu bahwa ada usaha manusia yang memang bersifat sunnatullah. Yang sunnatullah itu langsung bisa dilihat hasilnya seperti; kalau kita belajar giat hasilnya kita akan pintar, kalau kita rajin berolah raga hasilnya badan kita akan sehat, kalau kita menjaga kelestarian hutan maka kita akan terhindar dari bencana alam seperti banjir bandang dan longsor. Shalat lima waktu bukanlah sunnatullah, maka kalau kita shalat belum tentu akan kaya secara materi, karena memang pahala shalat akan dibalas oleh Allah di hari akhirat kelak. Tapi kalau kita tidak shalat berarti kita menggali lubang neraka untuk diri sendiri karena seluruh yang bernyawa pastilah akan mati.

Untuk benar-benar menyeimbangkan pola hidupku, aku juga menempel sticker kertas di meja belajarku tentang Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, “TUNTUTLAH DUNIAMU SEAKAN-AKAN ENGKAU AKAN HIDUP SELAMANYA, DAN BERIBADAHLAH UNTUK AKHIRATMU SEAKAN-AKAN ENGKAU AKAN MATI BESOK.” Sebuah penyemangat yang benar luar biasa bagiku. Aku menyempurnakan stickerku dengan puisi “Doa” Chairil Anwar.

TUHAN!
DI PINTUMU AKU MENGETUK,
AKU TIDAK BISA BERPALING.
…
Selain belajar ilmu agama, ayahku juga mengajari aku pencerahan-pencerahan budaya lokal Bugis-Makassar, meski sekolahnya hanya sampai Sekolah Rakyat atau SR(Sekarang SD), ayahku bisa baca tulis aksara lontara dengan baik. Lontara adalah aksara asli Bahasa Bugis dan Makassar.

“Begitulah Nak, engkau harus menjadi pribadi yang menyenangkan supaya orang lain senang kepadamu. Engkau harus memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran leluhurmu dalam bergaul. Yang kamu harus pahami dan implementasikan dalam hidupmu diantaranya adalah nilai alempureng (kejujuran), amaccang (kearifan), asitinajang (kepatutan), agettengeng (keteguhan), reso (usaha) serta siri’ (harga diri).”

“Apakah nilai-nilai itu tidak bertentangan dengan agama dan konsep negara kita, Ayah?” Aku menyelidik. Aku takut pengetahuan agamaku dikacaukan oleh konsep budaya setempat serta mengurangi rasa kebangsaan yang sudah mendarah daging dalam tubuhku.

“Tidak anakku, nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita adalah hasil ramuan dari ajaran atau keyakinan nenek moyang serta ajaran Islam. Pun nilai-nilai itu semakin menguatkan nilai-nilai kebersamaan kita sebagai anak bangsa.”

Aku benar-benar tercengang dengan penjelasan ayahku. Meski ia hanya tamatan SD, tapi gaya bicaranya serupa guru PMP(Pendidikan Moral Pancasila, kini bidang studi PKN) di sekolahku.

Ayahku melanjutkan penjelasannya dengan sesekali batuk-batuk, tapi sungguh aku tak pernah mengantuk mendengarnya. Aku mencatatnya baik-baik dalam buku diary khusus yang aku beri tulisan di sampulnya “Pappaseng” (Pesan-pesan). Aku juga mencatatnya dalam Bahasa Bugis tapi versi latin, bukan versi lontara. Di antara nilai-nilai kearifan yang tertera dalam Lontara yang aku harus pegang teguh dalam pergaulan yang aku catat baik-baik itu adalah

Pertama. Kejujuran (Alempureng). Konsep itu berbunyi, “Eppai’i gau’na lempu’naa risalaie naddampeng, niparennuangie temmaceko bettuanna risanresi teppabeleang, temmangoangenngi tania olona, tennaseng deceng rekko nassamarini pudecengngi.” (Ada empat perbuatan jujur: 1.memaafkan orang yang berbuat salah padanya, 2.dipercaya lalu tidak curang, artinya disandari lalu tidak berdusta, 3.tidak serakah kepada yang bukan haknya, 4.tidak memandang kebaikan kalau hanya buat dirinya).

Kedua. Usaha (Reso). Konsep itu berbunyi, “Resopa temmangingi namalomo naletei pammasena dewata sewae.” (Usaha yang sungguh-sungguh disertai keikhlasan yang mendapat ridha Allah Yang Maha Esa).

Ketiga. Harga diri (Siri’). Aku membuat beberapa catatan tentang konsep siri’ diantaranya adalah “Naiya tau matanre siri’e tenna pujiwi minreng, tenna puji toi mellau.” (Orang yang memiliki harga diri itu tidak suka mengutang dan meminta-minta). Bila mengingat poin ketiga itu, aku sangat malu dengan negaraku yang konon katanya setiap bayi yang dilahirkan sudah menanggung utang. Kasihan!

Selanjutnya aku mencatat nilai-nilai kearifan tentang konsep kebaikan yang berbunyi: “Iya ritu decengnge kui mompo ri lempue. Naiya tomalempue ripujiwi ri Allah Taala, narielori ri tolinoe. Apa’nakko malempu’ki, mangkau’ madecengngi ri padatta tau. Naiya gau’ madecengnge ripogau’, nakko tetallei decenna ri aleta, kupasi ri ana’ta, ri wija-wijatta talle decenna. De’ pura-pura tenna pakkecappakiwi deceng Alla Taala tau mangkau’ madecengnge, enrengnge to malempu’e. Naiya gau’ bawangnge, enrengnge cekoe, narekko tetallei ja’na riidi’, kupasi ri ana’ta, ri wija-wijata talle ja’na. Apa’ de pura-pura nakulle tenna cappakeng ja’ gau’ bawangnge, enrengnge cekoe.” (Adapun kebaikan itu, muncul dari sifat kejujuran. Adapun orang jujur, dikasihani oleh Allah Taala, serta disukai oleh sesamanya manusia. Sebab jika kita jujur dan berbuat baik kepada sesama manusia, maka perbuatan baik itu balasannya kalau bukan kepada kita sendiri adalah kepada anak dan turunan kita. Tidak mungkin Allah Taala tidak membalas kebaikan dan kejujuran. Begitu juga sifat kesewenang-wenangan serta keculasan, jika tidak nampak kejelekannya kepada kita, maka dampaknya kepada anak dan keturunan kita. Sebab tidak mungkin perbuatan kejelekan itu tidak berakhir dengan kejelekan, yang diakibatkan dari sifat kesewenang-wenangan dan keculasan.

Sebagai penutup buku diary pappaseng, aku mencatat tiga filosofi kehormatan yang terkenal dengan istilah tellu cappa atau tiga ujung kehormatan. Lelaki Bugis hanya akan disegani dan dihormati bila menjaga tiga ujung kehormatan tersebut.
Pertama. Menjaga ujung lidah. Tidak berkata kecuali yang benar. Tidak berjanji kecuali untuk ditepati. Tidak memerintah kecuali apa yang diperintah sanggup dikerjakan sendiri, artinya mampu jadi teladan. Simpulannya, satunya kata dengan perbuatan.

Kedua. Menjaga ujung keris. Demi harga diri, nyawalah taruhannya. Lelaki Bugis tidak boleh mencari musuh, tapi jika musuh datang menghampiri, tidak boleh mundur meski hanya selangkah. Filosofi yang kedua itu banyak disalahartikan, padahal intinya hanyalah menjaga kehormatan diri, menjaga kehormatan keluarga, bangsa dan negara, filosofi itu juga bermakna rasa nasionalisme yang tinggi.

Ketiga. Menjaga ujung kemaluan. Tidak boleh berzina, tidak boleh berhubungan dengan isteri orang lain. Dan yang paling penting, harus punya turunan yang baik-baik untuk kelangsungan generasi.

Suatu ketika teman-temanku berkunjung ke rumahku. Hutbah iseng-iseng membuka buku diaryku yang berjudul Pappaseng yang memang aku menganggapnya bukan catatan rahasia. Ia langsung berujar
“Sepertinya buku ini berisi jampi-jampi untuk mendapatkan cewek.” Aku menjawab seadanya

“Ya benar, pelajari saja baik-baik isinya!”

Dayat, Umar, dan Anton juga berebut untuk membacanya. Aku tersenyum-senyum. Entah apa yang ada dibenak Dayat dan Anton, belum mau pacaran tapi ikut-ikutan kasak-kusuk mencari jampi-jampi penakluk perempuan. Tapi aku kira sikap Dayat dan Anton normal-normal saja.

“Mana mantra-mantranya Beddu?” Umar penasaran.

“Baca semua isi pappaseng itu lalu amalkan semuanya, pasti kau akan menjadi orang yang baik dan disegani pula, sehingga kau akan disukai oleh cewek.”

Semua tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasanku. Tapi Hutbah kelihatannya lemas dan berguling di kasur. Aku geleng-geleng kepala. Hutbah sepertinya tidak menyadari kelebihannya bawaannya, fisik yang cakep serta warisan yang menggunung, untuk apa pakai mantra segala. Andai ia bisa memahami pappaseng di atas, ia benar-benar bahagia dunia dan akhirat.
…
Buku diaryku yang berjudul Pappaseng termasuk buku yang aku bawa setiap hari ke sekolah. Setiap aku membaca dan mendapatkan kata-kata bijak aku selalu menuliskannya dalam buku diary Pappaseng. Karena aku suka belajar Bahasa Inggris, aku suka kata-kata bijak Mahatma Ghandi yang berkaitan dengan tenses (bentuk-bentuk waktu). Bentuk waktu dalam Bahasa Inggris hanyalah tiga, yaitu Present Tense(waktu sekarang), Past Tense(waktu lampau), dan Future Tense(waktu yang akan datang), bentuk-bentuk waktu lainnya hanyalah pengembangan dari tiga bentuk ini.

Mahatma Ghandi mengatakan “Yesterday is Past, Tomorrow is Future, Today is Present. So enjoy your present!” (Kemarin adalah masa lalu, besok adalah masa depan, sekarang adalah hadiah. Maka dari itu, nikmatilah hadiahmu!). Sekarang aku baru mengerti mengapa hadiah itu dalam Bahasa Inggris disebut ‘present’. Hadiah bukan yang kemarin(Past) yang memang sudah lewat dan tinggal angan-angan belaka. Hadiah bukan pula besok(Tomorrow) yang belum pasti kedatangannya. Ataupun kalau datang belum tentu menjadi hadiah buat kita. Hadiah adalah hari ini. Ya hari ini. Makanya “Never put off until tomorrow” (Jangan menunda sampai hari esok), karena hari esok belum tentu milik kita. Aku membuka halaman berikutnya buku Pappaseng karena seolah-olah Mahatma Ghandi berteriak kepadaku “Buka sekarang juga bukumu Beddu, jangan belagu! jangan tunggu besok!”

Di halaman terakhir dari halaman diaryku yang sudah terisi kudapati kata-kata yang sangat bergizi yang kian mengipas-ngipas sayapku sebagai kumbang untuk terbang menggapai langit-langit kesuksesan. Meski pernah diteriaki sebagai kumbang jelek oleh seorang perempuan, tapi teriakan itu kian memanas-manasi sayapku untuk terbang meninggalkan jejak kenangan yang tak bermakna. Kata-kata bergizi itu seperti kudengar dan kulihat langsung dari mulut tokoh pergerakan Pakistan, Muhammad Iqbal. “BERAPA LAMAKAH KAU AKAN TETAP MENGGELEPAR MENGGANTUNG DI SAYAP ORANG? KEMBANGKAN SAYAPMU SENDIRI DAN TERBANGLAH LEPAS SERAYA MENGHIRUP UDARA BEBAS DI TAMAN LUAS.”


Aku tersenyum puas. Benar-benar puas. Seolah aku berada di negeri antah berantah. Kiyai Haji Ahmad Marsuki Hasan datang mengelus imanku. Mahatma Ghandi memberiku tongkat kebijaksanaan. Dan Muhammad Iqbal mengepakkan sayapku. “Yes, aku bisa!” Aku berjanji pada diri sendiri.

Dul Abdul Rahman, dulabdul@gmail.com (sastrawan, novelis, peneliti, praktisi pendidikan).
Menulis buku:
1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009)
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)
5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)